Selingan 3/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Anting Emas di Lubang Ketam

i
Petani tua itu menudingkan jarinya ke sebuah titik di antara areal persawahan hijau, lalu berkata: ”Di sana pertama kali saya menemukan Situs Buni.” Dogol, begitu nama petani yang masih cukup bugar di usia 70 tahun itu. Ketika itu tahun 1958 menjelang musim hujan. Dia tengah asyik membuat kalenan (saluran air) dari Kali Bekasi menuju sepetak sawahnya ketika matanya tertumbuk pada sebuah benda berkilau. Ternyata itu sebuah ”kute” (anting) emas seberat 0,5 gram—teronggok di tepi lubang yuyu (binatang sejenis ketam). Bergegas Dogol menyambangi penduduk kampung dan mereka beramai-ramai menggali lubang yuyu tersebut. Astaga! Pada kedalaman 1,5 meter, terdapat ratusan kerangka manusia. ”Setiap kerangka, pasti ada emasnya,” tuturnya kepada TEMPO. Kabar ”harta karun” pun merebak secepat kilat. Ribuan orang tumpah-ruah ke Buni. Mereka datang dari Bekasi, Jakarta, Bandung, dan Jawa Tengah. Para penadah juga muncul di sana dan sigap memborong emas-emas hasil penggalian. ”Sejak saat itu nama Kampung Buni berubah menjadi Kampung Buni Pasar Emas,” kata Dogol. Meski agak terlambat, para arkeolog—antara lain R.P. Soejono—terjun ke ”tambang emas” itu pada tahun 1960. Hanya sedikit emas yang tersisa. Tapi para arkeolog mendapati aneka gerabah dan beling persegi di lokasi itu, yang kemudian populer dengan nama Situs Buni.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162040532072



Selingan 3/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.