Ateng, Nomor Contoh - Nasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Nasional 2/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ateng, Nomor Contoh

Jaksa NS dibebas tugaskan dari kejaksaan Tanggerang akibat tudingan memeras Ateng Djunaedi. Dalam kasus pemalsuan uang, Ateng diperlakukan sangat buruk di tahanan kejaksaan.

i
TERIAKAN Ateng Djunaedi -- "Jaksa pemeras, kembalikan uang saya" (TEMPO. 29 Januari) -- dan tudingan jarinya ke arah jaksa NS, jaksa penuntut umum dalam perkara uang palsu di Pengadilan Negeri Tangerang bulan lalu, didengar baik oleh Jaksa Agung. Tidak hanya jaksa NS saja yang kena tindak. Jaksa Agung Ali Said SH juga telah membebas-tugaskan R. Soeroto, Kepala Kejaksaan Negeri Tangerang, dari jabatannya. Perkara pemerasannya sendiri, seperti yang diteriakkan Ateng, sedang dalam pengusutan bagian Pengawasan Personil Kejagung. Mengapa Kejari Tangerang ini kena getahnya, sedang yang dituding si Ateng alias Teng Jun Teng itu cuma jaksa NS, Kepala Bagian II Kejari? "Karena ngomongnya itu", kata Kepala Humas Kejaksaan Agung, MA Tomasouw. Soeroto memang pernah menyatakan pujiannya atas sikap NS. Yakni kalau betul tuduhan Ateng, "saya malah memuji bawahan saya. Coba saja. Ia sudah menerima uang, tapi toh tetap menuntut hukuman yang tinggi". Bahkan Soeroto menegaskan, ia tidak melarang jaksa bawahannya menerima uang dari para tertuduh, "karena itu rezeki dia". Disebutnya rezeki. "karena pemberian itu tidak disertai kompensasi berupa penyalahgunaan jabatan". Jadi pemberian itu dianggapnya bukan penyuapan. Bahkan dengan cara begitu, "saya tidak membina penyuapan, tapi membuat jera si penyuap". Tentu sikap Soeroto yang memuji bawahannya begitu, tidak terpuji oleh Ali Said. "Memberantas penyuapan bukan begitu caranya", ujar Tomasouw. "Kalau pimpinannya sudah' berfikir begitu", lanjut Kepala Humas ini dengan kesal, "apalagi yang bisa diharapkan dari anak buahnya?" Ateng, yang telah dijatuhi hukuman penjara 9 tahun oleh pengadilan karena terbukti bersa]ah membawa uang palsu dari Hongkong dan mengedarkannya di Indonesia, menyatakan tidak menerima keputusan itu dan naik banding. Juga Hengki Natan, yang keterbuktiannya sama dengan Ateng dan dihukum 7 tahun penjara, naik banding. Hanya Faisal, yang cuma terbukti menyimpan uang palsu dan dihukum 2 tahun penjara, menyatakan setuju dengan putusan hakim. Dua yang naik banding, kini perkaranya dipegang oleh advokat-advokat yang tergabung dalam Mulya & Associates. Cerita dari para pengacara ini juga menarik. Haji Princen, salah seorang dari mereka, menyatakan bahwa kliennya telah diperlakukan sangat buruk selama di tempat tahanan kejaksaan. Begitu berita pemerasan tersiar, begitu kisah Princen, Ateng telah mengalami penganiayaan oleh oknum kejaksaan Tangerang. "Ia dipukuli, diborgol tangannya ke belakang selama 36 jam, tidak diberi makan dan harus berhajat kecil dan besar dalam sel", kata Princen. Tidak itu saja. Penyekapan Ateng oleh oknum kejaksaan itu hampir saja mengakibatkan hak banding Ateng hilang begitu saja. Karena tenggang waktu untuk banding, seminggu setelah putusan hakim, hampir saja dihabiskan Ateng hanya untuk menerima penganiayaan. "Sepuluh menit sebelum waktu bandingnya habis, baru kami dapat menandatangani pernyataan banding", kata Princen pula. Sambil menunggu putusan banding dari Pengadilan Tinggi, Ateng serta keluarganya diperiksa oleh Kejaksaan Agung untuk kasus pemerasan atas dirinya seperti yang ia teriakkan. Tinggal soalnya: adakah Ateng ini mampu membuktikan bahwa inisiatif pemberian uang kepada NS itu tidak datang dari fihaknya? Jika sebaliknya yang terjadi, bukan tidak mungkin ini perkara baru buat Ateng. Yaitu penyuapan -- yang melibatkan si penyuap dalam perkara, di samping juga si tersuap. Akhir dari kasus ini banyak ditunggu orang. Sebab jika Ateng berhasil, di belakang Ateng tentu banyak lagi orang yang akan mengadukan ihwal pemerasan yang mereka derita. Selama ini mereka enggan mengadu karena takut tak bisa membuktikan, malah-malah bisa dituduh menyuap aparat negara. Ayuh maju, Teng.
2020-06-01 10:30:54


Nasional 2/6

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.