Selingan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Permata dari cincin dunia

Keadaan uni emirat arab yang adalah hong kong-nya timur tengah. ahmadie thaha dari tempo berkunjung ke sana. presiden syekh zayed bin sultan al-nahyan berhasil merubah gurun pasir menja di taman hijau.

i
PADA 26 Ramadan, saya meluncur dengan mobil tamu pelat merah, dari Bandara Internasional Abu Dhabi -- yang rampung 1982 -- menuju pusat kota. Di antara gedung-gedung megah, yang tertata rapi mengapit jalan, nampak lampu-lampu menyala. Toko-toko kelihatan masih buka. Saya tengok jam: astaga, pukul dua tengah malam. "Dulu, kota ini rata oleh pasir," kata Ali Mansur, staf Departemen Penerangan dan Kebudayaan Uni Emirat Arab (UEA), yang menjemput di bandara. Alkisah sejauh mata memandang, yang terlihat adalah pasir dan pasir. Jalan belum semuanya beraspal. Rumah-rumah masih model kuno, terbuat dari tanah, dengan menara anginnya yang menjulang tinggi. Kini, Abu Dhabi serta enam keamiran UEA lainnya -- Dubai, Sharjah, Ajman, Umm al-Qaiwain, Ras al-Khaimah, dan Fujairah -- telah berubah total menjadi kota-kota yang modern. Gedung-gedungnya menjulang dengan arsitektur baru. Padang pasir disulap menjadi taman besar, dengan tanaman hias yang ngotot berbunga meskipun panas udara mencapai 50 derajat Celsius pada bulan Mei-Oktober. "Ini semua rahmat Ilahi, yang menyertai jerih-payah kami membangun negeri ini," kata Presiden Syekh Zayed bin Sultan al-Nahyan, kepada TEMPO. Cucu Syekh Zayed bin Khalifah al-Nahyan (Raja 1855-1909) dan putra Syekh Sultan (1922-1926), ini lahir pada 1908. Ketika kakaknya, Syekh Shakhbut bin Sultan, berkuasa sekitar tahun 1928, Zayed dipercaya mendampingi tim survei geologi pertama dari perusahaan minyak asing, yang akan melakukan penelitian awal di permukaan padang pasir. Pada 1946, tak lama sebelum dimulainya pencarian minyak, ia terpilih menjadi Wakil Raja untuk wilayah Al-Ain. Daerah kecil yang yang miskin, 135 km dari Abu Dhabi. Sebagai Wakil Raja di Al-Ain, Syekh Zayed belajar banyak tentang teknik pemerintahan. Ia teruji sukses menyelesaikan perdebatan soal Buraimi, yang berada di perbatasan Oman, tahun 1950-an. Tapi sukses terbesar Zayed adalah dalam revolusi hijaunya. Secara spektakuler ia mengubah wajah Emirat. Kini Al-Ain dinyatakan sebagai kota terhijau di gurun Arabia. Kini kehijauan wilayah Emirat -- bisa disebut Teluk -- di depan mata saya. Luas Teluk 90.559 km2. Sekitar 280 ribu hektare menjadi lahan pertanian dan taman. Di atasnya tumbuh 56 juta pohon sadr, 12 juta pohon kurma, plus tanaman hias yang tak terhitung banyaknya. Abu Dhabi kini disebut Kota Taman Teluk. Pemerintah mengimpor tanah dari Pakistan dan Belanda, untuk melapisi bagian atas 100 ribu hektare datarannya. Barangkali tak berlebihan kalau saya katakan, UEA adalah sebuah pot besar. Tentu saja, taman di atas pot itu perlu disiram dengan air, agar tidak kering. Air laut disedot lalu disuling dan diberi pupuk. Kemudian disalurkan secara otomatis di malam hari. Selang-selang kecil warna hitam, membentang sepanjang jalan Abu Dhabi-Dubai (175 km), menghidupi taman kota dan desa. "Jangan coba Anda menabrak pohon kurma, misalnya, urusannya lebih panjang daripada menabrak manusia," kata Syakib Thalib. Denda menabrak sebuah pohon kurma bisa mencapai 20 ribu dirham atau 10 juta rupiah. Ini terhitung biaya pemeliharaan, air untuk menyiram, seumur pohon itu. Pada 1968, dua