Internasional 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Peretas dari Saint Petersburg

Orang mendadak beramai-ramai pindah ke Telegram, aplikasi pesan yang menjamin keamanan pengguna. Siapa Pavel Durov, pemuda Rusia yang menciptakannya?

i CEO Telegram, Pavel Durov (kanan pakaian hitam), sebelum melakukan pertemuan tertutup di KEMENKOMFINO di Jakarta, Agustus 2017. TEMPO/Yovita Amalia
CEO Telegram, Pavel Durov (kanan), sebelum melakukan pertemuan tertutup di Kemenkominfo di Jakarta, Agustus 2017. Tempo/Yovita Amalia
  • Aplikasi Telegram menjadi pilihan wadah percakapan para demonstran, tokoh oposisi, dan aktivis. .
  • Popularitas Telegram melejit setelah WhatsApp mengumumkan pembaruan kebijakan privasi.
  • Pendiri Telegram, Pavel Durov, menjamin keamanan privasi penggunanya. .

JUMLAH pengunduh aplikasi pesan terenkripsi Telegram mendadak melesat. Dalam tempo 72 jam sejak 11 Januari lalu, lebih dari 25 juta pengguna baru dari seluruh dunia memasang Telegram di gawai mereka. Jumlah pemakai aktifnya pun menembus angka 500 juta. “Kami pernah mengalami lonjakan unduhan sepanjang tujuh tahun untuk melindungi privasi pengguna, tapi kali ini sangat berbeda,” ujar Pavel Durov, pendiri Telegram, di kanal pribadinya di aplikasi tersebut.

Hal ini terjadi sejak aplikasi pesan terpopuler WhatsApp mengumumkan rencana perubahan kebijakan privasi dan integrasi data dengan Facebook, perusahaan induknya. Muncul pandangan bahwa perubahan itu akan mengganggu privasi pengguna sehingga orang berbondong-bondong pindah ke platform lain, terutama Telegram.

Dalam siaran pers yang diterima Tempo, WhatsApp ID menyatakan pembaruan itu tidak mempengaruhi privasi pesan pribadi pengguna, tapi berhubungan dengan cara berkirim pesan ke bisnis, yang bersifat pilihan. “Kami tidak dapat melihat pesan privat atau mendengarkan panggilan Anda, begitu juga Facebook,” kata mereka. Namun popularitas Telegram telanjur meroket.


Telegram diciptakan oleh Pavel Valerievich Durov. Pemuda kelahiran Saint Petersburg, Rusia, 10 Oktober 1984, itu dibesarkan di Italia. Ayahnya, Valery Semenovich Durov, adalah ahli filologi yang memimpin departemen filologi Saint Petersburg State University. Pavel mahir dalam pemrograman komputer sejak remaja, tapi ia mengikuti jejak ayahnya mempelajari filologi di kampus itu.

162038405435

Menurut The Moscow Times, Pavel sering memanfaatkan kemampuannya dalam pemrograman untuk meretas jaringan komputer sekolah. Dia pernah iseng memasang foto gurunya di layar komputer yang membuat sekolah memutus aksesnya ke jaringan Internet. Toh, ia selalu berhasil memecahkan setiap kata kunci baru yang dipasang sekolahnya.

Ilustrasi penggunaan aplikasi telegram. Reuters/Dado Ruvic

Kesenangannya akan pemrograman membuatnya dekat dengan kakaknya, Nikolai Durov, yang berusia empat tahun lebih tua. Nikolai juga mahir dalam pemrograman dan pernah menjuarai Olimpiade pemrograman internasional. Pada 2005, saat berusia 25 tahun, Nikolai meraih gelar doktor matematika dari Saint Petersburg State University. Dua tahun kemudian, dia mendapatkan gelar doktor matematika dari Bonn University, Jerman. “Dia jenius di bidang komputer,” tutur Anton Nossik, pebisnis yang sudah belasan tahun mengenal Durov bersaudara.

Di kampus, Pavel membangun sebuah perpustakaan online agar teman-temannya dapat berbagi catatan kuliah dan buku. Forum daring itu menjadi popular di seantero kampus dan mendorong Pavel mengembangkannya menjadi jaringan sosial mahasiswa. Nikolai membantunya dari Jerman.

Pada awal 2006, surat kabar Delovoy Peterburg menulis tentang forum kampus itu. Vyacheslav Mirilashvili, bekas teman sekolah Pavel yang bermukim di Amerika Serikat, kebetulan membacanya dan melihat proyek Pavel berpotensi menjadi seperti Facebook, media sosial yang baru dikembangkan Mark Zuckerberg di Harvard University.

Ayah Vyacheslav lalu membantu mendanai proyek Pavel dan, pada November 2006, VKontakte diluncurkan. Hingga akhir 2007, platform itu telah memiliki 3 juta pengguna. Seperti Facebook, pada mulanya media itu cuma untuk mahasiswa, tapi kemudian terbuka bagi umum.

Popularitas VKontakte melesat ketika pecah unjuk rasa besar pada Desember 2011. Saat itu masyarakat memprotes dugaan kecurangan dalam pemilihan umum parlemen yang dikuasai kubu Presiden Vladimir Putin. Mereka menyalurkan protesnya di LiveJournal, media blog terpopuler di negeri itu. Namun platform itu diserang peretas hingga lumpuh.

Serangan juga terjadi terhadap 14 media Rusia, termasuk stasiun radio Echo Moskvy, koran Kommersant, dan situs berita Slon.ru. Bahkan situs Golos, lembaga pemantau pemilihan umum independen satu-satunya di negeri itu, juga menjadi sasaran. Pelakunya tak diketahui. Pemerintah pun tak menyelidikinya.

