Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Untungnya Keuangan Kami Kuat

Presiden Direktur PT Astra International Tbk Djony Bunarto Tjondro memimpin perusahaan di tengah krisis akibat pandemi Covid-19. Pembatasan sosial berskala besar pada April-Mei 2020 memukul industri otomotif Grup Astra. Penjualan mobil dan sepeda motor merosot tajam akibat lesunya pasar dan daya beli masyarakat. Bisnis Astra kembali menggeliat setelah pemerintah melonggarkan pembatasan sosial mulai pertengahan 2020. Ditopang unit-unit bisnis lain, Astra mampu membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 175,05 triliun sepanjang tahun lalu, meski jumlah tersebut turun 26 persen dari tahun sebelumya. Selain mempertahankan lini bisnis utama yang telah mapan, Djony mengatakan, Astra bakal melakukan diversifikasi bisnis akibat pandemi. Kendaraan listrik merupakan salah satu sektor yang dipersiapkan.

i Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro.
Dok. Astra
Presiden Direktur Astra International Djony Bunarto Tjondro. Dok. Astra
  • Presiden Direktur PT Astra International Tbk Djony Bunarto Tjondro mengatakan pandemi Covid-19 telah memukul hampir semua lini bisnis Grup Astra, terutama sektor otomotif. .
  • Menurut Djony, dari semua unit bisnis Grup Astra, sektor agrobisnis dan properti menunjukkan kinerja lebih baik.
  • Otomotif akan tetap menjadi core business Grup Astra. .

MEMIMPIN PT Astra International Tbk di tengah hantaman pandemi Covid-19, Djony Bunarto Tjondro menghadapi setumpuk tugas berat. Wabah penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru itu langsung memukul sebagian besar lini bisnis Grup Astra. “Tentunya yang pertama kali terkena dampak adalah otomotif,” kata Djony, 56 tahun, dalam wawancara khusus dengan Tempo melalui konferensi video, Rabu, 10 Maret lalu.

Menurut Djony, April-Mei 2020 adalah periode paling berat bagi Astra akibat pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Manajemen Astra terpaksa menghentikan operasi pabrik, baik di Toyota, Daihatsu, maupun Honda Motor. Layanan servis mobil juga dialihkan dari bengkel ke rumah pelanggan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Berdasarkan data wholesale dari pabrik ke agen pada April 2020, misalnya, angka penjualan mobil Grup Astra merosot 91,9 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 47 ribuan unit. Di bisnis ini, Astra mengelola merek Toyota, Daihatsu, Isuzu, Peugeot, dan UD Trucks.

Djony baru bisa bernapas lega setelah pemerintah melonggarkan pembatasan sosial pada Juni 2020. Pada periode itu pula ia dipercaya menjadi presiden direktur menggantikan Prijono Sugiarto. “Di semester kedua itu penjualan otomotif, walaupun turun, mulai membaik,” ujar Djony. Ditopang unit-unit bisnis lain, Grup Astra melewati 2020 dengan membukukan pendapatan bersih perseroan sebesar Rp 175,05 triliun atau turun 26 persen dari tahun sebelumnya.


Kepada wartawan Tempo, Wahyu Dhyatmika, Sapto Yunus, dan Mahardika Satria Hadi, Djony menceritakan upayanya membawa Astra melewati pandemi, unit-unit bisnis yang menangguk cuan, hingga pengembangan mobil listrik. Djony, yang telah bergabung dengan Grup Astra selama 31 tahun dan mengisi berbagai jabatan penting, mengatakan Astra akan tetap menjadi tempat favorit bagi generasi muda untuk berkarier.

161867691960

Sejauh mana dampak pandemi Covid-19 terhadap bisnis Astra International?

Boleh dikatakan semua bisnis Astra terkena dampak, kecuali agrobisnis dan properti. Properti yang kami luncurkan pada 2016 belum terlalu signifikan memberikan kontribusi bagi Astra. Tapi sektor agrobisnis mendapat tailwind karena harga CPO (minyak sawit mentah) meningkat cukup baik dibanding pada 2019. Laba bersih sebelum memperhitungkan penjualan Bank Permata pada Mei 2020 turun sekitar 53 persen. Setelah memperhitungkannya, hanya turun 26 persen.

