Media 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Beramai-ramai Membidik Selera Wanita

Majalah wanita mulai membanjiri pasar. Ada nama yang mirip-mirip. Apa saja yang mereka tawarkan?

i

JUDUL artikel di majalah itu menggoda, "Ah, pria kan makhluk lemah." Da-lam tulisan yang menyorot hubungan wanita dan pria ini, penonjolan perempuan sebagai sosok mandiri sekaligus aktif terlihat kental. Artikel seperti inilah yang disukai Yanti, seorang karyawan bank swasta. Ia menganggap tulisan yang dijumpainya dalam Prada, salah satu majalah wanita yang baru beredar di pasar itu, unik.

Kemandirian wanita yang ditampilkan dalam artikel lepas itu memang jualan utama Prada. "Ke depan, kita akan menampilkan wanita mandiri yang sudah tidak peduli lagi dengan daya tarik fisik," kata Dimas Supriyanto, pemimpin redaksinya. Di tengah banyaknya majalah wanita yang sudah eksis, media dari Grup Pos Kota itu harus pandai-pandai mencari rubrik yang belum digarap oleh saingannya.

Namun, mencari ide baru untuk menjaring konsumen perempuan ternyata tidaklah mudah. Mode, masakan, tips, konsultasi, kesehatan, ramalan bintang adalah rubrik yang tak pernah absen dalam majalah wanita. Maka, Prada pun tak ingin menyingkirkan artikel mode dalam penerbitannya, walau mereka tahu diri dengan membuang rubrik fiksi dan boga. "Jujur saja, untuk boga kita tak mampu mengimbangi Femina," kata Dimas.

Dengan kebijakan seperti inilah, Prada, yang terbit perdana bulan lalu dengan tiras 50 ribu eksemplar, berharap bisa menarik hati kaum wanita—orang yang biasanya mengatur keuangan keluarga dan paling terpukul dengan krisis ekonomi ini. Saingan mereka tak hanya majalah lama, tapi juga beberapa pemain baru sejenis yang kini bisa melenggang terbit tanpa surat izin, yaitu Primadona, Swara Kartini Indonesia (SKI), dan Kartini—media lama yang terbit lagi setelah pingsan tahun lalu akibat krisis moneter.

Sebagai pemain lama yang pernah jaya, tentu saja Kartini, yang terbit perdana akhir bulan lalu dengan tiras 75 ribu itu, tak perlu pusing mencari rubrik baru. Cukup menjagokan rubrik yang dulu sangat digemari pembaca, misalnya saja Oh Mama Oh Papa, yang berisi pengalaman pribadi. Kebanyakan yang muncul di sini adalah persoalan rumah tangga yang berkaitan dengan perselingkuhan. Selain itu, Tip Sex, Setetes Embun, Selera Nusantara, dan Eksklusif. Secara keseluruhan, titik berat Kartini adalah wanita dan keluarganya. "Misi kita memang menggiring wanita Indonesia untuk tetap menyadari kodratnya walau sesibuk apa pun," kata Bram Tuapattinaya, Pemimpin Redaksi Kartini.

Pola perubrikan yang hampir sama dengan Kartini dilakukan oleh SKI. Maklumlah, mereka dulu berasal dari satu pabrik. Di SKI rubrik-rubrik semacam di Kartini berubah nama menjadi Ya Tuhan, Kisah Sejati, dan Gunjang-gunjing (biasanya berita seru tentang seorang artis). Mereka menambahnya dengan artikel feature. Dalam edisi perdana yang diluncurkan Senin pekan lalu, artikel menarik yang mereka keluarkan tentang orang sida-sida (kasim) semasa negara Cina masih dalam berwujud kerajaan.

Sementara Kartini dan SKI mengambil segmen pembaca wanita dewasa, majalah baru lainnya, Primadona, mengincar para wanita belia. Majalah yang merupakan reinkarnasi dari majalah Aneka itu terlihat lebih condong menampilkan berita yang sensasional. Misalnya saja, dalam rubrik Eksklusif, ada artikel yang menuliskan kemungkinan James Hewitt adalah bapak dari Pangeran Harry, putra kedua mendiang Putri Diana. Primadona, yang terbit 21 Oktober lalu, juga punya rubrik Duh Gusti—mirip dengan Oh Mama Oh Papa dan Kisah Sejati—yang dijadikan jualan utama dalam spanduk promosi perdananya. Lalu, apa bedanya dengan majalah lain? Menurut Nuniek H. Musawa, Pemimpin Redaksi Primadona, konsep mereka bergaya serba muda dan informal, seperti tercermin dalam kover Titi D.J. yang tersenyum lebar dengan pakaian berdada rendah.

Bagaimana dengan pemain lama? Kosmopolitan tampaknya masih ajek menggarap total hubungan laki-laki dan perempuan, dan Dewi dengan gaya hidup glamour. Adapun Femina, majalah wanita terbesar saat ini, menurut Mirta Kartohadiprodjo, Presiden Direktur Grup Femina, masih berpegang pada penyebaran informasi bagaimana seharusnya seorang wanita modern bersikap dan bertindak, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun di tempat kerja. Penerjemahan gagasan dasar ini adalah rubrikasi yang khas milik Femina. "Kalau dari dulu, boga di Femina masih tetap unggul, modenya juga termasuk leading, jadi trend," ujar Mirta, mengomentari kelebihan medianya.

Apa pun "kecap" para pengelola majalah dalam mempromosikan rubrik-rubriknya, konsumen jugalah yang menentukan apakah ramuan rubrik itu enak disantap. Femina sudah menunjukkan kepiawaiannya dengan bertahan pada tiras 120 ribu dan—ini yang penting—iklannya stabil di atas 35 persen dengan pemasukan kotor tiap bulannya rata-rata Rp 1,5 miliar. Bram Tuapattinaya dari Kartini sesumbar akan mendapatkan penghasilan (dari penjualan majalah maupun iklan) per bulannya sampai Rp 5 miliar. Pasarlah yang nantinya akan membuktikan apakah ini bakal jadi kenyataan atau majalah ini kembali pingsan untuk kedua kali.

Yusi A. Pareanom, Upik Supriyatun, Ardi Bramantyo


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161865897347



Media 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.