tahun setelah Zayed terpilih jadi Raja menggantikan Shakhbut -- Inggris mengumumkan niatnya meninggalkan Teluk. Inggris bercokol sejak 1842. Pada 30 November 1971 rencana itu terwujud. Dua hari kemudian, 2 Desember 1971, bendera negara baru berkibar untuk ketujuh keamiran di Teluk Arab. Ide federasi itu dipelopori oleh para sarjana lulusan beberapa perguruan tinggi Arab, yang telah pulang ke tanah air. Mereka bekerja sama dengan keluarga para penguasa, memodernisasi administrasi UEA. Sejarah munculnya keamiran di Teluk bermula pada abad ke-18. Di awal dekade abad itu terjadi dua peristiwa bersejarah. Pertama, kekacauan dan kevakuman politik karena runtuhnya dinasti Yaariba Oman (1724) dan rontoknya dinasti Safawi di Iran (1722) di tangan suku-suku Afghan. Kedua, kegiatan Komite Inggris Timur India (KITI). Setelah berhasil di India lalu di Teluk. Hegemoni Inggris di wilayah tersebut berlanjut hingga dua abad berikutnya. Kekosongan politik membuat masyarakat Arab maritim -- sempat mengusir Portugis seabad sebelumnya -- melakukan migrasi dari Arabia Tengah dan Oman, ke pesisir. Di sana mereka mendirikan perkampungan-perkampungan baru, seperti Kuwait, Manama, Zubara dan Doha di Qatar, serta Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Ajman, Umm al-Qaiwain, dan Ras al-Khaimah. Perkampungan terakhir inilah yang kemudian berkembang sebagai negara-negara Teluk Arab. Di wilayah Arab Tenggara, muncul tiga kekuatan politik pada awal abad ke-18. Pada pesisir Oman (kini UEA) yang terbentang dari selatan Qatar hingga Kepulauan Musandam, muncul dua kekuatan politik lokal: Qawasim dan federasi Bani Yas. Yang ketiga adalah dinasti Al Bu Said di Oman yang menjadikan Muscat sebagai ibu kotanya. Qawasim adalah masyarakat maritim yang menguasai pelabuhan-pelabuhan masuk Teluk, baik sisi Iran maupun Arab. Pelabuhan utamanya di Ras al-Khaimah. Lingah menjadi pelabuhan utama mereka di pesisir Persia. Sedangkan federasi Bani Yas, yang terdiri dari suku-suku Baduwi, memilih Oase Liwa sebagai pusat pemerintahannya. Karena ekspansi dinasti Saudi di Arabia dan meningkatnya kegiatan Inggris di Teluk, raja-raja Al-Nahyan dari federasi Bani Yas memindahkan pusat pemerintahan mereka dari Liwa ke Abu Dhabi, pada 1793. Benteng putih, yang kini menjadi bangunan tertua di Abu Dhabi, dibangun oleh Syekh Shakbut bin Dhiyab (1793-1816), raja federasi Bani Yas. Saat kota itu baru tumbuh. Inggris semakin mengukuhkan kekuasaannya di Teluk. Mereka menghancurkan benteng-benteng Qawasim di Ras al-Khaimah dan Lingah serta membakar kapal-kapal layar besar. Sebuah perjanjian maritim yang diteken oleh Inggris dan semua syekh pesisir Oman (alias UEA) pada 1820 melarang pembuatan kapal-kapal layar besar dan perbentengan di sepanjang pesisir. Pada 1853 Inggris meneken suatu genjatan senjata maritim dengan para raja. Sejak itu, pesisir Oman dikenal dalam dokumen politik Inggris sebagai the Trucial Coast. Selama abad ke-19, wilayah Teluk menjadi penting bagi Inggris dalam strategi mereka mempertahankan India. Karena itu, mereka berusaha menciptakan perdamaian maritim, di samping menghapus perbudakan. Akibat larangan pembuatan kapal layar besar, penduduk kemudian beternak mutiara, yang mengalami masa emasnya pada abad ke-19. Para pedagang mutiara menjadi pelaku perubahan di tengah masyarakat. Mereka membangun banyak sekolah modern, yang mereka lihat ketika berdagang ke Bombay. Guru sekolah