Sapardi Djoko Damono | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Sapardi Djoko Damono

  • Kata dan Pengalaman
    Selingan

    Kata dan Pengalaman

    Puisi Sapardi Djoko Damono kian lama kian peka akan bunyi, imaji, ide, gerak tubuh, dan emosi yang tiap kali beralih. Sajak-sajaknya selalu berkelok mendadak, membiarkan diri dicegat dengan frasa yang tak terduga.

  • Dari Pinangan ke Horison
    Selingan

    Dari Pinangan ke Horison

    Catatan tentang Sapardi Djoko Damono di Solo ini ditulis sepenuhnya berdasarkan ingatan. Pada pertengahan 1960-an, sebelum dan sesudah peristiwa 30 September 1965, beberapa seniman Solo suka berkumpul, dan dalam kumpul-kumpul itulah pertama kali saya bertemu dengan Mas Djoko—semua temannya memanggilnya demikian, tapi tanpa “Mas”. Mereka berusia akhir 20-an tahun. Saya, siswa kelas satu sekolah menengah atas, ikut hadir karena merupakan anggota Lingkaran Seni Muslim Surakarta yang dididirikan salah seorang dari mereka, yaitu Budiman S. Hartoyo, penyair dan wartawan. Kegiatan Lingkaran antara lain mengadakan latihan melukis.

  • Album dari Sudut Koran Sore   
    Selingan

    Album dari Sudut Koran Sore  

    Sajak-sajak Sapardi Djoko Damono diterima semua kalangan antara lain karena musikalisasi yang kuat. Bermula dari proyek mahasiswa tiga dasawarsa lalu, puisi Sapardi dilagukan terus hingga hari ini.

  • Ia yang Tak Mengkhianati Puisi
    Selingan

    Ia yang Tak Mengkhianati Puisi

    PENYAIR tersohor Sapardi Djoko Damono mengembuskan napas terakhir pada Ahad, 19 Juli lalu. Sajak-sajak Sapardi menempati pencapaian estetis tersendiri dalam jagat puisi Indonesia. Seorang pengamat mengatakan sajak-sajak imajis Sapardi berdiri kokoh di tengah, tidak tergoda terlalu ekstrem ke kiri sebagai sajak protes serta bisa menahan diri tak melangkah terlalu eksperimental ke kanan.

    Seluruh hidup Sapardi didedikasikan kepada sastra. Ia pernah menjadi redaktur sastra majalah Horison, dan sampai akhir hayatnya menjadi akademikus sastra di kampus. Sapardi juga seorang penerjemah, dari novel sampai naskah drama, yang tangguh. Lingkup aktivitas sastranya demikian luas dan intens. Yang juga membedakan Sapardi dengan penyair lain adalah sajak-sajaknya diterima luas oleh publik. Musikalisasi sajak-sajak cintanya, misalnya, demikian populer, juga menyentuh secara bersahaja semua kalangan.

    Menjelang kematiannya pada umur 80 tahun, Sapardi masih terus berusaha memproduksi buku-buku sastra. Ia yakin penerbitan sastra diterima masyarakat kita.

  • Dua Begawan dalam Satu Bingkai
    Selingan

    Dua Begawan dalam Satu Bingkai

    Sapardi Djoko Damono berkiprah sebagai dosen, ilmuwan dan penerjemah, serta penggiat sastra. Tak pernah berhenti belajar dan mengikuti perkembangan pengetahuan.

  • Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.