Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

"Kami Coba Hentikan Keterlibatan AS di PRRI"

i
GEORGE Benson yang satu ini bukan penyanyi jazz, bukan pula pemilik restoran yang gemar makan enak. Bobot tubuhnya memang terkesan lebih dari 100 kilogram, sehingga membuat orang mudah curiga pada selera makannya. Dengan perawakan jangkung setinggi 2,1 meter, orang pun bisa mengira, jangan-jangan Benson pemain NBA. Padahal, dunia lelaki berusia 76 tahun ini sesungguhnya jauh dari musik, restoran, atau basket. George Benson adalah seorang kolonel Angkatan Darat Amerika Serikat yang pernah 35 tahun mengabdi dalam dinas ketentaraan. Dan Indonesia bukan wajah baru baginya. Ia pernah bolak-balik bertugas di Jakarta selama sembilan tahun. Pertama kali datang ke Jakarta pada 1956, George Benson masih berpangkat mayor dan menjabat sebagai assistant army officer di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta hingga 1959. Tiga tahun kemudian, ia kembali lagi ke Jakarta. Kali ini, Letkol Benson mendampingi Duta Besar Howard P. Jones sebagai asisten khusus dubes (1962-1965). Masa dinasnya yang ketiga dan terakhir di Jakarta (1969-1972) adalah ketika ia menjadi atase militer saat Kedubes AS di Jakarta dipimpin Dubes Frank Gilberth. Selama sembilan tahun bermukim di Jakarta, Benson menjalin hubungan baik dengan para petinggi TNI, khususnya perwira Angkatan Darat. Para jenderal yang tewas di Lubangbuaya adalah kawan-kawannya. Sedangkan Jenderal Ahmad Yani adalah sobat seiring sejalan selama bertahun-tahun. Persahabatannya dengan para perwira Angkatan Darat ini tidak retak—bahkan setelah Amerika ketahuan menyokong gerakan PRRI/Permesta (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia/Perjuangan Semesta Alam: 1957-1959), Benson pula yang menjelaskan kepada pihak militer Indonesia tentang "insiden Allen Pope". Pada 18 Mei 1958, sebuah pesawat Amerika yang dikemudikan Allen Pope ditembak jatuh oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) di atas perairan Ambon. Peristiwa ini bukan saja menjadi titik balik yang sangat menentukan bagi gerakan PRRI/Permesta, tapi sekaligus menyingkap peran Amerika. Adalah CIA (Central Intelligence Agency, dinas rahasia Amerika) yang mengatur keterlibatan Amerika dalam PRRI—sebagai implementasi politik Amerika yang mencegah merajalelanya Blok Timur di Indonesia. Sebelum ditempatkan di Jakarta, George, yang lulusan Akademi Militer West Point, bertugas di beberapa negara Asia, antara lain di pangkalan militer Amerika di Filipina. Di sana, Benson muda bergabung dengan pasukan Sekutu di kawasan Asia Pasifik yang dipimpinan Douglas MacArthur, jenderal Amerika nan legendaris itu. Kini, di usia tuanya, Benson mendiami sebuah rumah yang tenang di pinggiran Washington bersama keluarganya. Sesekali, ia masih mengunjungi Indonesia dalam tugasnya selaku konsultan minyak dan gas. Masa-masa dinasnya di Indonesia sudah lama berlalu, tapi kenangan akan tahun-tahun itu masih terang-benderang dalam ingatannya. Wartawan TEMPO Setiyardi dan Hermien Y. Kleden serta fotografer Robin Ong menemuinya di Hilton Jakarta, Oktober lalu, untuk sebuah wawancara khusus. Petikannya:

Mengapa pemerintah Amerika Serikat terlibat dan membantu gerakan PRRI/Permesta ?

Harus diingat, pada masa itu kita bicara dalam konteks tahun 1950-an—ketika pertentangan antara Blok Timur dan Blok Barat masih begitu pekat. Ketika itu banyak operasi militer berbau politik seperti di Afrika, Amerika Selatan, dan lain-lain. Nah, dukungan Amerika untuk gerakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) harus dilihat dalam konteks tersebut. Dalam gerakan PRRI, ada beberapa perwira militer Indonesia yang mendukung, antara lain Kolonel Simbolon, Ahmad Husein, A.E. Kawilarang, dan H.N. Ventje Sumual. Orang-orang itu percaya bahwa mereka harus melindungi daerah mereka dari propaganda Sukarno.

