Hotel: Antara Hampa Dan Hutang - Ekonomi dan Bisnis - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Ekonomi dan Bisnis 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Hotel: Antara Hampa Dan Hutang

Samudera Beach Hotel dan 8 hotel kelas menengah di Bali kosong tamu dan terancam ke bangkrutan. Izin membuat hotel baru belum tertutup. Hutang PT Hii mencapai $ 30 juta, harus segara dicicil.

i
MENTERI Perhubungan Emil Salim lagi memikirkan bagaimana caranya mengisi hotel Samudera Beach yang kosong tamu. Ada yang usul agar hotel mewah warisan zaman Bung Karno itu dijadikan kasino alias tempat judi. Tapi usul yang klasik itu tak dengan sendirinya akan mampu menarik kaum berduit berduyun-duyun ke sana. Selain letaknya terpencil di pantai Samudera Indonesia -- dan membutuhkan investasi baru - para penjudi tentunya merasa lebih aman untuk bertaruh di kasino Bina Ria, Ancol Jakarta. Pusing memikirkan nasib hotel itu, seorang rekannya datang dengan usul yang menurut Emil Salim "orisinil". Apa itu? "Kehampaan", jawab Emil mengutip usul sang rekan. Sembari tersenyum, kepada TEMPO pekan lalu Menteri Perhubungan mengatakan bahwa "hotel itu benar-benar terasa hampa kecuali selama akhir pekan". Barangkali terpengaruh oleh falsafah Zen Buddhism, rekannya itu percaya "kehampaan mungkin akan mampu menarik para wisatawan Barat yang ingin menjauhi berisiknya keramaian kota". Untuk mencari kehampaan begitu, orang tak usah melihat sejauh itu. Jumat pagi lalu, didampingi Dirjen Pariwisata Ignatius Prayogo, Menteri Emil juga menemui 'kehampaan' yang lain di Bali. Tak kurang dari 8 hotel kelas menengah di daerah Sanur, menderita kesepian tamu. Ke-8 hotel yang tergabung dalam Bali National Hotel Association (BNHA), sejak beberapa bulan lalu sudah menyatakan dirinya untuk "siap dijual" (TEMPO, 16 Oktober 1976). Kini ke-8 hotel itu sudah masuk Panitia Urusan Piutang Negara karena tak sanggup membayar hutangnya pada bank di daerah. Salah satu, yakni Mars Bungalow bahkan pernah diiklankan akan dilelang berikut harta kekayaannya yang lain. Meskipun pada saat pelelangan muncul pula iklan pembatalan lelang. Mirip seorang dokter bedah, Dirjen Prayogo untuk kesekian kalinya menguraikan asal-muasal bankrutnya hotel-hotel yang punya kapasitas di bawah 50 kamar itu. Pertama, mereka mau coba-coba menyaingi hotel besar seperti HBB, BSSC, Hyatt atau Sanur Beach. Kedua tak memperhitungkan perencanaan membangun. Mereka umumnya membangun hotelnya dengan kredit eksploitasi dari bank di daerah yang tinggi bunganya dan pendek jangka pengembaliannya. Juga "baru punya kamar 50 buah sudah membikin kolam renang", katanya. Ketiga, mereka tak pernah menggarap pasaran wisatawan domestik. Ucapan Prayogo itu tentu saja mendapat tanggapan dari pemilik hotel yang tergolong bangkrut. Lebih-lebih ketika sang Dirjen membanding-bandingkan yang bankrut itu dengan hotel sejenis yang tergolong 'maju' di pantai Sanur itu. "Prayogo belum menelusuri masalahnya lebih dalan", kata pemilik Gazebo Beach Cottage (30 kamar). Zumyahya, pemilik Gazebo yang selama Januari lalu cuma dihuni satu orang tamu, merasa keberatan dengan cara perbandingan yang gampangan begitu. Sekalipun hotel sejenis di Sanur seperti Alit's Bungalows, Segara Village dan Santrian Hotel tak sesepi kelompok BNHA, ada beberapa hal yang menurut Zumyahya membuat