Media 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Janji baru dari sydney

Setelah konflik indonesia-australia mereda. the sydney morning herald akan membuka kembali biro smh di jakarta. ternyata disetujui, asal secara bertahap. smh akan berhati-hati menulis tentang indonesia.

i
LUKA antara Indonesia dan Australia sudah kering betul nampaknya. Setidaknya, itu yang dirasakan John Alexander, Pemimpin Redaksi The Sydney Morning Herald (SMH), seusai bertemu Menteri Penerangan Harmoko pertengahan April lalu. Ada apa? "Alexander menanyakan kemungkinan untuk menghidupkan lagi biro SMH di Jakarta," kata Harmoko pada TEMPO. "Dan jawaban saya adalah no problem." Pertengahan April 1986, SMH, yang beroplah 270 ribu itu umumnya beredar di Kota Sydney dan sekitarnya -- memuat tulisan panjang tentang Indonesia, yang antara lain dianggap telah bicara buruk tentang Presiden Soeharto dan keluarganya. Tulisan, tersebut, malangnya, sempat menguak sebuah luka besar dalam hubungan RI-Australia. Alkisah, akibat tulisan itu, kedatangan sembilan wartawan Australia yang bermaksud meliput kunjungan Presiden AS Ronald Reagan ke Bali, akhir April 1986, ditolak. Beberapa wartawan mereka yang ingin meliput pertandingan Piala Thomas di Jakarta juga urung karena tak mendapat izin. Waktu itu, boleh dibilang, Jakarta sepi dari wartawan yang mewakili penerbitan apa pun dari jiran kita di selatan. Sampaipun, kunjungan 180 pelancong yang ingin ke Bali dari negerinya Rebecca Gilling tak urung ditolak oleh imigrasi di bulan April itu. Luka mulai mengering setelah setahun kemudian Menlu Australia (waktu itu) Bill Hayden datang ke Indonesia. Hanya beberapa bulan kemudian, James Dalmeyer dari Australian Associated Press (AAP) diizinkan bekerja di Jakarta. Kantor berita swasta tersebut, yang berpusat di Sydney, agaknya dianggap tak tercatat pernah menjelek-jelekkan Indonesia. Pelan-pelan, ketegangan antara kedua pemerintah mulai mereda. Wartawan Australia, yang memang terkenal kritis terhadap Indonesia, mulai dibolehkan masuk ke sini, meski sekadar meliput peristiwa singkat di Jakarta. Contohnya adalah kunjungan Menlu Gareth Evans pada Oktober 1988 lalu, yang sempat membawa rombongan 17 wartawan dari berbagai media di Australia. Kehangatan Pemerintah Indonesia semakin terlihat pada saat dua peristiwa pertemuan informal tentang Kamboja (JIM), yang banyak diliput oleh pers Australia. Termasuk oleh wartawan SMH Louise Williams. Ditambah lagi kunjungan enam hari Pangab ABRI Try Sutrisno Juli tahun lalu, dapat disimpulkan bahwa jabat tangan antara kedua negara ini nampak semakin normal. Agaknya, hubungan yang mulai menghangat ini telah memberi ide kepada John Alexander, 38 tahun, untuk betul-betul mengeringkan luka yang berawal dalam korannya. Selama kunjungan empat hari Ali Alatas di Australia, awal Maret tahun lalu, Alexander memang tak sempat bertemu dengan Menlu RI itu. Baik sewaktu pertemuan informal dengan sejumlah redaktur senior di Sydney, maupun ketika Alatas bicara di depan National Press Club di Canberra, yang terkenal sebagai "kandang macan". Tapi Pemred SMH itu, yang baru menduduki jabatannya selama tiga tahun, sempat bicara sebentar lewat telepon dengan Alatas. "Menlu Alatas mengundang saya ke Jakarta," tutur John Alexander pada TEMPO di Jakarta, melalui sambungan jarak jauh, Senin malam pekan ini. Maka, setelah sembilan bulan mencari waktu yang tepat, Alexander berhasil menemui sejumlah menteri dan pejabat militer RI, pertengahan April silam. "Selain dengan Menteri Alatas dan Harmoko, saya juga menemui Fuad Hassan, Dirjen PPG (waktu itu) Janner Sinaga, Kapuspen Brigjen. Nurhadi, dan Kepala Staf Umum Mabes ABRI Laksdya. Soedibyo Rahardjo," ujar Alexander lagi. Kepada semua pejabat tersebut, Alexander menyatakan keinginannya untuk membuka biro SMH seperti sediakala. "Dan pada prinsipnya mereka semua setuju, tapi secara bertahap." Arti "bertahap" di sini adalah dengan memberi visa izin meliput yang lebih panjang, barang lima atau enam minggu, untuk wartawan SMH, dalam hal ini Louise William. "Louise sudah pernah beberapa kali ke Indonesia dan bahkan pernah belajar di Jakarta. Ia bisa berbahasa Indonesia," kata John Alexander, bangga. Alexander berharap, Louise William akan diterima sebagai koresponden biro SMH di Jakarta awal 1991. Lantas, apa kiat SMH untuk tak lagi mengulangi luka lama? "Tentu saja kami tak akan membuka luka lama," jawab Warren Osmond, 42 tahun, yang baru tiga tahun menjabat Redaktur Luar Negeri SMH. "Dulu memang tekanan tulisan kami lebih ke politik. Kini, saya kira, kami harus pula meliput hal-hal lain seperti ekonomi, sosial, dan budaya. Dan kami akan berhati-hati sekali dalam penulisan berita tentang Indonesia," tutur Osmond, yang sudah tujuh tahun bergabung dengan harian yang tahun depan akan genap berusia 160 tahun itu. Dubes Australia Philip Flood tentu saja termasuk salah seorang yang turut senang jika biro tersebut kelak dibuka. "Saya percaya, tulisan pers tentang Indonesia akan lebih mempererat hubungan kita. Soalnya, laporan saya tentang Indonesia cuma dibaca Menlu dan aparatnya, tapi tulisan pers -- apalagi yang sebesar SMH -- akan dibaca ratusan ribu orang," kata duta besar yang pengantin baru belum lama ini. "Sudah sekitar 60 wartawan Australia yang ke Indonesia dalam setahun ini. Dan setiap kali mereka datang, saya selalu wanti-wanti agar mereka menyajikan tulisan yang berimbang. Dan bukan cuma soal Timor Timur," kata Dubes Flood. Leila S. Chudori dan Yudhi Soeryoatmodjo

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836147147



Media 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.