Sektor otomotif bagaimana?

Tentunya yang pertama kali terkena dampak adalah otomotif. Begitu masuk minggu keempat Maret tahun lalu, kami melihat tarikannya sudah mulai turun. Sejak Presiden mengumumkan ada kasus Covid-19 masuk Indonesia, lalu ada PSBB ketat mulai April, operasi pabrik terpaksa kami hentikan, baik di Toyota, Daihatsu, maupun Honda Motor. Jaringan penjualan kami juga tidak bisa beroperasi. Paling hanya mobile service yang masih bisa berjalan dengan menjaga protokol kesehatan. Memang waktu April dan Mei tahun lalu itu berat sekali.

Pemerintah memberikan diskon pajak mobil baru tahun ini. Sejauh mana dampaknya terhadap penjualan mobil Astra?

Menurut kajian Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), itu akan menambah penjualan 82 ribu unit selama setahun. Saya kira secara jangka pendek relaksasi PPnBM (pajak penjualan atas barang mewah) pasti positif dan diharapkan dapat mendorong orang membeli mobil. Tapi stimulus seperti ini tidak bisa berlangsung bertahun-tahun karena pemerintah juga butuh penerimaan. Semoga pasar dan kepercayaan pembeli akan tumbuh, misalnya setelah sebagian masyarakat sudah divaksin pada akhir 2021 dan ekonomi berjalan lebih baik.

Apakah insentif pajak ini kurang berdampak dalam jangka panjang?

Saya tidak bisa mengatakan kurang karena ada satu problem struktural dalam industri otomotif kita. Daya beli masyarakat masih terbatas. Dengan GDP (produk domestik bruto) per kapita tahun lalu turun ke US$ 3.900, pertumbuhan otomotif tidak akan bisa didorong terlalu drastis. Jadi stimulus seperti PPnBM hanya seperti painkiller. Kalau ingin otomotif berkembang pesat, kita harus mampu membuat mobil murah. Kami sudah muncul dengan LCGC (mobil ramah lingkungan berbiaya rendah) tahun 2013, tapi dengan inflasi dan segala macam, harganya naik.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan akan mendatangi pabrik-pabrik otomotif di Jepang untuk meminta alokasi ekspor 120 ribu unit mobil dari Indonesia ke Australia. Rencana itu dibicarakan dengan Astra?

Sejak Toyota menghentikan produksi di Australia (Oktober 2017), kami sebetulnya sudah membicarakan ini dengan Toyota, bagaimana kami bisa mengekspor mobil ke Australia. Cuma, hal-hal begini bukan hanya pembicaraan antara kami dan principal. Ini ada urusannya dengan pemerintah Australia. Kadang, kalau seperti ini, sudah bicara tentang geopolitik. Kami selalu mendukung pemerintah. Hari ini ekspor kendaraan roda empat kami 75-80 persen dari total ekspor Indonesia. 

Apakah unit-unit bisnis selain otomotif juga terimbas krisis atau justru menjadi penopang roda bisnis Astra?

Pandemi global memicu turunnya produksi dan pemakaian energi. Secara pasar, hal ini kurang mendukung sehingga harga acuan global batu bara turun cukup drastis. Ini mempengaruhi kinerja penjualan alat berat yang juga turun cukup drastis. Ada multiplier effect karena keterkaitan dalam ekosistem. Sektor bisnis lain, misalnya jalan tol dan infrastruktur, saat PSBB, enggak ada orang lewat jalan tol. Kami punya ruas jalan tol Semarang-Solo, Jombang-Mojokerto, Mojokerto-Surabaya, dan Cipali yang terkena dampak. Tol Tangerang-Merak juga turun, tapi tidak terlalu drastis. Tol dalam kota Kunciran-Serpong juga turun drastis.

Apa yang membuat Astra bertahan di tengah pandemi?

