Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Membaca Imagologi Orang Cina dalam Sastra Kolonial

LEWAT buku Bukan Takdir, Widjajanti W. Dharmowijono membongkar penyebaran stereotipe negatif tentang orang Cina di Nusantara yang telah mengakar selama ratusan tahun. Dia menelisik sekitar 200 karya sastra yang ditulis pada 1880-1950. Citra seperti kasar, rakus, dan penjilat dilekatkan para penulis sastra Eropa di Hindia Belanda terhadap tokoh-tokoh Cina dalam cerita mereka. Citra yang menyulut sejumlah peristiwa berdarah yang menelan korban tak berdosa.

i Pekerja Tionghoa menyortir tembakau di salah satu perkebunan tembakau di daerah Deli Serdang, Sumatera, pada 1890. KITLV
Pekerja Tionghoa menyortir tembakau di salah satu perkebunan tembakau di daerah Deli Serdang, Sumatera, pada 1890. KITLV

SEGERA setelah menginjakkan kaki di Sumatera, Hans Tongka, pemuda Jerman berusia 20 tahun dan tokoh utama sebuah novel, dikenalkan kepada dua macam kuli Cina di perkebunan: bad stinker dan good stinker. Menurut pencerita dalam novel itu, stinker adalah sebutan bagi kuli Cina yang fisiknya telah lemah karena penyakit atau candu, tapi tetap dipekerjakan untuk tugas-tugas yang tak begitu berat. Pengisi strata terbawah pekerja perkebunan itu disebut

...

Reporter Moyang Kasih Dewi Merdeka - profile - https://majalah.tempo.co/profile/moyang-kasih-dewi-merdeka?moyang-kasih-dewi-merdeka=162760833134


Sastra Masyarakat Tionghoa

Selingan 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.