Opini 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Referendum, Cara atau Tujuan?

Hasrat rakyat Aceh untuk menjalankan referendum kelihatannya tak dapat dibendung lagi. Tapi sudah jelaskah makna kata ini bagi kita semua?

i
REFERENDUM telah menjadi kata sakral di Aceh. Apalagi setelah ratusan ribu—bahkan menurut panitia pelaksananya mencapai dua juta—warga Aceh melakukan pawai referendum di Banda Aceh, pekan lalu. Padahal, tak sampai dua tahun silam, mungkin kebanyakan orang di Tanah Rencong ini tak pernah mendengar kata itu. Sekarang pun, setelah nyaris tak ada lagi penduduk Serambi Mekah ini yang tak memperbincangkannya sehari-hari, makna sebenarnya masih saja diperdebatkan. Tapi itu hanya terjadi di kalangan terbatas yang dekat satu dan lainnya. Sebab, kesaktian kata referendum memang didasarkan atas kemampuannya untuk diartikan dengan keragaman yang tinggi, tergantung hasrat si pendengarnya. Karena itu, daya tariknya sebagai sebuah pilihan cerdas bagi mereka yang tidak ingin dilibatkan dalam sebuah konflik yang keras memang prima. Itulah sebabnya para mahasiswa dan aktivis LSM Aceh, yang sangat prihatin terhadap nasib rakyat kecil yang terjepit perseteruan antara elite penguasa dan yang ingin menggulingkannya dengan kekuatan bersenjata, menawarkan pilihan ini. Pilihan yang terbukti manjur mengeluarkan orang ramai dari jepitan berdarah dan, tanpa diperkirakan sebelumnya, membuat para mahasiswa menjadi pengisi kevakuman kepemimpinan masyarakat Aceh. Bahwa ratusan ribu warga berbondong-bondong mengikuti acara yang digerakkan oleh kelompok mahasiswa dan LSM untuk mengampanyekan referendum, itu adalah bukti nyata pada efektivitas kepemimpinan mereka. Persoalannya sekarang adalah referendum bukan lagi hanya sebuah cara damai untuk keluar dari bencana, melainkan telah menjelma menjadi sebuah tujuan. Disadari atau tidak, para penggagas solusi cara damai itu kini tertuntut untuk menjelaskan referendum sebagai tujuan, dan ini tidaklah mudah, bahkan penuh dengan ranjau-ranjau potensi kekerasan. Misalnya, apakah setelah referendum kedamaian akan didapat atau justru kekerasan lagi yang akan dipanen? Sebab, tak dapat dibayangkan para pengikut Gerakan Aceh Merdeka akan menerima dengan damai seandainya pilihan merdeka kalah suara. Sebaliknya, siapa pun yang membiarkan Aceh lepas dari kedaulatan RI akan menjadi target yang konstitusional untuk digulingkan atas nama menjaga konstitusi. Kedua skenario ini memiliki kesamaan dalam menghasilkan kekerasan, suatu hal yang diharamkan oleh para penggagasnya ketika ide referendum digulirkan. Karena itu, hiruk-pikuk dan angin kemenangan hendaknya jangan sampai memabukkan para pengambil kebijakan di Aceh. Cara damai sepatutnya menghasilkan tujuan damai pula. Untuk itu, referendum harus dirancang saksama agar tak membuat Aceh seperti Tamil di Sri Lanka, Kurdi di Turki, atau Chechnya di Rusia, tapi harus seperti Quebec di Kanada atau Basque di Spanyol. Sebab, kemerdekaan yang hakiki adalah kemerdekaan dari ketakutan untuk setiap warga. Itulah semangat ketika ide referendum digulirkan dan itulah, seharusnya, semangat yang harus tetap dipertahankan.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836652818



Opini 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.