Kalau saya bandingkan, situasi hari ini memang sulit. Tapi yang membuat kami ada tambahan kesulitan adalah masalah psikologis. Setiap kali keluar ada rasa waswas tidak ingin menjadi OTG (orang tanpa gejala), menularkan ke sekitar kita, harus menjaga diri. Agak berbeda dengan krisis multidimensi pada 1997-1998 yang juga sangat berdampak bagi Astra.

Seperti apa bedanya?

Tahun 1997 dibanding sekarang, posisi keuangan Astra 180 derajat berbeda. Dulu utang kami belasan kali ekuitas. Tapi saat ini, mohon maaf, saya tidak bermaksud arogan, posisi keuangan kami kuat secara neraca. Pinjaman dibanding ekuitas sangat minimum. Bahkan, kalau dilihat dalam laporan keuangan, kami surplus cash. Untungnya kami dalam posisi seperti itu. Kalau tidak, resiliensi kami dipertanyakan. Dan ini bukan hanya di level Astra, tapi juga unit bisnis lain.

Berapa posisi utang terhadap ekuitas Astra saat ini?

Tahun 1997-1998, gearing (utang dibanding ekuitas) Astra lebih dari sepuluh kali. Sekarang gearing kami tidak sampai 0,1 kali dan posisi Astra saat ini net cash. Ada utang, tapi kalau dibandingkan dengan kas yang kami miliki, kasnya masih lebih besar. Neraca keuangan kami kuat dan sehat.

Bagaimana Anda membuat keuangan Astra begitu kuat selama pandemi?

Ini kerja belasan tahun. Kami mesti bersyukur karena pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup baik sepuluh tahun terakhir sehingga pendapatan Astra, laba Astra, juga cukup baik. Belanja modal yang kami keluarkan kurang-lebih sama dengan laba kami. Kami memang mengambil pinjaman, tapi begitu ini selesai, ya kami bayar semua. Pengelolaan seperti ini secara bertahap meningkatkan ketahanan secara neraca. Walaupun dulu tidak sekuat sekarang, sudah kelihatan tren bahwa pengelolaannya lebih sehat, tidak jorjoran mengambil utang.

Anda memimpin Astra sejak Juni 2020 di tengah kondisi yang berat bagi kebanyakan pelaku usaha. Apakah misi Anda memang membawa Astra bertahan dalam melewati pandemi?

Itu mengalir saja. Enggak ada, misalnya, seperti di film, keadaan sedang begini, lalu tiba-tiba (saya) datang (sebagai) superhero. Apa yang ada di depan, ya akan kami kerjakan. Begitu saja. Naluri survival ada di setiap orang.

Dengan lesunya pasar dan daya beli konsumen, bagaimana unit-unit bisnis otomotif Astra menyesuaikan diri?

Saya ambil contoh otomotif karena banyak berinteraksi dengan retail dan pelanggan. Pertama, biaya operasional benar-benar diperhitungkan dengan baik. Makanya kami bilang pengeluaran mesti sangat bertanggung jawab. Kedua, kami diuntungkan karena sudah mulai melakukan digitalisasi beberapa tahun sebelumnya, meski belum terlalu kuat. Jadi pandemi ini mendorong setiap orang melakukan otomasi dan digitalisasi.

Presiden Direktur Astra International, Djony Bunarto Tjondro usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan 2020 di Jakarta (16/6/2020). Dok. ASII

Selain mempunyai keuangan yang kuat sebagai modal, apakah Astra memiliki nilai-nilai dan gaya manajerial yang berbeda untuk menghadapi pandemi?

Kami menganut filosofi, values, kultur yang boleh dikatakan ada kristalisasinya. Dari pendahulu kami, founding fathers, nilai-nilai itu dibawa terus. Contohnya Catur Dharma. Sampai kapan pun, kalau pimpinannya bertanggung jawab, itu menjadi satu filosofi yang sangat baik dan tidak akan dimakan zaman. Semua itu sudah terpatri dengan sangat baik di setiap orang Astra. Secara mindset, misalnya, kinerja mesti bagus, tapi juga harus selalu melihat komunitas. Sejak awal bergabung sudah ditanamkan seperti itu. Sekarang, dengan banyaknya generasi muda, mungkin perlu ada enforcement. Kalau tidak begitu, bisa agak berbahaya.

