Laporan Khusus 9/10

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bersemi di Kala Pandemi

Angka penggunaan uang elektronik terus melonjak di masa pandemi Covid-19. Dipercaya bakal mempercepat digitalisasi sistem pembayaran.

i Seorang konsumen melakukan pembayaran melalui aplikasi gopay atau digital, di salah satu kedai makanan di Jakarta, 30 Oktober 2020. TEMPO/Jati Mahatmaji
Seorang konsumen melakukan pembayaran melalui aplikasi gopay atau digital, di salah satu kedai makanan di Jakarta, 30 Oktober 2020. Tempo/Jati Mahatmaji
  • Penyedia uang elektronik kian banyak. .
  • Transaksi melonjak di masa pandemi Covid-19.
  • Optimisme bank sentral untuk mempercepat digitalisasi sistem pembayaran. .

PAPAN promosi kertas berlogo “ShopeePay” bertebaran di lapak-lapak sentra jajanan pusat belanja Margocity, Depok, Jawa Barat, pada libur panjang akhir Oktober 2020. Hampir semua gerai memajang papan kertas berwarna jingga itu di meja kasir. Layanan pembayaran uang elektronik itu memberikan iming-iming cashback alias uang kembali sebesar 30 persen.

Uang elektronik lain juga ada, seperti LinkAja, OVO, dan GoPay. Hanya OVO yang menawarkan promo serupa, itu pun berlaku di beberapa kios saja. “Lumayan,” kata Rohmat, pengguna OVO, di gerai Krispy Kreme Doughnuts, Rabu, 28 Oktober lalu. Di sejumlah resto lainnya, tampak pengemudi ojek online tengah mengantre untuk layanan pesan-antar makanan GoFood dan GrabFood.

Berbagai fasilitas dan kemudahan layanan benar-benar memanjakan konsumen pengguna layanan pembayaran berbasis server yang kian marak. Makanya jumlah pengguna uang elektronik melonjak dari tahun ke tahun. Bank Indonesia mencatat peningkatan signifikan terjadi pada 2019. Total volume transaksi mencapai 5,22 miliar kali, dengan nilai Rp 145,16 triliun. Jumlah itu naik drastis dibanding pada 2018 yang hanya mencatat 2,92 miliar transaksi senilai Rp 47,19 triliun.

Uang elektronik kini bisa digunakan untuk pembayaran banyak hal, baik transaksi online maupun offline. Presiden Direktur PT Visionet Internasional Karaniya Dharmasaputra menyebutkan lima besar penggunaan OVO ada di sektor retail—meliputi makanan dan barang, transportasi online, jasa pengiriman makanan online, e-commerce, dan pembayaran tagihan. “Kami tersedia di 700 ribu merchant, baik gerai modern maupun usaha mikro, kecil, dan menengah,” ujarnya, Senin, 26 Oktober lalu.

Aplikasi yang semula hanya menawarkan layanan pembayaran, poin loyalitas, dan layanan keuangan itu juga telah berkembang menjadi perusahaan teknologi finansial (fintech). Bahkan, unicorn nasional ini disebut-sebut telah mengakuisisi perusahaan pinjam-meminjam (peer-to-peer lending) lokal Taralite yang membuka peluang ekspansi ke sektor pembiayaan. Kini, hampir empat tahun sejak aplikasi dompet elektronik ini diluncurkan, OVO telah terpasang di 115 juta perangkat.

GoPay juga telah berkembang pesat dari fungsi semula sebagai solusi bagi mitra driver untuk menerima pembayaran di Gojek, aplikasi ride hailing  yang dikembangkan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa. Managing Director GoPay Budi Gandasoebrata menjelaskan dompet digital ini merambah berbagai layanan keuangan, seperti pembayaran berbagai tagihan, cicilan kredit kepemilikan rumah (KPR) bersubsidi, tabungan pendidikan, tabungan umrah, hingga alat pembayaran di toko-toko mitra. Saat ini, GoPay telah menjangkau 390 kota di Indonesia, meski di antaranya belum tersentuh layanan Gojek.

Mulai tahun ini, GoPay menawarkan layanan GoSure dan GoInvestasi untuk mengakses layanan jasa investasi dan asuransi yang mudah dan terjangkau bagi masyarakat. GoPay juga dapat digunakan sebagai opsi pembayaran untuk aplikasi populer di Google Play, Viu, HBO Go, YouTube Premium, YouTube Music, dan Spotify.

