Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Keluguan dalam Kekayaan Eksplorasi

Pertunjukan yang segar, penuh eksplorasi, kaya idiom, dan sarat kejutan.

i

BULAN DAN KRUPUK
Oleh:Laskar Panggung Bandung
Naskah/sutradara:Yusef Muldiyana
Tempat:Graha Bhakti Budaya, 10 November 1999
TAK ada tenaga yang tersisa pada pasangan suami istri Jalu dan Ipah. Bahkan, untuk meneruskan perjuangan paling minimal sebagai kaum miskin—bertahan hidup—mereka tak mampu. Padahal, bayi yang barusan dilahirkan Ipah punya hak atas nasib yang lebih berpengharapan. Maka, bagai Musa, sang jabang bayi dihanyutkan ke sungai. "Biar dia bertualang sendiri dan menemukan kisah sendiri." Bersama-sama, Jalu dan Ipah menyodorkan sang bayi suci lurus ke depan. Sunyi. Seorang berbalut lumpur memasuki panggung dengan tarian bertempo lambat. Ternyata, ia sang sungai, sang arus air (ditarikan dengan baik oleh Dedi Dablo): diambilnya sang bayi, digendongnya, dan dibawanya pergi. Tanpa diduga, bayi yang dicitrakan dengan gulungan kain putih itu dientakkan ke belakang, dan kain putih itu pun merentang jauh dengan satu ujung di tangan sang sungai yang terus menyeretnya, dalam tarian lambat bergerak menjauh, hingga lenyap. Ah, adegan yang menggetarkan. Imajinatif, penuh daya ungkap. Bulan dan Krupuk, yang dipentaskan Laskar Panggung Bandung, pekan silam, di Graha Bhakti Budaya TIM, adalah memang pementasan yang penuh eksplorasi, dan kaya akan idiom panggung. Naskah, pemeranan, penataan adegan, hingga musik memperlihatkan diri sebagai penerus gaya teater mendiang Arifin C. Noer. Yusef Muldiyana, penulis naskah dan sutradaranya, memang pernah berguru di Teater Ketjil selama beberapa tahun. Sebagaimana tradisi teater Arifin, pusat perbincangan adalah nasib kaum miskin kota yang mati-matian berjuang untuk bertahan hidup, habis-habisan bermimpi, dan akhirnya secara tragis terlibas oleh kekuasaan "takdir" atau apalah. Sebagaimana tradisi teater Arifin pula, Bulan dan Krupuk mengembangkan cara fabel ala teater Bertolt Brecht (1898-1956): puitis, pedih, pahit, tapi juga lucu, menggairahkan, jahil, dan sudah tentu kritis. Adegan-adegan saling bersusulan, bahkan berlompatan, dengan keliaran yang sering tak terduga. Panggung bukan saja jadi ruang dialog dan laku, tapi juga ruang yang naif, tapi segar, jernih. Misalnya, serombongan sosok bertopeng memperkenalkan diri sebagai hujan, lalu menari, dengan kocak, sambil memainkan perlengkapan dari bahan dedaunan kering—dan memang berbunyi seperti cucuran air hujan. Lalu banjir memusnahkan segalanya, termasuk impian Ipah dan Jalu. Tanpa pretensi politik yang terlalu tinggi, drama ini berhasil menyentil. Jalu tidur pulas, Ipah sia-sia membangunkannya. Tapi Jalu terbangun ketika terdengar riuh bunyi bebek yang melintas bersama penggembalanya: bebek-bebek itu berseragam Korpri. Lain waktu, pasangan kita itu ketakutan oleh seekor anjing galak. Dan sang anjing ganas yang terus menggonggong itu ditampilkan dalam seragam TNI. Kejutan menyangkut pengadeganan dan penciptaan situasi seperti tak kunjung habis. Tetapi ada beberapa ganjalan di sana-sini. Misalnya para pemain yang umumnya masih membutuhkan waktu untuk tampil lebih matang, kendati sejumlah di antaranya menunjukkan bakat baik. Ria Ellysa Mifelsa memainkan Ipah dengan semangat hampir tak terbatas. Perempuan ini adalah sebuah janji indah untuk dunia pemeranan. Dua masalah lain menyangkut naskah dan penyutradaraan. Pertama, Yusef masih tergoda untuk menambahkan muatan simbolis yang sama sekali tak perlu. Misalnya onggokan bendera merah putih raksasa yang dua kali dipakai sebagai "rahim" lahirnya Jalu. Masalah kedua, Yusef belum berhasil mengelola kompleksitas dan tragedi permasalahan Jalu-Ipah. Akibatnya, dari segi tematis, pertunjukan ini belum sampai pada kedalaman. Ging Ginanjar

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865995997



Teater 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.