Opini 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Di Balik Penggerebekan Pabrik Ekstasi

Polisi menggerebek pabrik ekstasi nomor tiga terbesar di dunia. Aneh, kalau instansi yang mengeluarkan izin pendirian pabrik tidak tahu.

i

Di balik keberhasilan polisi membongkar pabrik ekstasi di Serang, Banten, baru-baru ini, ada yang perlu kita risaukan. Munculnya pabrik pil gedek yang disebut-sebut terbesar ketiga di dunia itu—setelah pabrik serupa di Fiji dan Cina—menunjukkan amat rapuhnya instansi yang mengurusi perizinan pendirian pabrik. Dalam izinnya disebut pabrik pencelupan tekstil, kenapa tidak ada kontrol setelah pabrik beroperasi?

Pabrik ekstasi itu dibangun dengan modal yang tak sedikit. Benny Sudrajat, bos pabrik yang digerebek dua pekan lalu itu, mengaku menghabiskan Rp 3,2 miliar hanya untuk membeli lahan dan gudang. Biaya yang lebih besar diperlukan buat membeli mesin yang didatangkan dari Cina. Tapi investasi yang berisiko tinggi ini menjanjikan hasil yang menggiurkan. Dalam sehari diperkirakan pabrik itu mampu menghasilkan 142 ribu butir ekstasi atau senilai sekitar Rp 14,2 miliar.

Dibandingkan dengan pabrik ekstasi milik Ang Kim Soei yang digerebek pada 2002, pabrik Benny jauh lebih besar kapasitasnya. Pabrik Kim Soei hanya menghasilkan 122 ribu butir ekstasi sehari. Lagi pula, pabrik Benny tak cuma menghasilkan ekstasi, tapi juga sabu-sabu dan ketamin. Ketamin biasanya dipakai oleh para dokter hewan buat membius binatang, belakangan bahan ini disalahgunakan untuk membuat orang melayang mirip efek penggunaan ekstasi.


Modus mereka sama. Dulu Ang Kim Soei mendatangkan ahli ekstasi dari Belanda. Itu juga yang dilakukan oleh Hans Phillips, yang pabrik ekstasinya di Jasinga, Bogor, digerebek pada April lalu. Bahkan Kim Soei dan Hans melibatkan ahli yang sama, Jaap dari Belanda. Adapun Benny memiliki partner berbeda, Garnick Nicholas, sekalipun dari Belanda juga. Selain itu ia membawa lima orang ”utusan mafia” dari Hong Kong. Jadi, diperkirakan modal untuk mendirikan pabrik tersebut memang berasal dari luar negeri, seperti pengakuan Benny. Hasil produksinya pun sebagian diekspor, hal yang dulu juga dilakukan Ang Kim Soei.

161830852579

Investasi yang besar seperti itu mustahil dilakukan jika tidak ada beking dari kalangan aparat keamanan dan kemudahan dari instansi pemberi izin. Sudah menjadi rahasia umum, aparat kita gampang disogok dan mereka tidak terlalu peduli apakah pabrik yang didirikan memproduksi barang yang dilarang atau bukan. Nyatanya, dalam kasus Benny, diduga ada dua perwira polisi yang telah disuap dengan duit sekitar Rp 3 miliar.

Terbongkarnya pabrik Benny konon berkat informasi yang diberikan oleh Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat, beberapa bulan sebelumnya. Lembaga ini mengabarkan adanya pengiriman mesin ekstasi dari Cina ke Indonesia. Sejak itulah aparat kepolisian menguntitnya dan sengaja pabrik dibiarkan beroperasi dulu. Jika demikian yang terjadi, semestinya kepolisian dengan mudah bisa menjebak aparat serta pejabat yang diduga menjadi beking Benny atau paling tidak menerima suap darinya. Inilah yang sekarang perlu diungkap oleh Kapolri, lebih dari sekadar memeriksa dua perwira polisi yang diduga memperoleh suap.

Bagaimanapun, keberhasilan polisi membongkar pabrik ekstasi milik Benny patut dihargai. Hanya, upaya yang tak kalah penting adalah memastikan bahwa di kemudian hari, pendirian pabrik yang menyimpang dari peruntukan tak terjadi lagi. Itu sebabnya, pengawasan terhadap pendirian pabrik baru harus diperketat, dan pemerintah kabupaten serta kecamatan harus dilibatkan dalam hal ini.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161830852579



Opini 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.