Di mana Anda berada ketika itu? Sebagai "bagian resmi" dari pemerintah Amerika Serikat di Indonesia, apakah Anda juga terlibat dalam kasak-kusuk mendukung gerakan PRRI?

Kebetulan saya sedang bertugas di Jakarta sebagai perwira militer di Kedutaan Besar Amerika Serikat. Usia saya masih sangat muda, 35 tahun. Soal keterlibatan? Ini hal yang sulit dijelaskan. Pada mulanya, saya tidak tahu apa-apa. Sebagai perwira militer di Kedutaan Besar Amerika, saya bahkan tidak tahu bahwa negeri kami terlibat dalam pemberontakan PRRI.

Kok bisa? Sebagai wakil resmi militer AS di Indonesia, mengapa Anda sampai tidak tahu keterlibatan negara dalam sebuah gerakan militer di tempat tugas?

Kedutaan Amerika memang menghindarkan saya dari segala informasi tentang PRRI. Mereka sengaja menahan semua berita tentang PRRI dari saya. Akhirnya, ketika Allen Pope—seorang pilot Angkatan Udara Amerika—tertembak dan jatuh di Ambon pada 18 Mei 1958, baru saya mulai mengerti keadaan yang sesungguhnya. Saya lalu menemui Howard P. Jones (Duta Besar Amerika untuk Indonesia) guna menanyakan mengapa mereka menyembunyikan semua informasi tentang keterlibatan Amerika dalam PRRI dari saya. Padahal, Jones pasti mengetahui peristiwa tersebut.

Bagaimana jawaban Duta Besar Jones?

Mereka menganggap saya terlalu dekat dengan pihak Angkatan Darat (Indonesia). Agaknya, mereka tidak ingin saya membocorkan keterlibatan Amerika kepada Indonesia. Boleh jadi juga karena mereka ingin "melindungi" saya. Ketika itu saya, kan, masih muda sekali.

Apakah Anda merasa "ditinggalkan" oleh para sejawat di kedutaan karena "perlindungan informasi" ini?

Pasti. Juga ada rasa kecewa. Sebagai perwira militer, pada prinsipnya saya tidak setuju dengan keterlibatan Amerika—di bawah koordinasi Central Intelligence Agency (dinas rahasia Amerika) itu.

Mengapa tidak setuju? Bukankah bantuan kepada PRRI adalah bagian dari skenario politik luar negeri Amerika yang mencegah berkuasanya Blok Komunis di Indonesia?

Saya pikir, langkah itu sangat kontroversial. Hubungan Indonesia dan Amerika--termasuk hubungan militer—sangat baik pada masa itu. Pihak Amerika, misalnya, memberikan beasiswa pendidikan dan latihan kepada beberapa perwira TNI di Amerika. Nah, di antara perwira yang kita didik itu ada yang kemudian terlibat gerakan PRRI, yaitu Boike Nainggolan. Kita, kan, tidak ingin mengirim orang belajar, lalu kembali terlibat gerakan pemberontakan.

Setelah tertembaknya Allen Pope, tak ada lagi yang menyembunyikan informasi dari Anda?

Tentu. Pope tertembak dan jatuh di Ambon di tengah usahanya mengebom Pelabuhan Ambon. Tak lama kemudian, ia datang ke Jakarta. Dia berobat di Rumah Sakit Angkatan Laut dekat Kebayoran. Ketika saya membesuknya, Pope tergeletak. Kakinya dibebat karena luka-luka. Kami mengobrol banyak hal. Saya bertanya tentang mengapa ia bisa tertembak jatuh, juga tentang operasi yang sedang dilakukan Amerika di Indonesia. Pope menjawab: "Kita (Amerika) mendukung gerakan PRRI." Ambon adalah daerah pertempuran saat itu. Jadi, Pope menembak lawan-lawannya. Kalau masalah dukungan senjata, saya tidak tahu persis.

Berapa jumlah pesawat yang mendukung gerakan itu?

Saya mengasumsikan ada beberapa pesawat. Namun, saya tidak tahu pasti. Yang paling tahu, tentu saja Allen Pope sendiri. Setelah ia tertembak, ia dinyatakan bersalah dan dipenjara di Jakarta selama dua tahun. Setelah ia dipenjara, kami praktis tidak bertemu lagi.

