Ekonomi dan Bisnis 8/12

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ke timur, ke vietnam

Sidang dewan pimpinan imf "interim committee" di washington,d.c. perbandingan pemegang saham mulai berubah, tapi as masih terbesar. jepang diakui sebagai kreditur terbesar.cadangan imf akan ditambah

i
NEGARA pengutang terbesar saat ini adalah Amerika Serikat. Namun, suara AS di Dana Moneter Internasional (IMF) -- ini adalah lembaga internasional paling berwibawa dalam perbicaraan utang negara berkembang -- ternyata belum tergoyahkan. Itu terlihat dalam sidang dewan pimpinan IMF yang disebut Interim Committee, di Washington pekan silam. Dalam sidang 7-8 Mei, Jepang diakui sebagai kreditur terbesar. Dan posisinya naik dari nomor 5 ke nomor 2. Maka, ada analis menduga, Jepang tak lagi akan ditekan AS agar membuka pintu dan merangsang masyarakat Jepang royal berbelanja keluar. Sebaliknya, Jepang akan didorong agar terus menabung dan membantu negara yang lagi sulit. Namun, saham IMF yang diberikan kepada Jepang baru 6%, sama dengan saham Jerman Barat. Artinya, kedua negara itu sama-sama menduduki urutan ke-2 di IMF. Dalam restrukturisasi itu, akhirnya Inggris yang memegang 6% saham IMF, bersedia "meminjamkan" 0,5% sahamnya kepada Prancis. Hingga keduanya memegang 5,5% saham dan menduduki kursi sederajat di urutan ke-3. Toh suara terbesar (20%) masih di tangan AS. Group 24 -- kelompok 24 negara berkembang yang saat ini dipimpin Gubernur Bank Sentral Iran -- kabarnya ingin mengurangi kuota suara AS. Sebelum sidang, G-24 telah melobi negara industri agar anggaran dasar yang menentukan kuota suara diubah. Menkeu Prancis Pierre Beregevoy rupanya setuju dan mengusulkan jalan kompromi kepada AS: amendemen kuota suara ditunda sampai 1993. Gerakan itu rupanya ditanggapi Menkeu AS Nicholas F. Brady dengan menyentil kelemahan negara berkembang. Dalam pidato pembukaan, Brady menegaskan, dewan pimpinan IMF perlu menjatuhkan sanksi kepada para penunggak utang. Entah disengaja atau kebetulan, sebelum sidang para peserta menerima suatu laporan dari Institute of International Finance, yang menyatakan betapa sejumlah negara berkembang telah mengemplang pembayaran bunga pinjaman kepada bank kreditur mereka sekitar US$ 18,2 milyar. Sementara itu, jumlah tunggakan mereka pada IMF "cuma" sekitar US$ 4 milyar. Bank komersial AS kabarnya telah meminta IMF menunda program bantuan, sebelum pemerintah yang meminta penjadwalan kembali utang memenuhi persyaratan ketat perbankan. Namun, sikap bank-bank itu ditolak Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus. "Obat paling mujarab ialah program yang sehat, kuat, dan komprehensif yang dibikin IMF," kata Camdessus. "Penundaan penyelesaian masalah tunggakan, jauh lebih buruk dan berbahaya bagi semua pihak, khususnya masyarakat perbankan sendiri." Bank-bank AS, yang kreditnya di Amerika Latin serba macet, agaknya perlu mendukung Pemerintah AS untuk meminta tambahan dana pada Kongres untuk memenuhi kuota di IMF. Karena AS mempertahankan suara mayoritas di IMF, konsekuensinya ia harus membayar paling besar di IMF. Padahal, pemerintahan George Bush masih menghadapi defisit anggaran belanja dan defisit perdagangan internasional. Kebetulan sidang dewan pimpinan IMF yang diketuai Menteri Keuangan Kanada Michel Wilson memutuskan, cadangan IMF perlu ditambah 50% dari US$ 120 milyar ke US$ 180 milyar. Keputusan itu diambil karena IMF merasa perlu membantu Blok Timur, termasuk Vietnam, yang kini mulai mengarah kepada ekonomi pasar. Kendati dihambat partai politik AS, suatu tim dari IMF yang dipimpin Prancis kabarnya tengah berusaha membantu Vietnam. Namun, bantuan IMF, yang umumuya cuma tiga tahun, biasanya diikuti syarat ketat. Antara lain pemerintah yang bersangkutan harus mengetatkan anggarannya, kalau perlu menjual aset BUMN, devaluasi, dan menaikkan suku bunga perbankan di dalam negeri. Bantuan ekonomi berjangka lebih panjang diharapkan dari pemerintah negara maju, lembaga keuangan seperti Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, berikut para pelaku ekonomi dari kalangan pengusaha. Jerman Barat agaknya akan lebih berkonsentrasi membantu Jerman Timur, sementara Jepang, yang lebih berkonsentrasi pada tetangganya di Asia, diharapkan juga akan membantu Blok Timur. Dan Indonesia, seperti dikemukakan Menkeu Sumarlin akhir pekan lalu, memuji keputusan IMF itu. Yusril Djalinus (Washington)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836345950



Ekonomi dan Bisnis 8/12

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.