•••

SEJAK pandemi Covid-19 menjamah Jakarta dan sekitarnya, Tata nyaris tak pernah lagi ke pasar. Warga kompleks Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Banten, itu tak lagi melakukan kebiasaannya untuk belanja beraneka kebutuhan rumah tangga di Pasar Modern BSD City.

Toh, Tata tak gusar. Ia justru menikmati berburu kebutuhan di pasar dunia maya yang memiliki fasilitas pembayaran dengan uang elektronik. “Ada promo, diskon, atau cashback,” tuturnya, Kamis, 29 Oktober lalu.

Pasar online yang ditujunya tak tetap. Ada kalanya perempuan 41 tahun itu masuk ke gerai Alfamart online. Sering juga dia singgah di Tokopedia, Blibli.com, atau lapak e-commerce lainnya. “Di mana saja, yang penting ada promonya,” kata Tata. Soal pembayaran, lagi-lagi urusan sepele. “Ada OVO, GoPay, dan ShopeePay. Kadang pakai debit mobile banking.”


Aktivitas jual beli menggunakan uang digital di Pasar Modern BSD, Tangerang Selatan, 28 Oktober 2020. TEMPO/Nurdiansah

162424912543

Deputi Direktur Project Management Office Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025 Bank Indonesia Agung Bayu Purwoko mengatakan pandemi telah membuat masyarakat beradaptasi. Berbagai penyesuaian dilakukan, termasuk dalam pembayaran. Semakin banyak orang kini beralih ke pembayaran non-tunai untuk meminimalkan kontak dengan orang lain. “Ada yang memakai mobile banking, ada yang uang elektronik,” ucapnya dalam acara diskusi yang digelar Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rabu, 21 Oktober lalu. “Elektronifikasi sistem pembayaran sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. Tapi terbukti Covid-19 telah mempercepatnya.”

Menurut Agung, angka pemakaian e-money sempat tersendat pada awal 2020, ketika Indonesia memasuki era pagebluk dengan ditemukannya kasus positif Covid-19 pertama kali pada Maret lalu. Bank Indonesia mencatat, sepanjang triwulan I itu, rata-rata nilai transaksi harian hanya Rp 15 triliun. Peningkatan mulai tampak pada April kala angkanya mencapai Rp 17,55 triliun. Namun tren berbalik arah hingga transaksi jeblok menjadi Rp 14,95 triliun pada Juni.

Agung menduga penggunaan uang elektronik merosot karena imbas kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa wilayah. Misalnya di DKI Jakarta, peraturan yang berlaku mulai 10 April 2020 itu hanya mengizinkan beberapa jenis usaha untuk beroperasi. Sementara itu, sebagian besar toko atau merchant tutup.

Bisnis teknologi keuangan memang menuntut ekosistem digital yang sehat. Jika jaringan mitra penjual yang menggunakan jasa transaksi elektronik lesu, tak bertumbuh, transaksi penyedia jasa pembayaran bakal melorot.

Terbukti, aktivitas transaksi melalui dompet digital kembali menggeliat setelah pemerintah menerapkan kebijakan PSBB transisi, mulai 5 Juni lalu. “Dengan pelonggaran pembatasan mobilitas, merchant mulai buka kembali dan memungkinkan transaksi uang elektronik,” tutur Agung.

Pada Agustus 2020, rata-rata nilai transaksi harian uang elektronik kembali di kisaran Rp 17,23 triliun. Angka ini juga jauh di atas perolehan pada Agustus 2019 yang hanya Rp 12,88 triliun per hari.

GoPay mencatat fenomena serupa. Akselerasi transaksi digital lebih cepat selama masa pandemi Covid-19. Peningkatan terjadi bukan hanya karena konsumen ingin bertransaksi lebih mudah dan aman tanpa kontak, tapi juga semakin banyak mitra usaha atau merchant beradaptasi dengan berpindah lapak ke online.

Menurut Managing Director GoPay Budi Gandasoebrata, akselerasi ditunjukkan antara lain dengan jumlah transfer GoPay ke sesama pengguna meningkat empat kali lipat selama Ramadan 2020 dibanding pada bulan puasa tahun lalu. “Berbagi salam tempel juga dilakukan non-tunai dengan GoPay,” ujarnya.

GoPay juga mencatat lonjakan jumlah pengguna selama Maret-Mei 2020 dibanding pada Januari-Februari 2020. Transaksi menggunakan GoPay untuk investasi reksa dana, misalnya, naik hampir dua kali lipat. Penggunaan GoPay untuk membeli games voucher juga naik tiga kali lipat. Ada pula transaksi GoPay di layanan GoMed—berkolaborasi dengan start-up afiliasi Halodoc—yang meningkat dua kali lipat. “Masyarakat mengedepankan aspek kesehatan, salah satunya melalui layanan telemedis,” kata Budi.