Apa sikap Kedubes Amerika di Jakarta setelah tertembaknya Pope?

Kami berusaha sekuat mungkin untuk menghentikan keterlibatan Amerika. Tak lama setelah peristiwa itu, CIA pun menghentikan dukungannya terhadap PRRI.

Keterlibatan Amerika diatur CIA—sebagai sebuah dinas agen rahasia. Memangnya kedutaan punya wewenang untuk menghentikannya?

Kami harus melakukan apa yang bisa kami lakukan. Dan kami menganggap keterlibatan itu harus segera diakhiri. CIA adalah suatu lembaga yang banyak melakukan operasi rahasia. Bahkan, siapa tahu, sekarang CIA sedang beroperasi diam-diam di Indonesia.

Sebenarnya, apa latar belakang sikap Amerika terhadap pemerintahan Sukarno—dalam hubungan dengan dukungan mereka terhadap PRRI?

Sejauh yang saya ingat, hubungan Jakarta-Washington ketika itu sedang memburuk. Hal ini disebabkan komunisme di Indonesia makin kuat. Seluruh dunia sedang dilanda suasana Perang Dingin antara Blok Timur dan Blok Barat yang kian memuncak. Washington punya kepentingan agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunis (Pada awal 1957, Menlu AS John Foster Dulles—saudara kandung Direktur CIA Allen Dulles—memberi instruksi kepada Dubes AS untuk Indonesia sebagai berikut: "…Jangan biarkan Sukarno sampai terikat pada kaum komunis. …Di atas segala-galanya, lakukan apa saja yang dapat Anda lakukan agar Sumatra—pulau penghasil minyak—tidak sampai jatuh ke tangan komunis,"…seperti yang dikutip Barbara Sillars Harvey dalam bukunya, Permesta: Pemberontakan Setengah Hati).

Apakah pihak Kedutaan Amerika kemudian menemui Sukarno?

Tidak. Saya hanya berdiskusi dengan kalangan militer.Kepada saya, pihak TNI menanyakan bagaimana peristiwa yang sesungguhnya. Saya menjelaskan sesuai dengan yang saya ketahui. Beberapa tahun kemudian, dalam kunjungan ke Jakarta, Presiden Kennedy bernegosiasi dengan Jakarta untuk membebaskan Allen Pope.

Apa betul Pope menjadi indikasi keterlibatan Amerika di PRRI? Jangan-jangan dia cuma "petualang" seperti yang disebut pemerintah AS?

Pope (saat itu berumur 20 tahun) resmi tercatat sebagai pilot Angkatan Udara Amerika yang sedang bertugas di Jakarta. Ia menerbangkan pesawat B-25. Ia juga tercatat sebagai anggota perkumpulan perwira di Pangkalan Militer Clark, Filipina.

Menurut Anda, apakah peristiwa PRRI bisa diartikan sebagai standar ganda sikap Amerika terhadap Indonesia?

CIA yang mengatur keterlibatan itu. Lembaga ini memang sering melakukan operasi intelijen di seluruh dunia. Misi mereka kadang berhasil, kadang gagal. Operasinya bisa bersifat sangat rahasia, walau kadang-kadang cukup terbuka.

Pada 8 September 1957, Kolonel Barlian mengumumkan "Deklarasi Palembang"—yang isinya sangat berbau Amerika—seperti desentralisasi, pelarangan komunisme, dan pembentukan senat. Apakah CIA juga berada di belakang kejadian ini?

Terus-terang, saya tidak pernah tahu dengan operasi-operasi CIA (di Indonesia). Tapi Barlian jelas tidak terlibat dalam PRRI.

Sebagai seorang perwira muda, apa yang terbersit di pikiran Anda tatkala mengetahui keterlibatan AS dalam gerakan PRRI?

Saya berada di Indonesia untuk menjalankan suatu tugas, yakni bertanggung jawab terhadap program pendidikan dan latihan militer untuk anggota TNI di Amerika. Program yang diberi nama IMET (international military education and training) itu berlangsung dengan sukses. Ahmad Yani, S. Parman, D.I. Panjaitan adalah beberapa nama di antaranya. Tugas ini, antara lain, membuat saya dekat dengan banyak kalangan di Angkatan Darat Republik Indonesia. Setelah keterlibatan Amerika itu terbuka, saya berada pada posisi yang cukup sulit.

