Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Keniscayaan Bank Digital

Bunga kredit bank umum di Indonesia tertinggi se-Asia Tenggara. Bank digital bisa menurunkan bunga pinjaman.

i Keniscayaan Bank Digital
Keniscayaan Bank Digital

BANK digital bisa membuat bisnis perbankan jauh lebih efisien. Karena itu, pembuat kebijakan harus segera menerbitkan regulasi untuk menyokong perkembangan industri ini agar perekonomian pun makin efisien.

Suku bunga kredit perbankan di Indonesia memang lebih tinggi dari sejumlah negara di Asia Tenggara. Per September tahun lalu, rata-rata suku bunga kredit di Indonesia mencapai 9,3 persen. Pada periode yang sama, rata-rata suku bunga di Singapura hanya sebesar 3,65 persen dan di Thailand 5,41 persen. Tingginya bunga kredit di Tanah Air, antara lain, disebabkan oleh besarnya beban operasional perbankan.

Akibat biaya di bank lokal yang tinggi itu, korporasi mencari pendanaan murah dari luar negeri. Pelaku bisnis yang tidak punya akses pada pendanaan luar negeri mengerem rencana pengembangan usaha. Walhasil, perekonomian negara tak bisa melaju kencang. Perbankan tak jarang kelebihan likuiditas karena penyaluran kredit tidak optimal.


Di sinilah keunggulan bank digital. Bank ini bisa memangkas ongkos operasionalnya karena, antara lain, tidak memerlukan kantor cabang. Bank jenis ini juga tidak membutuhkan tenaga kerja sebanyak bank konvensional. Dengan begitu, mereka bisa memberikan bunga kredit yang lebih rendah.

161893988413

Margin bunga bersih yang rendah mengindikasikan sistem perbankan lebih efisien. Pada ujungnya bank menjadi lebih berfaedah bagi perekonomian secara keseluruhan. Bank yang efisien berpotensi menguasai pangsa pasar lebih besar.

Maka niat Bank Jago—sebelumnya Bank Artos—dan Bank BCA Digital, yang dulu bernama Bank Royal Indonesia sebelum diakuisisi BCA, untuk sepenuhnya bersalin menjadi bank digital perlu disambut dengan regulasi memadai. Otoritas Jasa Keuangan perlu segera menerbitkan aturan yang memudahkan pembentukan bank digital. Lembaga ini harus menjadi katalisator agar perbankan kita tak kian tertinggal dari tetangga. Singapura sudah mengeluarkan izin operasi untuk empat bank digital. Sedangkan Malaysia bersiap-siap mengeluarkan lisensi bagi lima bank. Di dua negara tersebut, bank digital diharapkan mulai beroperasi pada awal 2022.

Selama ini, OJK cenderung memberikan proteksi yang berlebihan kepada bank umum. Proteksi memang penting untuk memastikan kehati-hatian dan keamanan. Tapi proteksi yang lajak menyebabkan bank konvensional tersebut betah di zona nyaman. Bank-bank itu menikmati keuntungan dari margin bunga bersih yang tinggi, padahal mereka sebenarnya sedang menghambat laju perekonomian. Untuk meningkatkan efisiensi dalam perekonomian itulah bank digital perlu segera dibentuk.

Kehadiran bank digital jelas bakal meningkatkan persaingan. Bank konvensional dipaksa membuat inovasi agar bisa lebih efisien dan mampu terus bersaing. Pada gilirannya, masyarakat diuntungkan karena bisa menikmati bunga yang lebih rendah.

Perkembangan teknologi yang pesat; jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang lebih dari 60 juta; serta potensi kue ekonomi digital yang tinggi—menurut riset Google dan Temasek 2019 mencapai US$ 40 miliar—semestinya membuat OJK tak menunda-nunda pembentukan infrastruktur bank digital. Seyogianya OJK, juga pemerintah, tak kolot menyikapi perkembangan sektor ini. Sebab, mereka yang melawan perubahan bakal terlindas zaman.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161893988413


Perbankan

Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.