Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Panggil Aku Sesuai Namaku

Jika patung Arjuna Wijaya merupakan simbol bahwa hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, dan para penegak hukum serta keadilan memeluk dan menjalankan amanah itu, bisa jadi demo-demo akan berkurang di kawasan tersebut.

i Panggil Aku Sesuai Namaku
Panggil Aku Sesuai Namaku

Shofa Muhammad*

DI kelas-kelas bahasa Indonesia, majas metonimia hampir selalu dicontohkan dengan merek yang disebut untuk mewakili nama sebuah benda. Merek yang sangat jamak dijadikan contoh majas metonimia adalah “ujung alat suntik” dan “hewan bertanduk ranting yang berlari kencang”. Padahal majas metonimia bukan hanya soal merek.

Dalam buku Diksi dan Gaya Bahasa, Gorys Keraf menyebutkan bahwa metonimia adalah suatu gaya bahasa yang mempergunakan kata untuk menyatakan suatu hal lain karena mempunyai pertalian yang sangat dekat. Dalam dunia pemasaran memang ada fakta bahwa beberapa produk tertentu memiliki merek yang sangat kuat, sehingga merek tersebut seolah-olah menjadi nama benda itu sendiri. Mungkin dari hal inilah merek hampir selalu menjadi contoh dalam majas metonimia.


Saat saya bekerja sebagai juru beli di sebuah laboratorium klinik, seorang perempuan pemasar reagen pernah berkata kepada saya, “Kolesterol saya tolong dibeli, Pak. Saya belum (capai) target.” Dan, ketika saya bekerja di bagian logistik sebuah penerbit buku di Solo, seorang supply chain manager pernah memerintahkan kepada saya dengan kalimat, “Pendidikan Agama Islam jangan dikirim dulu, gudang di kantor perwakilan Bandung masih penuh.” Tentu “kolesterol” dan “Pendidikan Agama Islam” bukan sebuah merek. Kedua kata tersebut memiliki pertalian yang dekat dengan reagen dan buku pelajaran sesuai dengan konteks pembicaraan kami waktu itu.

161894096117

Kata “kolesterol” berfungsi menerangkan “reagen” dan “Pendidikan Agama Islam” menjadi keterangan atas kata “buku”. Dari contoh-contoh tersebut, kata yang diambil sebagai majas metonimia selalu kata yang berperan sebagai M dalam frasa berpola DM. Namun tidak semua frasa berpola DM dapat diambil M-nya sebagai majas metonimia. Liwet tidak dapat mewakili nasi liwet. Dan kuda tak bisa mewakili (patung) Arjuna Wijaya berkuda. Namun, entah kenapa, patung Arjuna Wijaya yang terletak di persimpangan Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Medan Merdeka, Jakarta, justru lebih sering disebut sebagai patung kuda (nasib yang sama terjadi pada patung Diponegoro yang berdiri kokoh di gerbang Universitas Diponegoro, Semarang).

Bertahun-tahun kawasan patung Arjuna Wijaya menjadi saksi sejarah atas sejumlah demonstrasi yang terjadi di Ibu Kota. Guna mencegah para pedemo mendekat ke Istana Merdeka, petugas hampir selalu mempersilakan mereka menyampaikan aspirasi di kawasan patung Arjuna Wijaya. Namun tidak banyak reporter, wartawan, dan berita yang menyebut kawasan itu sebagai kawasan patung Arjuna Wijaya. Entah karena mereka terbiasa menyebut patung kuda atau malas menyebut patung Arjuna Wijaya karena secara pelafalan memang lebih panjang.

Sebagaimana yang disebutkan oleh sang perancang, Nyoman Nuarta, patung Arjuna Wijaya memiliki nilai filosofi tersendiri. Di Kompas.com, dia menyebutkan patung Arjuna Wijaya merupakan simbol bahwa hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Hal ini dilatarbelakangi salah satu cerita Bharatayudha ketika Arjuna bertempur melawan Adipati Karna, yang merupakan saudaranya sendiri, yang memihak Kurawa.

Jika patung Arjuna Wijaya merupakan simbol bahwa hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu, dan para penegak hukum serta keadilan memeluk dan menjalankan amanah itu, bisa jadi demo-demo akan berkurang di kawasan tersebut. Namun, sebaliknya, jika para penegak hukum dan keadilan abai terhadap simbol patung Arjuna Wijaya, bisa jadi kawasan tersebut akan lebih sibuk pada hari-hari ke depan.

Jadi alangkah baiknya jika kita konsisten menyebut kawasan tersebut sebagai kawasan patung Arjuna Wijaya, bukan patung kuda. Penyebutan patung kuda seolah-olah akan melenyapkan filosofi patung Arjuna Wijaya: hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.

Kuda memang salah satu hewan yang istimewa. Dalam bahasa Indonesia ada idiom kuda hitam, yang berkonotasi positif. Dalam bidang teknik, kita mengenal istilah daya kuda. Bahkan dalam kitab suci—bersama semut, gajah, lebah, dan sapi—kuda diabadikan menjadi nama surat. Namun, dalam konteks patung Arjuna Wijaya dan patung Pangeran Diponegoro, kuda adalah bagian dari keseluruhan patung Arjuna Wijaya dan Pangeran Diponegoro.

*PENULIS CERITA PENDEK, PENULIS BUKU MELUKIS WAJAH KORUPTOR

Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161894096117


kolom bahasa

Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.