itu diambil dari negara-negara Arab. Pembukaan Terusan Suez memudahkan banyak buku dan jurnal terbitan Kairo dan Syria dibawa ke Bombay oleh kapal-kapal Inggris. Para pedagang mutiara lalu memasukkannya ke Trucial Coast. Mereka menyebarkannya secara luas di kalangan pemuda. Publikasi yang berisi ide-ide nasionalisme Arab dan pembaruan itu segera menebarkan perasaan anti-Inggris di Teluk. Ironisnya, perasaan anti-Inggris -- semula meluas di Mesir -- dibiarkan oleh Pemerintah Inggris, demi asas kebebasan pers. Di penutup abad lalu, keamiran Qawasim di Lingah hancur. Ini meyebabkan hijrahnya sejumlah pedagang ke Dubai, 175 km ke utara dari Abu Dhabi. Sebagian mereka, agen perusahaan-perusahaan Inggris India, membawa pula kapal-kapal mereka ke Dubai. Sejak 1903 itulah, Dubai berkembang secara modern. Pelabuhannya terus maju, khususnya setelah Perang Dunia Kedua. Walaupun sudah meninggalkan India pada 1947, Inggris tetap menganggap Trucial Coast penting. Pesawat terbang kerajaan Inggris selalu transit di Bandara Internasional Sharjah, 10 km dari Dubai. Karena itu, Inggris merasa perlu membantu pembangunan rumah sakit Maktoum di Dubai. Bahkan didirikan Dewan Negara-Negara Trucial. Para raja anggotanya mulai mengadakan rapat sejak 1951. Pembangunan terus melaju. Pada 1965, Inggris mendirikan Dewan Pembangunan Negara-Negara Trucial. Mulanya, Inggris membayar sebagian besar anggaran keuangannya. Tapi dua tahun kemudian, Abu Dhabi mengambil alih tanggung jawab dana tahunan dewan itu, setelah Syekh Zayed bin Sultan al-Nahyan menjadi raja. Langkah lain ke arah modernisasi dilanjutkan dengan dibentuknya kekuatan polisi lokal, di Dubai (1956) dan Abu Dhabi (1957). Pada 1965 lahir angkatan bersenjata Abu Dhabi. Tradisi itu berlanjut hingga kini. Meskipun telah bersatu menjadi negara federasi, keamiran Dubai dan Abu Dhabi konon mempunyai polisi lokal masing-masing. Tapi para polisi UEA yang berseragam abu-abu itu jarang berkeliaran di jalanan -- kalau pun ada, mereka dan kantornya tak boleh dipotret. Kecuali ada peristiwa kenegaraan. Misalnya, ada tamu penting dari luar negeri. Di hari Idulfitri lalu, saat umat Islam pergi salat di Musala al-Id, lapangan khusus salat Id, saya lihat mereka berjaga di pojok-pojok jalan. Tingkat kriminalitas di situ memang tipis. Mobil biasa diparkir di pinggir jalan tanpa dikunci, tanpa tukang parkir atau polisi. "Percayalah, tak mungkin hilang," kata Abdullah Basri Assegaf, seorang pegawai Departemen Luar Negeri. Perempatan jalan tak dijaga polisi. Tapi ada kamera, yang secara otomatis mencatat nomor pelat mobil yang nakal. Mereka yang melanggar kemudian dipanggil datang ke pengadilan. Bila pelanggaran lalu lintasnya berat, SIM-nya dicabut. Padahal, memperoleh SIM amat sulit di UEA. Hanya pengemudi yang benar-benar mahir diberi SIM. Betapa tidak. Di dalam kota kendaraan melaju hingga kecepatan 80 km/per jam -- di luar kota 16O km/per jam. Apalagi semua jalan mulus dan bebas hambatan. Pengadilan di UEA memperlakukan hukum Islam dan konsep hukum kriminal Barat. Misalnya, hukuman amputasi bagi pencuri, atau dilempar batu bagi pezina. Tapi pelaksanaan hukum kriminal berbeda-beda di tiap keamiran, sesuai dengan sistem peradilannya. Yang terberat hukumannya adalah membawa obat bius, yaitu dipukul di hadapan umum hingga penjara lama, lalu ditambah deportasi. Begitu pula pelanggaran terhadap ketentuan alkohol, yang sama sekali dilarang