Laporan Khusus 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Aljumhuriyah Alindunisiah di Simpang Jalan

Ironi sejarah: Aceh justru ingin memisahkan diri dari Indonesia—negeri yang nasionalismenya dia ilhami.

i
KEINDONESIAAN Aceh menga rungi perjalanan sejarah yang penuh regangan otot, kepalan tangan, dan pengorbanan nyawa. Perjalanan itu hampir melampaui bentangan masa lebih dari seabad. Sebutan Indonesia sebagai suatu keutuhan republik pernah dipakai dalam sara kata resmi Kerajaan Aceh pada 1873 Masehi. Kalimat dalam bahasa Melayu Jawoe (huruf Arab Jawa) dan bahasa Arab itu menyebut komunitas Aceh dan sekitarnya sebagai bagian dari Aljumhuriyah Alindunisiah. Aljumhuriyah berarti republik. Menjadi kesultanan Islam pertama di Nusantara, Aceh sejatinya sumber spirit keindonesiaan yang disemangati nasionalisme Islam.

Dalam perjalanan waktu kemudian, keindonesiaan Aceh, yang berpenduduk muslim itu, diuji oleh berbagai deraan sosiologis. Aceh mengalami empat periode sejarah: zaman kerajaan Aceh, zaman penjajahan Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan. Darah pertama (the first blood) memercik di Aceh pada 1873, ketika Belanda mulai ”mengusik” Aceh. Sekitar 70.000 warga Aceh dilaporkan mati syahid dalam perang Aceh Vs Belanda dari 1873 hingga 1914. Ironisnya, konflik di Aceh berlanjut hingga masa kemerdekaan Republik Indonesia. Amnesia sejarah begitu cepat menyerang Jakarta. Aceh diberlakukan secara politik tidak sebagai sumber spirit keindonesiaan, tetapi hanya sekadar sebagai kepingan tanah berupa provinsi.

Aceh kemudian bergolak oleh pusingan politik lokal. Daud Beureuh memberontak melawan pemerintahan Sukarno di Jakarta dengan memproklamasikan Negara Islam Indonesia di Aceh, pada 21 September 1953. Proklamasi kemerdekaan ini ditentang habis-habisan oleh Jakarta. Tambahan pasukan dikirim ke bumi Aceh. ”Perang saudara” yang lebih dikenal sebagai peristiwa Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pun meletus. Perang ini menewaskan sekitar 4.000 warga Aceh dan menjatuhkan korban luka berat ribuan orang. Toh, perlawanan rakyat Aceh masih berlanjut secara sporadis. Jakarta kemudian mencoba ”mendengarkan” aspirasi rakyat Aceh dengan memberikan status daerah istimewa kepada Aceh pada 1959.

Perlawanan rakyat Aceh mengendur selama dekade 1960, tapi tak hilang sama sekali. Pada 4 Desember 1976, kalangan intelektual Aceh di bawah pimpinan Dr. Muhamad Hasan alias Hasan Tiro memproklamasikan negara Aceh Merdeka. Dalam pidatonya, Hasan Tiro mengatakan bahwa Indonesia adalah merk baru pengganti sebutan Hindia Belanda. Bahkan, dalam bukunya berjudul Atjeh bak Mata Donja (Aceh di Mata Dunia), Tiro menulis bahwa Belanda tak berhak memberikan Aceh kepada ”kolonialis Jawa”.


Jakarta menilai proklamasi Aceh Merdeka yang dilengkapi susunan kabinet itu sebagai makar. Jakarta kembali mengerahkan tentara. Perang meletus lagi. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) berhasil mendesak pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan membekuk sejumlah menterinya, antara lain Asnawi Ali. Tapi semangat perang GAM tak surut. Sejumlah pejabat yang dipilih oleh Hasan Tiro hengkang ke luar negeri dan melancarkan perlawanan dari pengasingan. Amir Rasyid, bekas anggota DI/TII yang kemudian didaulat sebagai Menteri Perdagangan, membangun basis perlawanannya di Geilang Road, Singapura. Bersama Mr. Malik Mahmud, utusan GAM di PBB, Amir Rasyid melakukan kampanye kemerdekaan Aceh di sana. Mereka juga membangun basis politik di Amerika Serikat, Swedia, dan negara Eropa lain. Karena GAM terdesak oleh tentara Indonesia, Hasan Tiro akhirnya juga hengkang ke luar negeri pada Maret 1979.

161836177698

Aksi perlawanan bersenjata GAM masih berlangsung pada dekade 1980. Bahkan mereka juga memasuki sejumlah kota di Provinsi Aceh. Insiden rasial di Ibu Kota Banda Aceh pada Oktober 1981, misalnya, menurut aparat keamanan adalah ulah GAM. Sampai akhir 1989, perlawanan GAM masih keras, walaupun Muhamad Idrus, Panglima GAM, dipenjara seumur hidup pada 1984. Memasuki era 1990, aksi GAM meningkat lagi. Mereka membakar sejumlah fasilitas pemerintah, antara lain Kantor Kepolisian Sektor Syamtalira, Aceh Utara, pada April 1990. Lalu pos militer di Kutamakmur, Aceh Utara, diserang pada Mei berikutnya.

