Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jika Takut, Jurnalis Tak Bisa Melakukan Investigasi

Chief Executive Officer Rappler Maria Ressa menyatakan tidak akan berdiam diri atas vonis bersalah terhadapnya dalam kasus pencemaran nama di dunia maya. Intimidasi dan ancaman yang menimpanya bertubi-tubi tak menyurutkan langkahnya untuk terus mengkritik Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Ressa, yang telah berkarier sebagai jurnalis selama lebih dari tiga dasawarsa, mengatakan wartawan dan organisasi media tidak boleh gentar dalam menjalankan fungsinya mengawasi kekuasaan.

i Maria Ressa /Rappler
Maria Ressa /Rappler
  • CEO situs berita Rappler, Maria Ressa, angkat bicara setelah dinyatakan bersalah dalam kasus pencemaran nama. .
  • Maria Ressa menilai kasus hukum yang menjeratnya adalah bagian dari upaya pemerintah Presiden Rodrigo Duterte membungkam kebebasan pers.
  • Untuk melawan rezim otoriter dan membongkar praktik korup penguasa, Maria Ressa menekankan pentingnya kolaborasi jurnalisme investigatif lintas negara. .

SEJAK Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte berkuasa empat tahun silam, chief executive officer portal berita Rappler, Maria Ressa, tak bisa lagi hidup tenang. Teror silih berganti menimpanya, dari serangan di dunia maya hingga persekusi yang bisa berujung bui.

Pada Senin, 15 Juni lalu, Pengadilan Negeri Manila menyatakan Ressa dan bekas penulis Rappler, Reynaldo Santos Jr., bersal

...

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=163254198842


Filipina Maria Ressa | Rappler Rodrigo Duterte Kekerasan terhadap Wartawan Jurnalis dan permasalahannya Kriminalisasi Pers Jokowi

Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.