Kiprah Sapardi Djoko Damono Muda: Dari Solo Berlabuh di Horison - Selingan - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Selingan 5/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dari Pinangan ke Horison

Catatan tentang Sapardi Djoko Damono di Solo ini ditulis sepenuhnya berdasarkan ingatan. Pada pertengahan 1960-an, sebelum dan sesudah peristiwa 30 September 1965, beberapa seniman Solo suka berkumpul, dan dalam kumpul-kumpul itulah pertama kali saya bertemu dengan Mas Djoko—semua temannya memanggilnya demikian, tapi tanpa “Mas”. Mereka berusia akhir 20-an tahun. Saya, siswa kelas satu sekolah menengah atas, ikut hadir karena merupakan anggota Lingkaran Seni Muslim Surakarta yang dididirikan salah seorang dari mereka, yaitu Budiman S. Hartoyo, penyair dan wartawan. Kegiatan Lingkaran antara lain mengadakan latihan melukis.

i Sapardi Djoko Damono (kiri) diwawancarai Bambang Bujono di rumahnya, Depok, Jawa Barat, 1987. TEMPO/Gatot Sri Widodo
Sapardi Djoko Damono (kiri) diwawancarai Bambang Bujono di rumahnya, Depok, Jawa Barat, 1987. TEMPO/Gatot Sri Widodo
  • Sebagai penyair, Sapardi pernah diundang untuk berbicara tentang pameran lukisan. .
  • Sapardi suka bercerita tentang sahabatnya, Jeihan, yang menurutnya hafal sama sekali anatomi tubuh manusia.
  • Pengalaman menerbitkan kumpulan puisi Goenawan Mohamad, .

MENDADAK saya teringat pementasan drama Pinangan karya Anton Chekov, di Solo, Jawa Tengah, di tahun 1968 kalau tak salah, di bulan ketika hujan kadang-kadang turun. Sapardi Djoko Damono memerankan orang tua gadis yang akan dipinang. Di panggung di Gedung Perkumpulan Masyarakat Surakarta, tempat Pinangan dipentaskan, Sapardi dirias menjadi tua, berambut kelabu. Ia mengenakan jas, bertopi, dan menggunakan tongkat—persis seperti Sapardi belakangan, lebih dari 50 tahun kemudian, beberapa bulan sebelum ia berangkat untuk tak kembali, Ahad pagi, 19 Juli lalu.

Waktu itu, Sapardi sudah berkeluarga, sudah pula dikaruniai seorang anak, dan sudah pindah mengajar di Universitas Diponegoro, Semarang, dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang cabang Madiun, Jawa Timur. Seperti ketika masih mengajar di Madiun, ia ulang-alik Solo-Semarang karena anak dan istrinya masih tinggal di Solo, di rumah orang tua Sapardi.

Itulah pertemuan kedua saya dengan Sapardi dalam suatu acara kesenian. Yang pertama beberapa bulan sebelumnya, masih di tahun yang sama, dalam suatu diskusi seni lukis di tenda di halaman sebuah hotel di utara Alun-alun Utara (hotel ini sudah tak ada). Dua pembicara tampil, Sapardi dan Darmanto Jt., penyair yang juga mengajar di Universitas Diponegoro. Peserta pameran adalah mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta, terutama yang asal Solo. Seingat saya, kedua pembicara “hanya” mendeskripsikan beberapa lukisan, dan kemudian memberikan penilaian yang terbaik dan seterusnya. Saya tak ingat lagi siapa yang meminta kedua penyair itu berbicara tentang pameran lukisan.


Selain pada dua pertemuan tersebut, selebihnya saya kadang-kadang bertemu dengan Sapardi—yang kadang-kadang muncul—dalam kumpul-kumpul beberapa seniman Solo, antara lain Budiman S. Hartoyo, Mochtar Hadi (sutradara Pinangan, masih kuliah di Yogya dan menjadi anggota kelompok teater W.S. Rendra yang kemudian dinamai Bengkel Teater), serta Sutarno Priyomarsono (juragan batik yang suka menulis cerita pendek). Kumpul-kumpul di petang hari ini sekadar mengobrol ini dan itu, makan di warung gorengan, sesekali nonton bioskop.

Pada suatu pertemuan, di rumah seorang pelukis di daerah Margoyudan, di tengah semua masih “ha-ha-hi-hi”, Mas Djoko mengajak saya pulang, setelah tahu saya tinggal di Ngemplak. Dari Margoyudan ke rumah Mas Djoko di Komplang, jalan terdekat lewat Ngemplak. Saya tak ingat mengapa saya mau diajak pulang. Kami pun bersepeda menuju utara. Sampai di gang rumah saya, saya belok, eh, Mas Djoko ikut. Ingin tahu rumah saya, katanya. Sesampai di depan rumah, ia langsung pulang, setelah bilang, kira-kira: "Lho, di sini to, lha saya dulu suka ke sini, teman saya SMA kos di sini, Ngaeni.” Saya terperangah. Ngaeni kakak sepupu saya, indekos di rumah saya karena orang tuanya tinggal di daerah Sragen.

Dan pada suatu sore muncul Mas Djoko di rumah, membawa koran Sinar Harapan. Ini tulisan bagus, katanya, sambil menunjukkan artikel tentang kritik seni rupa, tulisan saya. Saat itulah saya merasa perlu terus menulis—selain mendapat honorarium, saya merasa bangga nama saya ada di harian nasional.

Lalu saya sering ke rumah Mas Djoko, untuk mengetik—saya tak punya mesin tulis, biasanya saya mengetik di tempat latihan melukis, meminjam mesin tulis milik organisasi. Dan di rumah Sapardi, rumah orang tuanya, serasa di rumah sendiri. Bahkan ketika Mas Djoko mengajar di Semarang, istrinya yang sudah tahu saya hendak meminjam mesin tulis tak bertanya macam-macam, langsung saja mengambilkan mesin tulis untuk ditaruh di meja tamu.

