Pendidikan 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tahunya cuma yes dan no

Pelajaran bahasa inggris di smtp dan smta masih memprihatinkan. mahasiswa pun sulit menguasai bahasa itu. ada yang lancar dan fasih, ternyata mereka mengikuti kursus-kursus. departemen p & k membenahi.

i
DEBAT menggunakan bahasa Inggris di kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, pekan lalu, yang diberi nama "1990 Intercollegiate Debating Championship of all Java and Bali", menjadi menarik. Lantaran di situ ketahuan, ternyata mahasiswa yang lancar menggunakan bahasa asing itu adalah mereka yang sejak di SMTA mengikuti bermacam kursus. Jika mereka mengandalkan pelajaran di kelas formal saja, mustahil berhasil baik. Begitu sulitkah belajar bahasa Inggris? Bagi Lika Effendi, 19 tahun, memang sulit. Pelajar kelas III A-2 SMA Bhayangkara Medan itu mengaku tak tahu apa-apa. "Apalagi ngomong Inggris," katanya polos. Keluhan Lika adalah keluhan anak-anak SMA pada umumnya. Padahal, dalam Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) yang dikeluarkan Departemen P dan K tahun 1987, disebutkan tujuan pengajaran bahasa Inggris kepada siswa SMTA, antara lain, agar siswa mampu membaca dan mengerti teks bahasa Inggris. Namun, sistem pengajaran bahasa Inggris di SMTA saat ini, menurut Drs. Suratno, Ketua Jurusan Bahasa Inggris Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra IKIP Yogyakarta, dalam prakteknya tidak jauh berbeda dengan sistem pengajaran 20 tahun yang lalu. Menurut Suratno, ketika diterapkan translation method, hasilnya tidak memuaskan. Kemudian diganti reading method, juga tak berhasil. Diganti lagi dengan oral approach, juga gagal. "Sekarang diterapkan communicative approach. Tapi dalam prakteknya tetap saja guru-guru bahasa Inggris mengajar sebisanya, dengan metode campur baur," kata Suratno. Suratno menuding pelajaran grammar dan structure, yang paling banyak mendapat porsi, sehingga siswa bosan. "Mereka tidak melakukan improvisasi ketika berhadapan dengan siswa di kelas. Karena bentuk penyampaian yang monoton dengan materi yang itu-itu saja, siswa menjadi bosan," katanya. Masalah jam pelajaran, menurut Suratno, juga merupakan faktor penyebab gagalnya pengajaran bahasa Inggris di SMTA. "Minimal 12 jam seminggu siswa memperoleh pelajaran bahasa Inggris," katanya. Pada prakteknya, setiap minggu hanya memperoleh 3 sampai 4 jam. Juga, banyaknya siswa di setiap kelas bisa dijadikan hambatan. Dulunya sekitar 20 siswa, sekarang lebih dari 50 siswa. Dalam penelitian yang dilakukan Direktorat Pendidikan Menengah Umum (PMU) pada 1980, keluhan Suratno itu memang telah terbukti. Bahkan ditambah dengan kurangnya guru yang memenuhi syarat. Penelitian PMU itu menunjukkan, guru bahasa Inggris di SMA yang berijazah sarjana keguruan hanya 2,7 persen. Sedangkan di SMP, guru mata pelajaran itu yang berijazah sarjana muda keguruan tercatat 2,6 persen. Artinya, kurang dari 3 persen, guru bahasa Inggris di SMP dan SMA yang memenuhi syarat. Tes sampling di kelas III SMP di seluruh Indonesia pada 1980 juga menunjukkan nilai rata-rata untuk bahasa Inggris hanya 5,34. Pelajaran bahasa Inggris di SMP, yang kemudian disambung di SMA, menurut Anton Hilman, salah satu pengasuh pelajaran bahasa Inggris di TVRI, memang kurang bisa diterapkan secara praktis. Masyarakat harus realistis bahwa di negara kita banyak bahasa daerah, dan pengaruh itu ada. Supaya maju, "siswa harus kursus. Dan jangan tergesa-gesa. Harus sabar," katanya. Kemampuan berbahasa Inggris, menurut Khairil, guru bahasa Inggris yang mengajar di lima SMA swasta di Medan, tidak ditentukan oleh hebatnya kurikulum. Biasanya murid yang pintar selalu dibantu kursus. Bila tidak, "tamat SMP tahunya cuma yes dan no. Setamat SMA bisanya cuma I don't know," kritik Khairil. Latar belakang ekonomi keluarga juga mempengaruhi. Sebagai contoh, Khairil menunjukkan perbandingan kemampuan murid di sekolah tempat ia mengajar. Di SMA Tunas Kartika I Medan, yang latar belakang muridnya dari keluarga mampu, tingkat nilai bahasa Inggris 4-9. Sedangkan di SPG dan SMEA Muhammadiyah Medan, nilainya sangat jelek. "Malah banyak yang nilainya 1 dan 2," katanya. Menurut Stephanus Hadi Sukamto, guru bahasa Inggris SMA De Brito Yogyakarta, belajar bahasa Inggris tak perlu muluk-muluk. Guru bahasa Inggris harus sebanyak mungkin menggunakan bahasa Inggris di kelas. Kalimat-kalimat perintah yang sederhana, misalnya, minta izin, minta maaf kalau datang terlambat, hendaknya menggunakan bahasa Inggris. "Itu harus dilatih setiap kali guru bahasa Inggris mengajar," kata pria yang sudah 35 tahun menjadi guru bahasa Inggris itu. Sejak dua tahun lalu, Departemen P dan K sudah mengadakan survei untuk mencari masukan bagaimana membenahi benang kusut pengajaran bahasa Inggris di sekolah. Hasilnya, kini sedang digodok dengan penanggung jawab IKIP Semarang, IKIP Malang, serta Direktorat Pendidikan Menengah Umum. "Harapannya, survei itu bisa mengubah kebijaksanaan Departemen P dan K tentang pengajaran bahasa Inggris di sekolah tingkat menengah, agar lebih efektif dan efisien, dan mengarah pada proses belajar yang lebih komunikatif," kata Winarno Hami Seno, Direktur Pendidikan Menengah Umum. Selama ini, menurut Winarno, sistem pengajaran bahasa Inggris di sekolah lanjutan lebih diarahkan untuk membantu anak-anak bisa memahami tulisan dalam bahasa Inggris. "Tapi dilihat dari perkembangannya hingga sekarang ini, ternyata tidak saja pada kemampuan pemahaman. Mestinya, selain dituntut bisa menulis, juga dituntut mampu bicara," katanya. Gatot Triyanto, Moebanoe Moera, Ida Farida, dan Mukhlizardy Mukhtar

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836332362



Pendidikan 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.