bagi orang Islam. UEA memang memberikan ruang gerak bagi orang asing untuk memiliki atau menjual barang-barang beralkohol, asalkan tidak untuk dijual kepada orang Islam. Menjual alkohol pada orang Islam, atau terbukti minum sendiri melalui pemeriksaan darah, diancam 1-2 bulan penajara atau denda 3-4 ribu dirham (1,5-2 juta rupiah). Minuman alkohol diawasi ketat, dan dikenai pajak penjualan 30 persen -- lebih rendah dari pajak rokok -- 50 persen. Tapi di hotel, minuman beralkohol dijual bebas. Di nightclub, bar, dan diskotek ada meja pojoknya yang menyediakan bir dan ragam minuman beralkohol kadar tinggi. Selama bulan Ramadan, diskotek ditutup. Begitu juga bioskop yang biasanya memutar film India dan Barat. Hotel menyediakan menu khusus untuk sahur dan buka. Di akhir bulan dan sesudahnya, saya lihat bar dan diskotek masih belum buka. "Soalnya, ini bulan suci," kata seorang pegawai hotel. Wanita asal Filipina itu mengaku sering ke diskotek untuk berdansa bersama tamunya. Idulfitri di negeri Arab memang tak seramai Idul Adha. Sehabis salat Id, yang biasanya dilaksanakan di tanah lapang sesuai dengan fikih mazhab Maliki yang mereka anut. Orang orang Teluk menyerbu taman-taman di Dubai dan Sharjah serta tempat-tempat hiburan lainnya. Di Sharjah, misalnya, mereka menghabiskan waktu di Pusat Ekspo yang menyediakan berbagai hiburan serta pameran pakaian jadi. Atau ke pantai Teluk Persia, menyaksikan air mancur di tengah laut. Sementara itu, di Ajman, sekitar 10 km dari Sharjah, diadakan lomba unta sehari setelah Lebaran. Lomba unta yang diumumkan di koran itu merupakan tradisi elite turun-temurun, seperti kerapan sapi di Madura. Tentu saja unta yang dipacu pilihan, yang jumlahnya hingga puluhan. Pemiliknya para syekh, keluarga raja, yang biasanya datang membawa falkon di tangan. Syekh Muhammad, Menteri Pertahanan UEA, misalnya, memiliki 5.000 unta -- 2.000 untuk pacuan. Dalam lomba yang biasanya dilaksanakan di musim dingin itu, unta-unta dijajar di lapangan khusus dengan anak-anak kecil berumur 6-7 tahun sebagai jokinya. Untuk pemenangnya disediakan mobil Mercedes 500 untuk juara pertama dan Range Rover bagi juara kedua. Sedangkan sang joki diberi hadiah uang 75 dolar AS untuk perlombaan kecil, atau 1.500 dolar AS untuk peristiwa-peristiwa yang prestisius. Bagi umat Islam yang tak suka keluar rumah, televisi stasiun Dubai dan Abu Dhabi yang menyediakan acara khusus Idulfitri selama seminygu. Pada hari pertama Syawal, salat Id di Musala al-Id disiarkan langsung. Nampak hadir Presiden, keluarga Raja dan stafnya. Presiden memberikan kesempatan kepada rakyat untuk bersalaman dengannya. Acara Bukaan Pintu itu dimulai sejak pukul 10.00 pagi hingga sore. Presiden berdiri, sementara dua putranya yang masih kecil duduk di sampingnya. Ia menerima ciuman hidung ketemu hidung -- salam tradisional -- dari rakyat. Berbondong-bondong rakyat memasuki istana indah, yang luasnya kira-kira 500 m2 itu. Para tamu disuguhi minum teh oleh para pelayan lelaki, yang berdiri di pintu memegang dalla -- ceret kecil yang terbuat dari perak. Teh tanpa gula itu pekat, disuguhkan dengan mangkuk kecil. Minuman teh atau kopi seperti itu umum tersedia di rumah-rumah asli penduduk UEA. Mangkuk Anda akan terus ditambah, sebelum Anda menggerak-gerakkannya tanda cukup. Televisi juga menyuguhkan lagu-lagu tradisional dan tari rakyat. Tahta Dhilal al-Suyuf (Di Bawah Naungan Pedang), film seri