Lonjakan juga tampak pada nilai total donasi via GoPay yang kemudian disalurkan ke ratusan rumah ibadah dan yayasan, di antaranya melalui Kitabisa.com. Nilainya mencapai Rp 45 miliar pada periode Maret-Mei 2020, naik dua kali lipat dibanding pada periode sebelum pandemi.

•••

SEPERTI di banyak negara, besarnya pasar ekonomi digital, terutama untuk layanan pembayaran, telah menarik banyak perusahaan teknologi dan telekomunikasi. Mereka terjun mengembangkan platform serupa. Pada bisnis teknologi finansial seperti ini, keuntungan tak melulu berasal dari pembagian hasil di setiap transaksi, tapi juga data jumbo (big data) yang dipercaya lebih berharga.

Di Indonesia, pemain layanan seluler terbesar PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) juga mengembangkan layanan uang elektronik sejak Maret 2018. Dulunya layanan yang dikembangkan anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk ini bernama Tcash. Belakangan Tcash telah bersalin nama menjadi LinkAja, seiring dengan peleburan uang elektronik milik badan usaha milik negara (BUMN) pada Februari 2019.

Tcash pula yang mengawali digitalisasi pembayaran di Pasar Modern BSD City. Pasar ini dianggap sebagai ekosistem yang ideal untuk edukasi gaya hidup digital. Belakangan, kompetitor mulai masuk, seperti OVO dan GoPay, juga ada ShopeePay.

Direktur Marketing LinkAja Edward Kilian Suwignyo mengatakan digitalisasi transaksi di area usaha mikro memang memerlukan upaya lebih keras. Tapi pandemi kali ini menjadi momentum baru bagi pembayaran digital. “Kalau dulu perpindahan kebiasaan dari cash ke cashless rata-rata didorong oleh iming-iming promosi, kini faktor kesehatan atau kebersihan muncul menjadi pendorongnya,” ujarnya, Selasa, 7 Oktober lalu.

Upaya digitalisasi pasar tradisional “rasa modern” juga dilakukan LinkAja di 34 provinsi untuk on boarding penerimaan transaksi Quick Response Indonesia Standard (QRIS) yang wajib diberlakukan oleh penyelenggara sistem pembayaran mulai Januari 2020. LinkAja bekerja sama dengan mitra teknologi lokal untuk “memindahkan” pasar tradisional ini ke ranah digital. “Saat ini sudah lebih dari 500 pasar tradisional di seluruh Indonesia yang telah masuk ke ekosistem LinkAja dan layanan Syariah LinkAja,” kata Edward.

Kini, per 27 Oktober 2020, LinkAja telah memiliki lebih dari 58 juta pengguna terdaftar, termasuk 1 juta pengguna dalam layanan Syariah LinkAja. Jumlah itu meningkat dibanding ketika LinkAja memulai perjalanannya pada Juni 2019 dengan 26 juta pengguna terdaftar.

Deputi Direktur Project Management Office Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025 Bank Indonesia Agung Bayu Purwoko mengatakan bank sentral akan terus mendorong penggunaan QRIS oleh semua penyedia uang elektronik, baik bank maupun non-bank. “Supaya pengguna enggak perlu mengunduh semua aplikasi uang elektronik. Cukup satu, bisa digunakan di banyak gerai,” ucapnya. Saat ini, sebanyak 39 lembaga non-bank telah terhubung dengan berbagai sumber dana. “Tembak saja QR-nya, bisa semua.”

Agung juga optimistis Indonesia punya modal kompetisi yang tinggi di era ekonomi digital. Sebab, kata dia, fondasi digital dalam negeri cukup kuat. Secara demografis, 59 persen populasi Indonesia saat ini adalah kelompok milenial, atau yang sering disebut Gen Y. Penduduk di rentang usia 22-35 tahun tersebut adalah pengguna terbesar media sosial. Pada sisi lain, konsumen telepon seluler di Indonesia mencapai 124 persen populasi. “Bayangkan, ada banyak orang yang punya lebih dari satu akun.”

RETNO SULISTYOWATI


Reporter Retno Sulistyawati - profile - https://majalah.tempo.co/profile/retno-sulistyawati?retno-sulistyawati=162424912543


Kabar Pandemi #JagaJarak #PakaiMasker #CuciTangan Covid-19 ekonomi digital uang elektronik

Laporan Khusus 9/10

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.