Di rumah itulah, suatu hari, 1969, ia memberikan buku tipis kumpulan pusinya, DukaMu Abadi. Ia baru pulang dari Jakarta, diundang Dewan Kesenian Jakarta, untuk sebuah diskusi tentang puisi Indonesia. Sehabis diskusi, katanya, seseorang mendekatinya dan menyerahkan setumpuk buku tersebut sambil bilang, “Ini titipan dari Jeihan.” Pembawa titipan itu Sanento Yuliman, dosen seni rupa di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung. Jeihan sobat Sapardi sejak SMA di Solo. Mas Djoko memang suka bercerita tentang Jeihan, yang, katanya, hafal sepenuhnya anatomi tubuh manusia. “Jeihan itu kalau menggambar orang sambil merem pun anatominya benar.” Kata-kata ini sering terlontar bila kami berbicara tentang lukisan. Kemasan buku itu digarap sendiri oleh Jeihan, termasuk gambar kover dan gambar-gambar di halaman dalam. “Sapardi, sesuai dengan janjiku, bukumu kuterbitkan kini, semoga bermanfaat adanya,” demikian tertulis di halaman sesudah kover DukaMu Abadi.

Persahabatan kami di Solo terhenti setelah Mas Djoko sekeluarga pindah ke Semarang, dan kemudian ia belajar di Honolulu, Amerika Serikat, sekitar dua tahun, awal 1970-an. Dua surat saya terima dari Honolulu, dalam bahasa Indonesia, menceritakan seputar perjalanan dengan pesawat yang “besarnya selapangan bola”. Surat kedua bercerita tentang sastrawan Budi Darma yang juga ada di Honolulu waktu itu, dan galeri atau museum seni rupa di Honolulu. Sayang, saya tak tahu lagi di mana surat tersebut.

Singkat kata, nasib mempertemukan kami di Jakarta, 1973, di majalah sastra Horison. Mas Djoko menjadi redaktur penyelenggara, saya, waktu itu sudah di Jakarta, bermaksud mencari pekerjaan, diajak Hamsad Rangkuti (kemudian dikenal sebagai penulis cerita pendek) menjadi pembantu redaksi bersama dia. Pekerjaan saya mengurusi pencetakan majalah. Seperti ada yang mengatur, waktu itu yang mengurusi majalah sudah beberapa lama mangkir karena sibuk ikut membikin film, Djufri Tanissan. Itu menyebabkan majalah terlambat terbit, dan Hamsad kewalahan kalau harus juga mengurusi pencetakan majalah.

Kumpulan buku puisi yang beberapa di antaranya karya Sapardi Djoko Damono. Koleksi Bambang Bujono

Di Horison ini saya makin menyadari bahwa sebagian besar pemikiran Mas Djoko adalah tentang sastra, terutama puisi. Dia baru mulai bekerja di Horison pada Mei 1973. Sekitar enam bulan kemudian ia menerbitkan kumpulan puisi Goenawan Mohamad, Interlude, November 1973. Interlude diterbitkan Yayasan Indonesia—yayasan penerbit Horison. Namun ongkos produksi, cetak, dan lain-lain ditanggung sendiri oleh empunya kumpulan puisi.

Pengalaman menerbitkan Interlude mengilhami Sapardi mendirikan penerbitan—istilah sekarang indie—tanpa izin formal, tanpa modal, dengan biaya masing-masing yang terlibat. Penerbitan khusus puisi ini ia namai Puisi Indonesia. Buku pertama dan kedua merupakan kumpulan puisi Sapardi, Mata Pisau dan Akuarium.

Tenyata Puisi Indonesia diminati banyak penyair, walau harus mengongkosi sendiri penerbitannya—beberapa penyair beruntung mendapatkan sponsor. Seingat saya, biaya produksi Interlude Rp 25 ribu. Ini termahal, karena kemasan kumpulan puisi itu berjaket. Sesudah itu, ongkos produksi kumpulan puisi terbitan Puisi Indonesia di bawah Rp 25 ribu

Penerbitan ketiga Puisi Indonesia adalah Bangsat!, kumpulan puisi Darmanto Jt. Kemudian terbit kumpulan puisi, antara lain, Iwan Fridolin, Korrie Layun Rampan, Adri Darmadji Woko, dan Emha Ainun Nadjib. Lalu Eka Budianta dua kali menerbitkan kumpulan puisinya lewat Puisi Indonesia: Ada, terbitan keempat belas Puisi Indonesia, 1976; dan Rel, terbitan kedelapan belas Puisi Indonesia, 1978.

Waktu itu, pembuat gambar di kulit muka mendapat honorarium, mengikuti penerbitan Interlude, yang kovernya dibuat oleh Danarto. Kover terbitan pertama Puisi Indonesia, Mata Pisau, dibuat oleh Rudjito, sementara yang kedua, Akuarium, oleh Danarto. Tiap penyair bebas memilih pembuat kovernya, atas tanggungan mereka sendiri.

Hingga 1978, sudah 19 kumpulan puisi diterbitkan oleh Puisi Indonesia. Kumpulan puisi ke-19 karya Mira Sato, Bayi Mati, yang gambar kovernya dibuat oleh Danarto. Puisi Indonesia memanfaatkan vinyet-vinyet yang pernah dimuat dalam Horison bila penyair ingin berhemat—setidaknya tak ada ongkos pembuatan klise—misalnya kumpulan puisi Korrie Layun Rampan, Sawan.

BAMBANG BUJONO, PENULIS
2020-08-11 14:11:44

Sapardi Djoko Damono Sastra

Selingan 5/6

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.