Menurut Andrei Soldatov dan Irina Borogan dalam The Red Web: The Struggle between Russia’s Digital Dictators and the New Online Revolutionaries (2015), masyarakat kemudian beramai-ramai pindah ke media sosial lain: Facebook dan VKontakte. Namun Facebook lebih populer. Saat terjadi unjuk rasa besar di Lapangan Bolotnaya, Moskow, pada 10 Desember 2011, Facebook mendapat 35 ribu pengguna baru, sementara VKontakte cuma 16 ribu. Namun hal ini membuat nama VKontakte sebagai media sosial lokal menjadi terkenal meskipun nama Pavel Durov belum tenar di kalangan aktivis.

Tiga hari sebelum demonstrasi di Bolotnaya, Alexey Navalny, narablog antikorupsi terkenal di Negeri Beruang Merah, membentuk grup percakapan di VKontakte bagi para pemrotes. Edward Kot, moderator grup itu, menemukan bahwa grupnya diblokir. Ketika dia melapor ke VKontakte, Pavel, yang baru berusia 27 tahun, menjelaskan bahwa grup itu sudah melewati batas jumlah tulisan dalam sehari, tapi tim teknis sedang mencoba mengubah algoritmanya. Dua puluh menit kemudian, blokir dicabut.

Kot sangat terkesan dan menuliskan ucapan terima kasih kepada Pavel. “Sama-sama. Dalam beberapa hari terakhir, Dinas Keamanan Federal (FSB), lembaga intelijen Rusia pengganti KGB, meminta saya memblokir grup-grup pemrotes, termasuk kepunyaan Anda. Tidak kami penuhi. Saya tidak tahu bagaimana ini semua akan berakhir bagi kita, tapi kami sudah siap dan melangkah,” kata Pavel.

Kot meminta izin agar jawaban itu bisa ditulis di LiveJournal. Pavel mengiyakan. Esoknya, Pavel mengunggah pindaian surat FSB yang berisi permintaan kepala FSB cabang Saint Petersburg agar VKontakte memblokir tujuh grup pemrotes. Kantor kejaksaan kota itu kemudian memanggil Pavel, tapi pemuda tersebut menolak datang.

VKontakte pun menjadi populer dan Pavel menangguk untung besar. Pada 2012, dia dan beberapa karyawannya sampai iseng melempar ribuan lembaran uang yang dilipat menjadi pesawat terbang dari jendela kantornya di Saint Petersburg. Nilainya mencapai 100 ribu rubel atau sekitar Rp 18 juta. VKontakte kini memiliki lebih dari 400 juta pengguna.

Pemerintah kemudian tampaknya terus menekan Pavel. Pada 2014, Pavel menjual semua 12 persen sahamnya di VKontakte kepada Ivan Tavrin, CEO MegaFon, salah satu perusahaan telekomunikasi besar negeri itu. Dia lalu mundur dari dewan direksi VKontakte menyusul sengketanya dengan pemerintah, yang meminta dia mengeblok laman tokoh oposisi Alexei Navalny dan para pendukungnya. “Saya tak tahu mengapa menolak menutup laman-laman itu. Yang jelas, sesuatu dalam diriku ikut menolaknya,” ucap Pavel kepada Nikolai Kononov, pengarang buku The Durov Code.

Pavel lalu keluar dari Rusia bersama Nikolai dan mengembangkan proyek rahasia di New York, Amerika Serikat. Kapasitas server untuk proyek itu sanggup menampung sepertiga lalu lintas data VKontakte. Durov bersaudara juga memboyong tim programmer kepercayaan mereka di VKontakte ke markas baru di Amerika.

Proyek itu adalah Telegram. Aplikasi pesan terenkripsi itu pun tumbuh cepat dan cocok untuk mengorganisasi aksi massa dan kelompok rahasia. Telegram banyak digunakan aktivis dan demonstran penentang rezim otoriter, yang biasanya mengontrol jalur komunikasi. Aplikasi ini tercatat menjadi tulang punggung gerakan prodemokrasi di Belarus, Thailand, Hong Kong, juga Iran. Namun fitur keamanan ini pula yang membuat Telegram menjadi pilihan kelompok teroris dan pelaku kriminal.

Demi keamanan, Pavel menggunakan tiga telepon seluler bergantian. Kantornya pun berpindah dari hotel ke hotel. Meski hidup dalam pengasingan, Pavel selalu tampil necis. Sementara Steve Jobs dikenal dengan baju turtle neck, Pavel selalu tampil dengan setelan serba hitam.

Pavel kini terdaftar sebagai warga negara Saint Kitts and Nevis, negara kecil di Kepulauan Karibia, setelah memberikan sumbangan US$ 250 ribu ke Yayasan Diversifikasi Industri Gula di negeri itu. Dia kini diperkirakan memiliki kekayaan sekitar US$ 3,4 miliar. Pavel dilaporkan memiliki tempat tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab, tapi sering bepergian ke sejumlah negara. Di mana dia kini berada, tak ada yang tahu.

GABRIEL WAHYU TITIYOGA (THE VERGE, RADIO FREE EUROPE, FORBES, THE INDEPENDENT, CNET, THE WASHINGTON POST, REUTERS)

Reporter Gabriel Wahyu Titiyoga - profile - https://majalah.tempo.co/profile/gabriel-wahyu-titiyoga?gabriel-wahyu-titiyoga=162038405435


Kebebasan Berekspresi WhatsApp aplikasi telegram

Internasional 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.