Karena serangan gencar GAM itu, Gubernur Aceh Ibrahim Hasan meminta Jakarta untuk menambah pasokan tentara ke Bumi Rencong. Presiden Soeharto mengabulkan permintaan itu dengan mengirim 6.000 tentara untuk mendukung 6.000 tentara yang ada sebelumnya. Mereka melancarkan Operasi Jaring Merah pada Mei 1990. Sejak operasi itu, Aceh masuk dalam kategori daerah rawan dengan sebutan daerah operasi militer (DOM). Banyak anggota GAM yang terbunuh oleh tentara. Sekitar 5.000 anggota GAM terpaksa lari ke Malaysia. Aktivis GAM yang tertangkap diadili. Namun, menurut catatan Amnesty International, sekitar 2.000 aktivis GAM pernah dieksekusi oleh tentara tanpa proses pengadilan.

Sepanjang tahun 1995, ketegangan di Aceh mengendur. Pasukan GAM bertahan di gunung-gunung. Atas dasar itu, Dayan Dawood, Rektor Universitas Syiah Kuala, mengusulkan kepada pemerintah pusat agar mencabut pemberlakuan DOM. Alasannya, operasi itu mengganggu kegiatan sehari-hari masyarakat Aceh. Takut menjadi korban salah sasaran, mereka enggan berkebun dan bertani. Usulan pencabutan DOM itu diamini oleh Kepala Kepolisian Daerah Aceh, Kolonel Suwahyu. Tak digubris oleh Jakarta, justru Suwahyu ”dicopot” dari jabatannya.

Untuk meyakinkan pemerintah pusat, Universitas Syiah Kuala dan Badan Perencana Pembangunan Daerah Aceh melakukan riset tentang situasi keamanan di tiga kabupaten, yaitu Aceh Utara, Aceh Timur, dan Pidie. Hasilnya menunjukkan bahwa 66 persen rakyat di tiga kabupaten itu berpendapat bahwa keadaan di Aceh aman. Sisanya masih berpendapat bahwa Aceh belum aman. Belakangan, gerakan mahasiswa pun mendukung pencabutan DOM. Bahkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh meminta kepada Menteri Pertahanan dan Keamanan untuk mencabut status DOM. Setali tiga uang adalah Gubernur Aceh Syamsudin Mahmud. Dia mengirim surat kepada Presiden B.J. Habibie pada Juli 1998 untuk mencabut DOM. Berkat desakan itu, Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto mencabut status DOM dari Aceh pada 7 Agustus 1998.

Namun kerusuhan massal meruyak Lhokseumawe setelah 659 tentara dipulangkan ke Jakarta pada Agustus 1998. Menhankam/Pangab Jenderal TNI Wiranto memutuskan untuk menangguhkan penarikan sisa pasukan sampai keadaan benar-benar aman. Belakangan, kekerasan memang semakin menjadi-jadi di Aceh, terutama setelah Jakarta kembali mengirim Pasukan Penindak Rusuh Massa. Aksi bersenjata, pembakaran bangunan, penculikan, dan perampasan telah terjadi secara akumulatif sebanyak 98 kasus sepanjang Mei 1999. Kegiatan sweeping dan pengejaran militer terhadap anggota GAM sampai ke desa dianggap telah ikut ”meneror” masyarakat. Ribuan orang di Aceh pun terpaksa mengungsi. Korban jiwa pascapencabutan DOM dari Agustus 1998 sampai Oktober 1999 tercatat 132 orang.

Gerakan pemberontakan pascakemerdekaan muncul akibat ketidakpuasan sebagian rakyat Aceh atas kebijakan pemerintah pusat di bidang ekonomi dan politik. Tapi benang merah problem di Aceh sejatinya adalah kesalahpahaman pokok tentang Indonesia: sebuah proyek nasionalisme pascakemerdekaan yang berpusat di Jakarta yang dianggap belum selesai bagi sebagian rakyat Aceh. Sementara itu, di sisi lain, proyek nasionalisme itu dianggap selesai oleh elite politik Jakarta. Karena perbedaan persepsi itu, wajar bila konflik pun pecah di antara kedua kelompok kepentingan. Ironisnya, proses untuk menjadi Indonesia itu dalam sejarahnya juga dicemari oleh politik Orde Baru, yang keropos dan otoriter.

Mengingat Aceh adalah sumber spirit keindonesiaan, ironis bila sebagian dari 3 juta rakyat Aceh kini berpikir untuk meninggalkan Indonesia. Gebalau sejarah yang penuh darah memang telah mendera Aceh, tapi provinsi di ujung barat Nusantara itu tetaplah moyang dari sebuah republik bernama Indonesia. Aljumhuriah Alindunisiah di simpang jalan.

Kelik M. Nugroho, Wenseslaus Manggut


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836177698



Laporan Khusus 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.