Apakah hubungan Anda dengan para perwira AD berubah setelah itu?

Tidak berubah. Kami tetap berhubungan baik. Mereka bahkan tidak menaruh curiga kepada saya. Setiap hari saya masih rutin berhubungan dengan mereka.

Anda dikenal dekat dengan Ahmad Yani Cs. Apakah karena hal itu mereka dikirim ke Amerika?

Tentu saja tidak. Yang berangkat adalah perwira-perwira yang telah melewati sebuah seleksi superketat. Kalau berhasil dalam serangkaian seleksi ini, baru mereka dikirim ke Amerika Serikat. Pendidikannya berlangsung selama satu tahun. Setelah pulang, rata-rata mereka mengajar di Seskoad (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) di Bandung.

Mengapa Gerakan PRRI begitu mudah dipatahkan—kendati didukung CIA?

Mungkin karena TNI memiliki banyak orang pintar seperti Ahmad Yani.

Atau, mungkinkah karena keterlibatan itu tidak serius?

Saya tidak bisa mewakili CIA untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi, setahu saya, yang mereka cari adalah kesempatan. Saat itu Jakarta semakin dekat dengan negara-negara komunis. Sukarno kian erat dengan Nikita Kruschev (Sekjen Partai Komunis Uni Soviet 1958-1964) dan Ho Chi Minh (Pemimpin Besar Revolusi Vietnam 1954-1969). Hubungan ini memang sangat mencemaskan Washington.

Apakah CIA juga terlibat dalam peristiwa G30S yang berhasil menggulingkan Presiden Sukarno ?

Kami, masyarakat Amerika, amat terkejut dengan kejadian itu. Tapi, CIA tidak terlibat dalam peristiwa G30S itu. Saya sangat marah karena teman-teman baik saya seperti Yani, S. Parman, Panjaitan, Haryono, dan Suprapto mati terbunuh. Ini kekejaman yang luar biasa dan tidak bisa diterima akal sehat. Masyarakat Amerika percaya bahwa dalang peristiwa tersebut adalah pihak komunis.

Kami mendengar bahwa CIA mengirimkan "jaket kuning" untuk mahasiswa Universitas Indonesia dalam aksi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) 1966. Benarkah?

Saya tidak yakin dengan hal itu.

Tentang hubungan dengan Jenderal Yani, seberapa erat pertemanan Anda berdua?

Baik sekali. Kami memang cocok sebagai sahabat: sama-sama cerdas, sama-sama ganteng, dan he-he-he…, sama-sama mudah membuat kagum lawan jenis. Kami saling mengundang makan. Dan sering mengobrol berjam-jam—walau tidak saling membicarakan pekerjaan. Pada masa Indonesia makin dekat ke poros komunis, Yani—yang sangat antikomunis—amat prihatin. Kalau bertemu, kami sama-sama tahu situasi prihatin itu, tapi kami tidak mendiskusikannya.
Yani tidak bilang apa-apa. Paling-paling dia katakan: "...Ya, beginilah situasinya sekarang.…" Itu saja. Setelah itu pembicaraan beralih ke hal-hal lain.

Bagaimana profil Yani di mata Anda?

Dia perwira yang brilian, sangat dinamis, karismatis, dan sangat profesional. Yani adalah "Mister Number One". Dia juga nasionalis sejati. Saya sangat terpukul oleh kematiannya.

Ini sedikit menyimpang, tapi boleh tanya, mengapa Anda jadi tentara?

Kakak saya bersekolah di Akademi Militer West Point. Suatu hari, saya berkunjung ke sana. Seketika itu juga saya yakin, inilah tempat saya. Syukurlah, saya memperoleh kesempatan itu dan kemudian menempuh karir di dunia militer. Saya bangga menjadi orang militer dan amat mencintai West Point. Apabila ada panggilan negara—biarpun usia saya sudah lebih dari 70 tahun—saya akan segera mengenakan seragam militer saya. Saya tidak berpretensi agar orang melakukan apa yang saya lakukan. Tapi saya telah mengabdi sebagai tentara selama 35 tahun. Dan sikap saya tentang "panggilan militer" tidak pernah berubah.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836327721



Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.