asal Mesir arahan Syuaid al-Rasyidi, sudah diputar sejak awal bulan. Film itu mengisahkan perjuangan Islam yang berakhir dengan matinya Hamzah. Berbeda dari film-film rakyat, bahasanya bukan pasaran. Film itu amat bagus. Televisi UEA secara berkala memancarkan langsung acara-acara pembacaan puisi dari para penyair daerah. Rupanya, baca puisi merupakan kesenian rakyat yang populer. Para penyair mendirikan tenda besar dari terpal di padang pasir malam hari. Sekitar 10 penyair, yang datang dari berbagai kelompok penyair daerah, duduk di karpet. Sebagian ada yang membawa gitar. Seekor kuda diikat pada pohon kurma. Lalu salah seorang membakar kayu, memasak dalla yang berisi teh atau kopi. Dalam suasana itu syair-syair mengalir, tentang cinta, keindahan alam, atau pujian buat Raja. Sebagian dengan nada datar, lainnya berlagu diiringi musik. Tapi jarang yang menyentak-nyentak, misalnya sambil berteriak. Jika ada syair yang terasa menyentuh para pendengar mengulang bagian akhir syair tersebut secara bersama-sama. Di Dubai sehari setelah Lebaran, ketika perkantoran masih libur, pasar kembali menggeliat. Toko buka dari pukul 9.00 pagi hingga 2.00 siang, buka lagi sore hingga pukul 10 malam. Pemilik dan penjaganya adalah pendatang dari India, Iran, Afghanistan, dan negara Arab lainnya. Perdagangan dan pelayaran adalah pekerjaan pokok penduduk Teluk. Selama berabad-abad, Teluk merupakan penghubung antara Timur dan Laut Tengah. Para pedagang Teluk membawa barang komoditi Timur dari India dan Cina ke mulut Shatt al-Arab di puncak Teluk. Dari sana diangkut ke Laut Tengah melalui rute darat. Semua barang bersaing bebas di pasar. Didukung peraturan perdagangan yang amat longgar, UEA kini menjadi pusat perdagangan utama untuk Teluk dan Afrika Timur. Letaknya yang strategis membuat negeri ini segera memenuhi harapan menjadi semacam Hong Kong-nya Asia. Segala merk yang dibuat di Eropa, Amerika, atau Jepang ada. Soalnya, mereka punya perwakilan di Dubai atau Abu Dhabi, dua pusat perdagangan UEA. Tapi hanya barang bermutu yang laris. "Mobil Indonesia tak laku di sini. Gampang ringsek," kata Ali Mansur, Direktur PT Manaratain. Barang elektronik lebih murah dari pasaran Singapura. Komputer laptop merk Toshiba T-1000, misalnya, hanya seharga US$ 830. Sementara itu, di Singapura, laptop serupa US$ 1.500. "Tapi hati-hati dengan jam tangan. Banyak yang dipalsu sejak dari luar negeri," kata Syarifuddin, Direktur Pusat Promosi Perdagangan Indonesia di Dubai (P3I). Pemerintah merasa perlu membuka daerah Free Zone Authority di Jabal Ali, Dubai. Daerah industri seluas 3.000 ha dan dapat diperluas berapa pun itu telah menarik investor asing. Investasi ini diberi insentif, antara lain, pemilikan usaha boleh 100 persen asing. Keuntungan 100 persen boleh ditransfer ke negara asal. Modal sepenuhnya boleh dipindahkan. Tak ada pembatasan untuk menaja (mensponsori) pekerja. Tak perlu izin kerja dari instansi yang berwenang. Tidak ada pembatasan currency. Tidak ada pajak perusahaan minimum 15 tahun. Tak ada pajak pendapatan atau pajak ekspor-impor. Di otorita Jabal Ali terdapat 240 perusahaan. Misalnya Caltex, Union Carbide, Cleveland Bridge, Sony, Singer, 3M, dan sebagainya. Menurut ketua otorita Jabal Ali, Sultan bin Sulayem, jumlah itu akan terus bertambah. Yang jelas, Jabal Ali merupakan pelabuhan buatan terbesar di Asia. Barang-barang yang diekspor ke sana hanya singgah, untuk