Monitor 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jakarta Menolak Talak Tiga

Warga Jakarta tidak yakin penduduk Aceh ingin sungguh-sungguh bercerai dengan Indonesia. Mereka pun percaya referendum bukan jalan keluar terbaik bagi Aceh.

i
PRESIDEN Abdurrahman "Gus Dur" Wahid memang terkenal suka bicara blak-blakan. Ketika ditanya apa sikapnya terhadap tuntutan referendum rakyat Aceh, dengan santai Gus Dur menjawab oke-oke saja kalau referendum diadakan di Negeri Serambi Mekah itu. Kiai Presiden ini yakin bahwa masih banyak warga Aceh yang ingin tetap bersama Indonesia. Artinya, kalaupun referendum diadakan, yang pro-Indonesia pasti akan menang. Padahal, kalau melihat orang yang menyemut di pekarangan Masjid Baiturrahman Banda Aceh, Senin pekan lalu—yang menurut Sentra Informasi Referendum Aceh (SIRA) jumlahnya mencapai 2 juta orang, walau sumber lainnya menyebut jumlahnya jauh kurang dari angka itu—berpisahnya Aceh dari Indonesia seperti sudah di depan mata. "Dua juta itu belum separuh [penduduk Aceh]. Saya tahu rakyat Aceh, kok," kata Gus Dur, kalem. Keyakinan Gus Dur ini tampaknya sejalan dengan sikap warga Jakarta yang menjadi responden jajak pendapat TEMPO, pekan lalu. Hampir separuh responden percaya, kalaupun referendum diadakan, penduduk Aceh bakalan tetap memilih bersatu dengan Indonesia. Inikah optimisme Jawa—wilayah yang selama ini dipandang orang Aceh sebagai "pusat" yang kerap menyengsarakan? Entahlah. Tapi kalau melihat karakternya, responden memang punya "jarak" fisik dan psikologis yang cukup dengan persoalan rakyat Aceh. Di satu sisi, "jarak" ini mengakibatkan tertanamnya keyakinan akan perlunya Aceh tetap berada dalam pangkuan Republik. Analoginya seperti kepala—sebagai bagian dari tubuh—yang tidak ingin kehilangan bagian tubuh lainnya seperti jari tangan atau kaki. Di sisi lain, jarak itu mengakibatkan pemahaman orang Jakarta terhadap problem Aceh jadi tidak lengkap. Penderitaan Aceh yang menumpuk selama bertahun-tahun kurang terselami. Fakta ini tampak ketika kepada responden diajukan enam pertanyaan untuk mengukur pengetahuan mereka tentang perkembangan terakhir di Aceh. Sebagian besar menjawab tidak tahu atau tidak tahu dengan persis. Artinya, yang mereka tahu adalah ada warga Aceh yang marah dan kemudian meminta referendum, tapi detail persoalannya luput dari perhatian. Di luar itu semua, dan dengan pengetahuan yang terbatas, responden umumnya menilai bahwa referendum bukan pemecahan masalah terbaik bagi Aceh. Hanya sebagian kecil dari responden yang menghendaki penentuan pendapat itu dilakukan di sana. Bagi responden, referendum Aceh dapat menjadi preseden bagi daerah lain untuk meminta solusi yang sama. Harap maklum, tuntutan merdeka dari daerah sekarang bak jamur di musim hujan. Ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi yang puluhan tahun ditanam Soeharto kini telah sampai pada musim panen. Ancaman tuntutan kemerdekaan, atau paling tidak federasi, segera datang dari Riau, Irianjaya, dan belakangan Kalimantan Timur. Jadi, responden menduga jika tuntutan referendum Aceh dituruti akan muncul efek domino ke daerah lain. Pilihan yang diajukan responden sebagai alternatif solusi adalah pemberian otonomi luas. Sikap ini konsisten dengan penelitian serupa yang pernah dilakukan TEMPO Agustus silam dengan populasi yang sama. Artinya, semangat Jakarta untuk mempertahankan Aceh itu ternyata tidak berubah. Di mata pengamat politik Arief Budiman, solusi Aceh memang terletak pada bagaimana kepercayaan orang Aceh terhadap Jakarta dibangun. Mantan aktivis mahasiswa tahun 1966 ini yakin, jika sekarang dilakukan referendum, rakyat akan memilih kemerdekaan. Tapi, jika saja pemerintahan Gus Dur bisa membuka dialog dan meyakinkan bahwa pemerintah Jakarta sekarang berbeda dengan era Soeharto atau Habibie dulu, hasilnya mungkin lain. "Gus Dur harus menunjukkan bahwa Jakarta bisa dipercaya," kata Arief. Jadi, sekarang persoalan memang kembali kepada Gus Dur dan pasukannya. Tidak ada kata terlambat, meski tuntutan merdeka sudah meluap-luap dan kepercayaan rakyat Aceh terhadap pemerintah sudah sampai titik terendah. Artinya, seperti pendapat responden jajak pendapat ini, talak tiga antara Jakarta dan Aceh memang tidak boleh terjadi.

Arif Zulkifli


INFO GRAFIS
 
Menurut Anda, apakah referendum merupakan keputusan terbaik?
Tidak56%
Ya15%
Tidak tahu29%
 
Jika tidak, mengapa?
Akan mengakibatkan daerah lain juga meminta referendum75%
Referendum belum tentu membawa kebaikan bagi Aceh62%
Referendum dapat mengakibatkan disintegrasi bangsa53%
Aceh cukup diberi otonomi luas53%
* Responden bisa memilih lebih dari 1 jawaban
 
Jika ya, mengapa?*
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa62%
Agar Aceh dapat menentukan nasibnya sendiri57%
Agar rakyat Aceh tidak kecewa38%
Referendum bagi rakyat Aceh adalah harga mati22%
* Responden bisa memilih lebih dari 1 jawaban
 
Jika referendum diselenggarakan di Aceh, menurut Anda, apa hasilnya?
Aceh tetap menjadi bagian Indonesia46%
Aceh lepas dari Indonesia21%
Tidak tahu33%
 

Apakah Anda mengetahui tempat atau peristiwa di Aceh berikut ini?
PeristiwaTidak tahuTidak tahu persisTahu
Penembakan warga Meulaboh38%45%17%
Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum Aceh39%40%22%
Kampung Janda50%36%14%
Gus Dur memerintahkan agar Pangdam Bukit Barisan diperiksa berkaitan dengan penembakan Teungku Bantaqiah55%33%12%
Teungku Bantaqiah52%34%14%
Bukit Tengkorak49%36%15%

Metodologi jajak pendapat ini:

  • Penelitian ini dilakukan oleh Majalah TEMPO bekerja sama dengan Insight. Pengumpulan data dilakukan terhadap 515 responden di lima wilayah DKI pada 9-11 November 1999. Dengan jumlah responden tersebut, tingkat kesalahan penarikan sampel (sampling error) diperkirakan 5 persen.

  • Penarikan sampel dilakukan dengan metode random bertingkat (multistages sampling) dengan unit kelurahan, RT, dan kepala keluarga. Pengumpulan data dilakukan dengan kombinasi antara wawancara tatap muka dan melalui telepon.

MONITOR juga ditayangkan dalam SEPUTAR INDONESIA setiap hari Minggu pukul 18.00 WIB

Independent Market Research
Tel: 5711740-41, 5703844-45 Fax: 5704974

161836376981


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836376981



Monitor 1/1

Sebelumnya Selanjutnya