mereka masih bertahan: Hotel-hotel itu merupakan barang warisan, yang dikerjakan di antara famili di atas tanah milik sendiri. Selain investasi kamarnya tak memperhitungkan harga tanah, mereka memang tak memakai kredit eksploitasi yang disediakan bank di Bali waktu mau menyongsong pesta PATA 1974. Juga pegawainya kebanyakan masih famili, yang dibayar sesuai dengan arus tamu. Dan kalau perlu diliburkan tanpa mengundang protes. "Ini bukan bisnis", kata Zumyahya. Masalah sepinya hotel kelas menengah di Bali itu kini jadi pemikiran Menteri Emil Salim. Bahkan Menlu Adam Malik juga ikut sibuk memikirkan nasib malang kelompok BNHA, ketika menerima delegasi hotel-hotel yang bankrut itu 20 Januari lalu di Jakarta. Selain menjenguk hotel-hotel itu, pandangan Emil Salim dan Prayogo dengan sendirinya mengarah pada keadaan hotel-hotel besar di sana. Sebab, seperti diakui Dirut PT HII Letjen Suryo, baik Bali Beach Hotel (BBH) maupun Bali Sea Side Cottage (BSSC) terpaksa memasang tarif lebih rendah sejak beberapa waktu lalu. Sekalipun tarif resminya masih tinggi, dalam praktek hotel-hotel besar di Bali itu bisa dihuni dengan $ 15 sampai $ 18 semalam. Bahkan menurut Suryo, "ada hotel besar di Bali yang pernah menerima tarif 6 dollar per orang untuk grup turis", katanya. "Itupun sudah termasuk pajak dan makan pagi". Seorang pejabat yang berurusan dengan pariwisata menyatakan "perang tarif memang lebih dahsyat terjadi di Bali". Menurutnya, "pukul rata occupancy rate (tingkat pengisian kamar) hotel-hotel di Bali sekarang -- dari yang besar sampai yang kecil - tak melebihi 40%". Kalau benar begitu, maka biaya yang dikeluarkan tentu jauh lebih besar dari penghasilan yang masuk. Harapan timbulnya ledakan turis setelah konperensi PATA itu ternyata masih merupakan impian. Turis yang datang ke Indonesia memang bertambah banyak dari tahun ke tahun. Tapi selain keberatan membayar tarif yang tinggi, tak sedikit turis asing di Jakarta, Yogyakarta dan Bali yang merasa lebih betah tinggal di penginapan rakyat (home stay). Tarifnya letap bertahan antara Rp 300 sampai Rp 600 per kamar semalam. Anehnya, izin untuk membuat hotel baru, sampai sekarang kabarnya belum tertutup samasekali. Menurut catatan fihak Pariwisata, hotel-hotel di Jakarta selama tahun 1973 memiliki 3.500 kamar. Angka itu dalam bulan Desember 1975 meningkat keras hingga mencapai 8.000 kamar. Namun begitu, seorang pejabat Perhubungan merasa bingung juga ketika BKPM dalam bulan April 1976, kabarnya sudah menyetujui ditambahnya kamar-kamar hotel untuk Jakarta sebanyak 4.200 kamar. Kalau saja izin itu benar sudah diberikan, dan jadi dilaksanakan, maka Jakarta akan dibanjiri dengan 12.200 kamar hotel. Juga untuk luar Jakarta, izin masih saja bisa diperoleh bagi mereka yang ingin mendirikan hotel. Melihat tak sebandingnya arus tamu dengan jumlah kamar, kegemaran untuk berhotel-hotel itu mengundang kecurigaan juga. Apalagi, seperti kata Suryo, membangun sebuah hotel internasional di Indonesia tak selesai dalam setahun. "Kalau di Singapura atau Malaysia paling lama setahun, di sini tak ada satu hotelpun yang selesai dibangun dalam tiga tahun", katanya. Ia kemudian menunjuk pada pembangunan hotel Sari Pacific dan Hilton yang menelan lima tahun, "Sulitnya, begitu terjadi pematokan dan kredit sudah keluar dari bank, perhitungan pembayaran