direekspor ke negara Teluk lainnya. Pengangkutan barang dilakukan melalui laut. Ketentuan bebas visa bagi penduduk negara Arab yang tergabung dalam Gulf Cooperation Council (GCC,20 Majelis Kerja Sama Antarteluk Arab), memudahkan mereka keluar-masuk. Penduduk UEA, misalnya, bebas tanpa visa langsung masuk ke Oman, negara di perbatasan utara UEA. Begitu pula penduduk Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, dan Qatar, sebagai anggota GCC. Kapal kayu, yang disebut dhow, bebas keluar-masuk berbagai pelabuhan di Abu Dhabi, Dubai, dan Sharjah, menuju Bahrain, Arab Saudi, dan Kuwait. Bahkan, dhow sepanjang 60 kaki buatan Hamriya Dubai itu berlayar hingga Hong Kong. Sementara itu, dhow yang lebih kecil berlayar pulang-balik dari Dubai ke Iran membawa barang-barang elektronik. "Harganya bisa naik sepuluh kali lipat," kata Ahmad, kapten kapal Arya. Negeri Teluk itu memang kaya oleh minyak. Tapi tak sepenuhnya benar anggapan bahwa penduduknya kaya raya karena minyak. Penduduk Teluk secara tradisional adalah pedagang dan pelaut. Sepanjang abad, mereka mengumpulkan kekayaan besar dari perdagangan internasional. Marco Polo, pelancong Italia, yang mengunjungi Kepulauan Hormuz berkata, "Apabila dunia adalah cincin, maka Hormuz merupakan permatanya." Tapi menurut Syarifuddin, Direktur P3I, peluang Teluk belum banyak dilirik pengusaha Indonesia. Indonesia baru memanfaatkan pangsa pasar UAE sebesar 1,38 persen, sementara Jepang berhasil merebut pangsa pasarnya 17,45 persen. Tak semua penduduk UEA pedagang atau pelayar. Sejak pembangunan Teluk berkembang pesat dan mengundang banyak pendatang, di kota Abu Dhabi, Dubai, atau Sharjah muncul kebutuhan akan rumah-rumah sewa. Peluang ini dimanfaatkan oleh pemerintah, untuk memberikan penawaran kepada penduduk asli yang tunakerja, untuk memperoleh sebidang tanah berikut modal pembangunan rumah-rumah susun. Gedung-gedung bertingkat di kota hampir semuanya rumah susun ber-AC. Bagian dasar gedung itu pertokoan. Lantai satu dipergunakan untuk perkantoran. Sedangkan lantai tiga ke atas untuk rumah sewa. Gedung dimiliki oleh penduduk asli yang menerima tawaran modal dari bank, tanpa modal satu sen pun. Selama lima tahun, sebelum pinjaman bank lunas, pengelolaan gedung berada di bawah pengawasan bank. Penduduk asli lalu meninggalkan padang pasir untuk memenuhi tawaran tersebut. Kini mereka hidup berlimpahan. Hampir seluruh keperluan mereka dicukupi negara. Perumahan, pendidikan, dan kesehatan gratis. "Alhamdulillah, saya bisa menikmati fasilitas itu," kata Syakib Jakfar Thalib, lelaki asal Surabaya yang telah menjadi warga negara UEA sejak 1977. "Saya mendapatkannya ketika ada bukaan," kata ayah tiga anak yang berusia 45 tahun itu. Sebenarnya ia anak seorang kaya. Tapi teman-temannya sering mengejek, "Kamu bisanya nyombong, tapi tak bisa kerja." Begitu lulus dari SMA, ia langsung memutuskan diri mencari kerja. Pada tahun 1970-an ia masih bekerja menjadi semacam pembantu jemaah haji di Mekah. Kini lain. Ia sudah menikmati hidup. Warga negara asing tidak memperoleh perumahan maupun pendidikan gratis. "Benar-benar saya merasa diperas," kata seorang pendatang asal Indonesia. Untuk sewa rumah saja, ia harus membayar 10 juta rupiah setahun. Belum lagi biaya pendidikan, yang SPP-nya melangit. AT

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836507654



Selingan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.