Mengapa berbahaya?

Kaum milenial itu katanya lebih transaksional. Saya tidak tahu benar karena saya tidak ahli di situ. Semestinya kaum milenial itu seimbang antara kerja dan pribadi dan segala macam. Tapi nilai ini perlu kami pastikan ada, karena 60-70 persen karyawan kami mungkin sudah generasi milenial.

Dengan makin banyaknya generasi muda bergabung dengan Astra, sejauh mana perusahaan menyesuaikan nilai-nilai untuk mengakomodasi gaya bekerja mereka?

Mungkin secara substansi tidak, karena yang namanya filosofi tetap filosofi. Mau generasinya berganti, nilai-nilai luhur dan substantif itu semestinya tidak berubah. Yang mungkin disesuaikan adalah bagaimana pola pelaksanaannya. Tentunya disesuaikan dengan gaya anak muda. Kadang tidak mudah, tapi kami mencobanya dan sejauh ini berjalan baik. Bagaimanapun, rasanya kami masih menjadi salah satu tempat terbaik bagi lulusan baru.

Bagaimana cara Anda membuat para pegawai muda betah bekerja di Astra?

Sebetulnya, bagi kalangan milenial, Astra menawarkan kultur kekeluargaan yang sampai hari ini masih sangat melekat. Itu tidak pernah lekang. Kedua, kami nguwongke (memanusiakan) orang. Jadi memang ada sentuhan manusia, bukan cuma majikan dan pegawai. Beberapa pendekatan melalui pelatihan juga sangat konsisten kami lakukan meski di tengah situasi kami harus berhemat.

Apa yang akan berubah permanen di Astra setelah pandemi?

Fleksibilitas WFH (kerja dari rumah) menjadi opsi yang mungkin dulu tidak terlalu terpikirkan. Tapi itu sangat tergantung kebijakan unit bisnis masing-masing. Dulu WFH seakan-akan hanya menjadi milik, misalnya, perusahaan rintisan yang gayanya dengan jins belel, jins bolong, kaus oblong. Tapi WFH ke depan bisa menjadi salah satu opsi kami. Tentu tidak mungkin WFH pada fungsi produksi dan layanan. Semua harus dipilah dengan baik.

Bagaimana dengan hal lain?

Menurut saya, engagement kami dengan pelanggan secara digital menjadi sangat penting. Kami melihat tren ini mungkin lima tahun terakhir dan hari ini menjadi satu hal yang dibutuhkan. Saya, misalnya, sebelumnya tidak pernah belanja di Tokopedia. Buat saya, itu bukan opsi. Tapi hari ini kita belanja apa pun lewat Tokopedia.

Pandemi membuat banyak perusahaan memangkas jumlah pekerjanya. Apakah Astra juga melakukannya?

Kami selalu mengambil sikap bahwa karyawan menjadi opsi terakhir. Makanya segala macam penghematan harus dilakukan. Dan tidak bisa dimungkiri pada 2020 ada (masa kerja) karyawan yang tidak kami perpanjang, terutama yang nonpermanen. Kami juga tidak mencari pengganti karyawan yang sudah pensiun. Kami membekukan rekrutmen sepanjang tahun lalu. Tapi tahun ini kami mulai lagi sedikit demi sedikit sambil melihat kondisi bisnis.

Di tengah pandemi yang belum jelas kapan berakhir, berapa lama Astra bakal bertahan?

Kami enggak menghitung sampai ke sana. Tahun 2020 dengan situasi yang begitu panik saja Astra masih bisa mendapatkan laba di luar (penjualan) Bank Permata sebesar Rp 10 triliun. Artinya, walaupun situasi belum membaik, berangsur baik. Kami punya keyakinan seperti itu. Saya ambil contoh, dengan run-rate saat ini, kami yakin otomotif akan lebih baik dari tahun lalu sebanyak 532 ribu unit. Prediksi Gaikindo kan 750 ribu unit. Apalagi jika vaksinasi makin cepat, kami yakin (bisnis) bisa berjalan walaupun pada 2021 belum akan kembali ke titik normal.

Kapan Anda memperkirakan geliat dunia usaha kembali normal?

