Laporan Khusus 4/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ketika Hidup Belum Kembali Normal

Stigma yang melekat pada para penyintas Covid-19 membuat mereka belum bisa menjalani aktivitas seperti sebelumnya. Pandemi membuat mereka membatasi pertemuan dan pekerjaan.

 

i Sita Tyasutami saat sesi foto di kediamannya di Depok, Jawa Barat, 12 Maret lalu./TEMPO/M Taufan Rengganis
Sita Tyasutami saat sesi foto di kediamannya di Depok, Jawa Barat, 12 Maret lalu./TEMPO/M Taufan Rengganis
  • Sita Tyasutami dan Ratri Anindyajati, pasien pertama dan ketiga Covid-19 di Indonesia, masih dirisak hingga sekarang. .
  • Mereka dianggap menyebarkan pandemi di Indonesia.
  • Voklais band Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, yang dua kali positif Covid-19, memilih membatasi pekerjaan. .

SITA Tyasutami mendapat kabar gembira setelah 16 hari dirawat di dua rumah sakit, pertengahan Maret tahun lalu. Ia dinyatakan negatif Covid-19 setelah 13 hari berada di Rumah Sakit Pusat Infeksi Prof Dr Sulianti Saroso, Jakarta. Sebelum dirawat di RSPI, Sita sempat menginap tiga hari di Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok, Jawa Barat.

Sita adalah orang pertama yang divonis menderita penyakit baru itu di Indonesia. Ia dirawat bersama ibunya, Maria Darmaningsih, dan kakaknya, Ratri Anindyajati. “Seneng, tapi juga sedih karena ibu belum keluar bersama saya dan Kak Ratri,” kata Sita kepada Tempo melalui konferensi video, 10 Februari lalu. 

Maria, yang kini berusia 65 tahun, baru diperbolehkan pulang pada 16 Maret 2020. Pada saat yang sama, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengumumkan kabar gembira itu dan menampilkan mereka di depan publik. Kegembiraan yang semula dirasakan Sita karena keluarganya sembuh tiba-tiba lenyap. Setelah penampilan itu, ia dihujat habis-habisan di media sosial.


Warganet menuding Sita sebagai pembawa virus corona baru itu ke Indonesia. Ratusan kata kasar mampir ke akun media sosialnya. Melihat semua cacian tersebut, dia panik. “Bangun tidur itu napasku megap-megap, jantungku berdebar-debar, aku sampai nangis-nangis,” ujar Sita, 32 tahun.

161867875816

Banyak media massa ingin mewawancarainya saat itu. Sita meladeni permintaan mereka. Ia diminta menjelaskan kronologi dan kondisinya ketika divonis menderita Covid-19. Ingatan dan emosinya kembali ke masa ketika dirawat. Ia merasa bersalah karena membuat ibunya sakit. Pada saat yang sama, warganet mulai melancarkan serangan. Foto ketika ia mengenakan kostum Brazilian dance tersebar di jagat maya. “Setiap selesai wawancara, saya kelelahan,” ucapnya. 

Di antara agenda wawancara itu, ia juga mesti melanjutkan studi S-2 di IPMI International Business School, Jakarta. Tumpukan emosi dan kegiatan tersebut membuatnya kelelahan. Pada akhir Maret 2020, dua pekan setelah dinyatakan sembuh, Sita tak bisa beraktivitas. “Hari itu saya nangis, teriak-teriak. Sampai akhirnya saya telepon psikolog,” tuturnya.

Bukan kali itu saja Sita menerima makian dari warga Instagram. Ia kembali dirisak ketika Jakarta memperketat pembatasan sosial berskala besar pada September 2020. Begitu pula tatkala kasus Covid-19 mencapai angka sejuta pada akhir Januari lalu dan saat pandemi di Indonesia mencapai satu tahun pada awal Maret lalu. Warganet kembali memasang foto lamanya yang mengenakan kostum Brazilian dance di Twitter dan Instagram. “Kami berpikir, sampai rumah, hidup akan kembali normal, ternyata enggak normal-normal sampai sekarang.” 

Seperti Sita, Ratri Anindyajati dirisak di media sosial. Beberapa warganet menyalahkannya karena mereka kehilangan pekerjaan atau batal menikah akibat pandemi. Ia dan keluarganya sampai didoakan meninggal karena dianggap menyebarkan virus corona. Namun Ratri memutuskan tak menanggapi hujatan itu. Ketika banyak orang yang kemudian membela, ia justru meminta mereka berhenti lantaran makin banyak notifikasi yang masuk ke akun media sosialnya. “Tolong, yang mau belain, belain saja dengan diam,” kata Ratri, 34 tahun, lewat konferensi video.