bunga sudah dimulai", tambah Suryo. Tapi rupanya ada hal lain yang terjadi di balik pendirian hotel itu. Selain menunggu banjir tamu - yang entah kapan terjadi - "tak semua kredit yang diperoleh dipergunakan untuk membuat hotel", kata seorang kalangan perbankan. Menurut sumber TEMPO itu, sudah sering terjadi sebagian dari kredit bank itu mereka depositokan dalam bank, atau digunakan ke dalam usaha lain yang dipandang bisa cepat memasukkan untung. Yang patut juga dipersoalkan adalah biaya yang dikeluarkan untuk membuat kamar hotel. Hotel Jakarta Hilton yang bertingkat 14 dengan 396 kamar, dibangun dengan biaya $ 6 juta. Dihitung dari jumlah kamarnya, hotel mewah yang dibangun oleh perusahaan Cementation Group dari Inggeris itu cukup mahal dibandingkan dengan biaya mtuk membangun hotel sejenis di luar negeri. Termasuk ruangan dan fasilitas lain dari hotel itu, sebuah sumber yang mengetahui memperkirakan biaya membangun sebuah kamar tak kurang dari $ 10.000 alias Rp 4 juta lebih. Hotel Sari Pacitic dengan 508 kamar semula diperkirakan akan menelan biaya $ 29,4 juta. Tapi kemudian ternyata membutuhkan tambahan pinjaman sebanyak $ 1,5 juta. Pembiayaan hotel-hotel mewah yang sebagian besar diperoleh dari konsortium bank luar negeri itu pada waktunya tentu harus dicicil berikut bunganya. Jika suatu ketika hotel-hotel yang merupakan kerjasama antara pemerintah dengan swasta asing mengalami kesulitan membayar hutang siapa lagi yang harus memikul beban hutang itu kalau bukan Bank Indonesia? Salahsatu yang kini memusingkan pemerintah adalah kesulitan yang dialami PT HII. Hutang PT itu pada Midland Bank sebanyak $ 30 juta kabarnya sudah harus dicicil sejak pertengahan Januari lalu. Tapi menurut Dirut PT HII bisa diundur sampai pertengahan Juli nanti. Pinjarnan dari Midland Bank itu terjadi sebelum PATA, untuk melakukan tambahan 778 kamar: 253 kamar untuk HI, 195 kamar untuk Ambarukmo dan 330 kamar untuk Bali Beach Hotel. Selain dari Midland, yang memberi pinjaman lewat cabangnya di longkong, ekspansi kelompok HII itu juga memperoleh kredit sebanyak Rp 3,8 milyar lebih dari Bank Bumi Daya (BBD) semasa pimpinan RAB Massie. Sedang uang yang digunakan dari dana PT itu sendiri kabarnya mencapai jumlah yang kurang lebih sama dengan yang dipinjam dari BBD. Entah akibat salah perhitungan, para tamu yang memenuhi kamar hotel HII ternyata jauh di bawah yang diharapkan. Kecuali untuk HI yang menurut Suryo memiliki occypancy rate sekitar 72%, sekalipun dengan tarif yang lebih rendah. Ekspansi HII yang ternyata "kedodoran" itu dengan sendirinya sangat mempengaruhi posisi keuangannya. Maka pinjaman pada bank luar dan dalam negeri itu, untuk sementara, tak mampu dibayar kembali. Dengan BBD yang baru saja mengalami penggantian pimpinan, konon sedang dicari jalan keluar begini: Membebankan tagihannya sebagai saham BBD dalam PT HII. Cara pengalihan yang demikian "merupakan suatu hal yang tak lazim terjadi", kata sebuah sumber TEMPO. Lazim atau tidak cara penyelesaian yang terjadi antara kedua usaha milik negara itu tentu tak bisa dilakukan dengan fihak asing. Kalau sampai bulan Juli nanti PT HII masih belum mampu mencicil hutang dan bunganya pada Midland Bank, bisa dipastikan BI bakal repot lagi.
2020-08-11 14:21:43


Ekonomi dan Bisnis 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.