Nasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tiket Kapal Nabi Nuh

Setelah mendampingi kliennya, Mindo Rosalina Manulang, diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi pada 27 April lalu, Kamarudin Simanjuntak menyeletuk. "Ternyata KPK bisa juga disuap, ya," katanya. Si penyidik kaget: "Kenapa Bapak bilang begitu?" Kamarudin kemudian menjelaskan pengalaman Rosa menyerahkan uang Rp 1 miliar kepada Ndoro Bei, pria yang mengaku dari KPK. "Itu penyuapan tahun 2010 untuk kasus alat kesehatan," Rosa menimpali.

Pada pemeriksaan berikutnya, Rosa dicecar penyidik soal proses penyerahan uang kepada Ndoro Bei, yang diketahui bernama lengkap Bayu Widodo Sugiarto. "Dia akan mengamankan posisi saya dari target operasi KPK," kata Rosa kepada penyidik, seperti tertera dalam dokumen pemeriksaan.

i

Setelah mendampingi kliennya, Mindo Rosalina Manulang, diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi pada 27 April lalu, Kamarudin Simanjuntak menyeletuk. "Ternyata KPK bisa juga disuap, ya," katanya. Si penyidik kaget: "Kenapa Bapak bilang begitu?" Kamarudin kemudian menjelaskan pengalaman Rosa menyerahkan uang Rp 1 miliar kepada Ndoro Bei, pria yang mengaku dari KPK. "Itu penyuapan tahun 2010 untuk kasus alat kesehatan," Rosa menimpali.

Pada pemeriksaan berikutnya, Rosa dicecar penyidik soal proses penyerahan uang kepada Ndoro Bei, yang diketahui bernama lengkap Bayu Widodo Sugiarto. "Dia akan mengamankan posisi saya dari target operasi KPK," kata Rosa kepada penyidik, seperti tertera dalam dokumen pemeriksaan.

Kepada Rosa, Ndoro Bei mengaku sebagai orang penting di lantai 8 gedung KPK—lantai tempat proses penyidikan dan penuntutan berlangsung. Ia menyampaikan kabar bahwa Rosa sudah menjadi incaran Komisi dalam kasus pengadaan alat kesehatan di sejumlah instansi di Sumatera Utara. Untuk meyakinkan kliennya, Ndoro mempersilakan Rosa menanyakan perihal dirinya kepada orang KPK. "Dia bilang butuh Rp 3 miliar untuk menolong saya," ujar Rosa.


Perkenalan Rosa dengan Ndoro Bei terjadi di sebuah tempat hiburan di lantai 9 FX Plasa, Senayan, pada April 2010. Ia diperkenalkan oleh Paul Nelwan, pengusaha yang kerap menggarap proyek di Kementerian Pemuda dan Olahraga. Kepada sejumlah wartawan, Paul mengakui perannya itu. Paul juga mengaku sebagai orang yang mengenalkan Rosa dengan Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Wafid Muharam.

161835586454

Seminggu setelah perkenalan itu, Ndoro Bei menagih dana operasi penyelamatan Rosa. Transaksi pembayaran berlangsung di Kafe Zhuma, lantai 2 FX Plasa. Hari pertama, Rosa menyetorkan Rp 500 juta melalui sopir. Kepada Ndoro, Rosa memberitahukan ciri sang sopir: berkulit hitam, berkumis, berbadan kurus, dan pendek. Ndoro mengutus wakil yang disebutnya mengenakan baju putih bertulisan Harley-Davidson, bertopi putih, dan memakai celana jins.

Keesokan harinya, transaksi yang sama kembali berlangsung. Rencana awal, penyerahan uang dilakukan di Starbucks yang ada di lantai 1 FX Plasa sekitar pukul 15.00. Belakangan, Rosa sempat minta penyerahan uang dilakukan di salah satu restoran di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, karena ia sibuk. Permintaan itu ditolak Ndoro Bei karena ia berada Cinere, Depok. Transaksi baru berlangsung pada senja hari.

Setelah penyerahan itu, Ndoro Bei kerap berhubungan dengan Rosa. Ndoro pernah memperingatkan Rosa agar berhati-hati menggunakan telepon seluler dan telepon rumah karena tidak steril. Kontak Ndoro dan Rosa berlangsung hingga akhir 2010. Pada Desember tahun lalu, Ndoro menawarkan "penyelamatan" yang sama kepada rekan-rekan Rosa. "Siapa saja yang bakal naik perahu Nabi Nuh dan yang beli tiketnya?" ujar Ndoro melalui pesan BlackBerry. Rosa membalas, "Semualah, se-RT."

Namun rencana penyelamatan dengan kapal Nabi Nuh tak pernah terjadi. Rosa keburu dicokok Komisi ketika mengantarkan suap kepada Wafid Muharam pada 21 April 2011. KPK membantah jika Ndoro Bei disebut sebagai penyidik atau pegawai lembaga itu. "Dia hanya mengaku-aku sebagai penyidik," kata Handoyo Sudrajat, Deputi Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat KPK.

Handoyo menjelaskan, setelah mendapat keterangan dari Rosa, Komisi berharap ada transaksi berikutnya supaya Ndoro Bei bisa ditangkap tangan. Namun upaya itu gagal karena Ndoro menghilang. KPK, kata Handoyo, belum melaporkan penipuan ini ke polisi karena masih melakukan identifikasi dan melengkapi profil Ndoro.

Kini tak ada yang tahu di mana Ndoro Bei berada. Kepada penyidik, Rosa hanya menyampaikan Ndoro memiliki tinggi badan 170 sentimeter, kulit putih, wajah bulat, alis mata tebal, hidung mancung, rambut cepak agak beruban, dan berkacamata. Usianya sekitar 48 tahun, merokok, berbicara dengan logat Jawa, berpenampilan selalu rapi, dan berwibawa.

Tito Sianipar


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835586454



Nasional 4/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.