Ratri Anindyajati di Bali, awal Maret lalu./Insan Kamil

Ratri juga beberapa kali diminta mendonorkan plasma konvalesennya untuk pasien Covid-19 yang kritis. Dia dikontak langsung lewat nomor pribadinya. Ketika dia menjelaskan bahwa darahnya tak cocok dengan pasien tersebut, mereka ngotot. “Banyak ketidaknormalan cuma karena kami tiga orang pertama dan yang terkuak identitasnya,” ujarnya.

Sementara Ratri dan Sita menerima perisakan lewat Internet, tak demikian dengan Pujiastuti. Warga Magelang, Jawa Tengah, itu dijauhi tetangga sejak tertular virus corona pada November tahun lalu. Dua keluarga yang rumahnya berdekatan dengan tempat tinggalnya mengungsi ke daerah lain ketika dia, suami, dan dua anaknya diminta menjalani karantina mandiri di rumah. Mereka baru kembali setelah Puji sekeluarga dinyatakan sembuh pada 7 Desember 2020.

Meski sudah dinyatakan sehat oleh rumah sakit, Puji masih dijauhi oleh para tetangga. Ketika Puji memberikan sesuatu, seperti undangan atau makanan, mereka ogah menerima langsung dari tangannya. Mereka meminta Puji menaruh barang itu di tempat yang mereka tunjuk. “Ketika mereka ngambil itu cuma pakai dua jari, kayak dicubit,” ucapnya. 

Begitu pula saat ia dan keluarganya datang ke gereja. Orang-orang tak mau duduk sebangku dengan mereka. Orang-orang itu memilih menyingkir dan mencari tempat duduk lain kalau Puji atau anggota keluarganya duduk di bangku yang sama dengan mereka. 

Sampai saat ini, kondisi keluarga Puji belum pulih benar. Suami Puji, Rudi, kadang terbatuk-batuk dan jadi lebih gampang capek. Hobinya bersepeda sempat terhenti karena ia tak kuat mengangkat kereta angin itu. Setelah berkali-kali mencoba berlatih, Rudi akhirnya sudah kuat bersepeda sampai ke Yogyakarta. 

Tak semua orang mendapat stigma atau perisakan seperti yang dialami keluarga Puji dan keluarga Sita. Vokalis grup musik Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud, mengatakan tidak terjadi apa-apa kepadanya meski ia dua kali dinyatakan positif Covid-19 pada Desember 2020 dan Februari lalu. “Dua kali dijemput petugas. Pertama dibawa ke hotel Twin Plaza, Slipi, yang kedua ke Wisma Atlet,” tutur Cholil melalui sambungan telepon.

Sejak pandemi merebak, Cholil, yang tinggal di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, sangat membatasi aktivitasnya. Ia hanya ke luar rumah ketika membeli barang yang dibutuhkan atau berlatih bersama personel band-nya. Ketika dinyatakan positif untuk kedua kalinya, ia baru berlatih bersama kawan-kawannya. Dua kru band itu juga positif. 

Belajar dari pengalaman ini, Cholil dan teman-temannya memutuskan tak berlatih sampai pandemi mereda. Mereka untuk sementara menolak tawaran manggung. Cholil takut menularkan virus itu ke orang-orang terdekatnya dan membuat mereka sakit. Untuk sementara, mereka harus mengencangkan ikat pinggang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dari uang tabungan. “Pekerjaan enggak lebih penting dibanding keselamatan,” katanya.

Ratri juga membatasi aktivitasnya. Ia memilih menolak ajakan kawannya bertemu. Ia juga mengonsumsi berbagai suplemen untuk menjaga daya tahan tubuh, menjaga asupan makanan, tidur lebih awal, mengontrol emosi, dan minum banyak air putih. “Sewaktu dirawat, dokter mengatakan minum air itu yang paling menyembuhkan,” ujarnya. 

Adapun Sita lebih banyak belajar tak menerima mentah-mentah semua yang disampaikan warganet. Ia belajar mencintai diri sendiri, seperti menjaga asupan makanan, beristirahat cukup, dan melakukan meditasi, yang telah lama ia tinggalkan. Ia juga belajar menerima kondisinya dan membangun kepercayaan diri. “Peristiwa ini benar-benar menempa mentalku luar biasa,” tuturnya.

Sita juga meminta warganet mencari informasi yang lebih valid, terutama seputar pandemi Covid-19, bukan langsung merisak orang yang mereka anggap bersalah. Sebab, pandemi ini terjadi secara global. “Dalam pandemi ini, yang diuji adalah kemanusiaannya,” ucapnya.


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161867875816


Sulianti Saroso Solidaritas Melawan Covid-19 Vaksin Covid-19 Covid-19 Rumah Sakit Penyakit Infeksi Sulianti Saroso Efek Rumah Kaca

Laporan Khusus 4/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.