Kartun 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

35 TAHUN LALU

KEJANGGALAN laporan neraca keuangan Badan Urusan Logistik (Bulog) itu tampak mencolok. Tak tanggung-tanggung. Ada selisih Rp 8 miliar yang raib di sana. Tim audit yang dibentuk pemerintah lantas menelisik laporan keuangan pengadaan beras di berbagai daerah. Mereka mencoba mengendus ke mana larinya fulus tak sedikit itu.

Dari sinilah kecurigaan lalu mengarah ke Budiadji, Kepala Dolog Kalimantan Timur. Selidik punya selidik, si pejabat ternyata punya setumpuk dokumen internal yang membuktikan bahwa dirinya tak bersalah. Segepok dokumen internal itu didukung pula oleh dokumen lain dari Bank Indonesia.

i

Tempo, 18 Desember 1976
Tikus Korupsi di Bulog

KEJANGGALAN laporan neraca keuangan Badan Urusan Logistik (Bulog) itu tampak mencolok. Tak tanggung-tanggung. Ada selisih Rp 8 miliar yang raib di sana. Tim audit yang dibentuk pemerintah lantas menelisik laporan keuangan pengadaan beras di berbagai daerah. Mereka mencoba mengendus ke mana larinya fulus tak sedikit itu.

Dari sinilah kecurigaan lalu mengarah ke Budiadji, Kepala Dolog Kalimantan Timur. Selidik punya selidik, si pejabat ternyata punya setumpuk dokumen internal yang membuktikan bahwa dirinya tak bersalah. Segepok dokumen internal itu didukung pula oleh dokumen lain dari Bank Indonesia.


Selesai? Tidak juga. Tim audit tak mau kalah langkah. Mereka mengirim tim inspeksi ke lapangan. Dari penelusuran langsung di Kalimantan Timur, terungkaplah borok korupsi Bulog ini. Budiadji, sang Kepala Dolog, ternyata punya jejaring kongkalikong kelas kakap. Dia memalsukan semua dokumen, dari tanda tangan atasannya sampai blangko bank sentral.

161835116741

Meski sudah tersudut, Budiadji tak menyerah. Dia mengaku tak tahu-menahu ihwal pemalsuan dokumen macam-macam itu. Dengan enteng dia menunjuk hidung bawahannya sebagai dalang. Setelah disodori berbagai bukti dan saksi, barulah si koruptor mengakui perbuatannya.

Kini, hampir empat dekade kemudian, skandal korupsi semacam ini terjadi lagi. Kali ini tokohnya Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat. Memanfaatkan posisinya sebagai anggota badan anggaran di parlemen, politikus muda ini menyunat fulus berbagai proyek kementerian.

Pada Mei lalu, anak buah Nazaruddin, Mindo Rosalina Manulang, tertangkap basah ketika hendak menyuap pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk proyek pembangunan wisma atlet Sea Games. Nazaruddin pun tersudut. Tapi, dari persembunyiannya, dia malah melempar tudingan ke segala penjuru.

ARSIP 

1 Agustus 1964
Akademi Musik Indonesia didirikan oleh pemerintah di Yogyakarta.

2 Agustus 2009
Merpati Nusantara Airlines jatuh di Pegunungan Maoke, Oksibil, Papua. Tiga belas penumpang dan tiga awak pesawat tewas.

3 Agustus 1914
Jerman menyatakan perang terhadap Prancis pada Perang Dunia pertama.

4 Agustus 1811
Sekitar 12 ribu serdadu Inggris mendarat di Cilincing, Jakarta. Dalam enam pekan, mereka menaklukkan pasukan Prancis-Belanda yang bertahan di Hindia Belanda.

5 Agustus 1962
Presiden Sukarno meresmikan Kompleks Gelanggang Olahraga (Gelora) Senayan.

6 Agustus 1882
Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir di Ponorogo, Jawa Timur. Dia kemudian mendirikan organisasi politik nasionalis pertama di Indonesia, Sarekat Islam.

7 Agustus 1945
Jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbi Inkai), yang diketuai Ir Sukarno. Drs Mohammad Hatta menjadi wakil ketua.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161835116741



Kartun 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.