Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya
text

Iklanisme

Kebenaran datang dan pergi dengan lekas, sekejap menyala sekejap padam, seperti senter di tangan seseorang yang lari dikejar.

i Iklanisme
Iklanisme

KINI kebenaran—yang sesekali datang—seperti tak bisa menapak tanah. Tak berjejak.

Saya kira itu sebabnya orang berbicara tentang “pasca-kebenaran”. Kebenaran datang dan pergi dengan lekas, sekejap menyala sekejap padam, seperti senter di tangan seseorang yang lari dikejar.

Ya, kita tengah hidup dalam akselerasi: makan, kerja, bepergian, berpikir, kian dipercepat. Sambung-menyambung. Produksi, distribusi, konsumsi dilecut rasa takut kedaluwarsa. Agaknya tak salah bila T.S. Eliot mengatakan, inilah zaman “siklus gagasan dan tindakan yang tak putus-putusnya, penemuan dan eksperimen yang tak pernah henti”.


Tentu harus dicatat bahwa ini mungkin rasa gundah seorang konservatif—dan Eliot memang suka menampilkan diri demikian. Kata-katanya saya kutip dari The Rock, sebuah drama puisi yang ia tulis untuk memenuhi pesanan panitia yang mengumpulkan dana bagi pembangunan 45 gereja di pinggiran London di tahun 1934.

161813584642

Eliot—sebagaimana umumnya penulis yang melayani pesanan—tak begitu bangga dengan The Rock. Karya yang dipesan dengan tenggat tertentu, katanya, hanya menghasilkan suara berisik dan parau “seperti yang terjadi ketika mobil kehabisan baterai”.

Memang ada yang seperti kehabisan baterai dalam drama puisi ini: serangkaian petuah yang hanya bisa menggugah orang Kristen yang malas. Tapi, dalam banyak hal, di situ juga pandangan hidup penyair besar abad ke-20 itu dikemukakan—lengkap dengan keluh-kesahnya.

Di zaman ini, tulis Eliot, tentang masanya, yang kita dapatkan hanya “pengetahuan tentang gerak, bukan tentang hening”. Pengetahuan diperoleh, namun kearifan hilang; informasi diperoleh, namun pengetahuan tersisih.

Where is the wisdom we have lost in knowledge?

Where is the knowledge we have lost in information?

Menarik, bahwa yang dipertanyakan Eliot masih punya gaung, seabad kemudian. Informasi adalah kunci, kata semboyan abad 21—dan kita pun ditunjukkan gejala yang sudah umum diketahui: data yang kian deras di dunia maya. Kita kecanthol pesan WA, Instagram, Twitter, FB, sur-el, dan entah apa lagi.

Tapi sebenarnya bukan informasi yang jadi kunci, melainkan tafsir. Saya kenal orang-orang yang mengesankan serba tahu tentang pelbagai hal—dan gemar memamerkannya. Percakapan dengan mereka tak pernah asyik. Bagi mereka, “mengetahui” adalah supremasi atas yang “tak mengetahui”—yakni lawan bicara. Informasi jadi tafsir pintar atas data dan fakta, dan ditafsirkan lagi sebagai tanda keunggulan.

Ada beda antara “informasi” dan “pengetahuan”. Pengetahuan adalah informasi yang sudah dicerna dan diresapkan, seperti nutrisi. Ketika Eliot bertanya, “di manakah pengetahuan yang telah kita lenyapkan dalam informasi”, ia menggugat ketika informasi hanya dihimpun—sesuatu yang diukur secara kuantitatif—dan tak diubah jadi pengetahuan, yang hanya bisa dijajaki secara kualitatif. The Rock adalah suara kesal ketika kearifan, wisdom, tak didapat dari semua itu.

Dari mana kearifan datang?

Menjadi “arif” tak sama dengan “mengetahui”. Kearifan tumbuh dari pengalaman, yang mengajarkan bahwa pengetahuan adalah proses yang tak (belum) sempurna. Kearifan tumbuh karena kepekaan akan batas, dan batas yang paling tak terabaikan adalah sesama manusia.

Adapun orang lain di sini hadir dalam hubungan—untuk memakai kata-kata Martin Buber—antara “Aku-dan-Dikau”, Ich und Du. Kearifan tumbuh ketika orang lain aku pandang sebagai “Dikau”, bukan sebagai obyek. Ketika liyan bukan sasaran, melainkan sebuah potensi kebenaran-melalui-percakapan.

Menarik bahwa The Rock menyebut “kearifan”, bukan “kebenaran”. Dalam pandangan Eliot, yang mengaku menganut iman “Anglo-Catholic”, kebenaran adalah “Sabda”, the Word, bukan words, seperti disebutnya dalam The Rock. Kebenaran agung, tunggal, universal, bukan sesuatu yang beraneka ragam dan relatif. Maka tak perlu disebut dan dipersoalkan lagi.

Di tahun 1930-an itu belum ada pengertian “pasca-kebenaran”, tapi Eliot sudah menegaskan kebenaran (dengan “K”) tak datang dan pergi. Kebenaran bukan buah “pengetahuan tentang gerak”, knowledge of motion, melainkan “tentang hening”, of silence.

Tapi—dan ini yang tak disebut—tak dengan sendirinya yang kita dapatkan keheningan. Para penganjur Kebenaran, para penjunjung sang Sabda, bisa sangat berisik. Mereka ketularan abad ke-21—abad yang digeruduk informasi dan tafsirnya, dan juga kata, gambar, bunyi yang memikat, menular. Semua digerakkan kapitalisme.

Saya menyebutnya “iklanisme”.

Dalam iklan, kata, rupa, dan suara berduyun-duyun memperlakukan sesama sebagai sasaran, bukan sebagai “Dikau”, bukan partner dalam percakapan. Iklanisme membangun kebenaran dari repetisi dan hiperbol: “Aku yang paling hebat, nomor satu, paling hebat....”

Dusta telah dihilangkan rasa bersalahnya—seperti kita dengar dalam agitasi politik, agama, dan Donald Trump. Retorika “iklanisme” membuktikan bahwa benar yang dikecam Plato dalam Gorgias: para juru masak kata mengolahnya bukan dengan seni, tapi dengan kecerdikan. Tujuan: merayu dan menyenangkan para pendengar—bukan untuk kebenaran.

Mungkin waktu itu Plato sudah cemas melihat kebenaran tak berjejak. Seperti sekarang.

GOENAWAN MOHAMAD

Reporter Goenawan Mohamad - profile - https://majalah.tempo.co/profile/goenawan-mohamad?goenawan-mohamad=161813584642


Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.