Mungkin mulai 2022 atau 2023.

Apakah sektor otomotif masih menjadi panglima untuk bisnis Astra?

Otomotif sangat penting bagi Astra karena kami juga berangkat dari otomotif. Otomotif juga penting bagi suatu negara. Industri otomotif itu menjadi proksi dari suatu negara yang memang punya fasilitas produksi. Bagi Astra, otomotif akan tetap penting. Kami memproduksi untuk konsumsi domestik dan ekspor. Tapi kami akan tetap berekspansi dan melakukan diversifikasi bisnis. Kalau tidak begitu, Astra tidak akan makin berkembang dan kemampuan kami untuk berkontribusi ke sosial ya segitu aja. Diversifikasi menjadi salah satu keharusan kami ke depan.

Ada sektor baru yang sedang dilirik?

Saya maunya banyak. Yang penting enggak haram, sesuai dengan nilai-nilai Astra, mempunyai satu skala yang baik, dan Astra bisa memberikan nilai tambah di bisnis itu. Kami sangat agresif terutama sejak kuartal keempat (2020). Kami lihat semua bisnis karena biasanya dalam situasi begini bisa jadi ada banyak peluang. Kalau mau tumbuh dan bertahan, Astra harus melakukan diversifikasi tanpa pernah meninggalkan kepentingan bisnis-bisnis kami yang ada hari ini. Salah satunya otomotif. Analoginya adalah memperbaiki mobil sambil mobilnya jalan terus.

Pemerintah terus mendorong penggunaan kendaraan listrik. Sebanyak 19 ribu mobil listrik dan 750 ribu sepeda motor listrik ditargetkan diproduksi pada 2025. Sejauh mana Astra mendukung pengembangan kendaraan listrik?

Kalau kita bicara mobil listrik, memang sebagian besar tentang BEV (battery electric vehicle) yang seratus persen baterai. Padahal mobil yang dielektrifikasi itu ada hibrid, plug-in hybrid, segala macam. Toyota Prius hari ini sudah PHEV (plug-in hybrid electric vehicle). Dulu kami munculkan Prius hanya hibrid. Komunikasi kami dengan Toyota sangat intens dan sudah ada pembicaraan dan perencanaan untuk mobil-mobil BEV. Pada saatnya akan kami luncurkan. Tapi, untuk melokalkan produksi mobil BEV, kami juga butuh volume. Jadi popularisasi mobil listrik penting. Pada akhirnya, semua tergantung pilihan masyarakat. Prinsipnya, kami mendukung usaha pemerintah menurunkan emisi CO2.

Berapa targetnya?

Susah bicara angka. Mobil hibrid kami tahun lalu saja terjual cuma 80-90 unit per bulan. Masyarakat belum terbiasa. Dan memang masih ada gap harga. Suatu hari, secara total biaya kepemilikan antara mobil konvensional dan mobil listrik akan mencapai keseimbangan karena teknologi bakal makin murah.


DJONY BUNARTO TJONDRO | Tempat dan tanggal lahir: Pontianak, 2 Mei 1964 | Pendidikan: S-1 Teknik Mesin Universitas Trisakti (1989); Institut Pengembangan Manajemen Indonesia/Monash Mt. Eliza Business School, Australia (1996) | Karier: Presiden Direktur PT Astra Sedaya Finance (2009-2013), Chief Executive PT Astra International Tbk–Daihatsu Sales Operation (2013-2018), Presiden Komisaris PT Astra Otoparts Tbk (2015-2018), Wakil Presiden Komisaris PT Astra Daihatsu Motor dan PT Isuzu Astra Motor Indonesia (2016-2018), Komisaris PT Astra Sedaya Finance (2016-2020) serta PT Astra Agro Lestari Tbk dan PT United Tractors Tbk (2017-2020), Wakil Presiden Direktur PT Astra International Tbk (April 2019-Juni 2020), Presiden Direktur PT Astra International Tbk (sejak 16 Juni 2020)


Reporter Tempo - profile - https://majalah.tempo.co/profile/tempo?tempo=161867691960


Covid-19 Otomotif PT Astra Internasional Tbk. Toyota

Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.