Kriminalitas 2/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Yang terempas di jalan aspal

Seorang korea ditahan polisi karena mengakibatkan tewasnya mahasiswa di bandung. massa mengamuk. melody terpaksa ditutup sementara.

i
SEPERTI stuntman dalam film laga, Rajadi Purbakayana menempel di atas kap Kijang merah yang baru tancap gas. Sembari mengunyah pecahan gelas, berkali-kali ia menghantamkan kedua kepalan tangannya, yang dihiasi delapan cincin batu, ke kaca depan mobil itu. ''Keluar kamu, keluar!'' teriak Raja, panggilan anggota resimen mahasiswa (menwa) Universitas Islam Bandung (Unisba) itu. Namun, si pengemudi, warga Korea, Jong Ho Choi, 37 tahun, malah memainkan mobilnya dengan gerakan zig-zag. Jumat tengah malam dua pekan lalu itu, Choi mengendarai Kijang didampingi cewek, Yudi Lumintang. Belasan meter dari pelataran parkir Pub & Karaoke Melody, mobil itu diremnya mendadak. Raja terempas. Kepala pemuda 31 tahun itu membentur aspal Jalan Cihampelas, Bandung. Setelah tujuh jam dirawat di Rumah Sakit Advent dan di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Raja meninggal. Petugas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung besok malamnya menangkap Choi dan seorang temannya sesama warga Korea di Jakarta. Dua warga Korea lainnya diciduk di Bandung. Adakah kejadian ini berhubungan dengan perkelahian rombongan Choi dan Raja di Karaoke Melody sebelumnya? ''Kami masih terus mengusut kasus itu,'' kata Kapolwiltabes Bandung, Kolonel Waliran. Menurut Choi, malam itu mereka tujuh pria dan lima wanita Korea serta Yudi dalam keadaan mabuk melanjutkan hiburan di Melody. Sebelumnya mereka mengunjungi Korean House di Jalan Sukajadi. Choi mengaku tak menenggak minuman keras. Ia juga menyatakan baru kali itu ke Melody. Di Melody, rekan-rekan Choi banyak ulah. Dalam telernya mereka colak-colek cewek penghibur di situ. Bahkan ada yang menempeleng Neneng, karena menampik ajakan kasar mereka. Melihat itu, Raja menegurnya, ''Hei, Mister, jangan kurang ajar sama bangsa kami!'' Lalu mereka baku-hantam. Petugas keamanan segera melerai. Toh kawanan Choi masih mencari gara-gara. Petugas keamanan dan pegawai Melody kesal. Keributan pun terjadi antara personel Melody dan rombongan Korea itu. Beberapa warga Korea dikejar dan dipukuli sampai ke halaman parkir. Di luar, banyak warga masyarakat ikut mengeroyok mereka. Yang telanjur masuk ke mobil, kendaraannya dijadikan sasaran. Akan halnya Choi, ia mengaku lebih dulu masuk ke mobil bersama Yudi sebelum keributan meletup. Namun, puluhan orang memburunya. Karena takut, Choi segera menjalankan mobilnya. Dan Raja, yang semula berbaur dengan massa, justru naik ke atap mobil itu. Choi mengaku tidak tahu Raja terjatuh dan kemudian tewas. ''Saya cuma tahu orang yang di atas kap mobil itu sudah tidak ada lagi,'' kata Choi kepada Ahmad Taufik dari TEMPO. Ia pernah menjadi manajer produksi di PT Cabai Elok, perusahaan yang memproduksi boneka di Jakarta. Polisi agaknya mempercayai Choi. Sebab itu, menurut Kolonel Waliran, Choi hanya dianggap lalai sehingga Raja tewas. Sampai kini, yang ditahan dan dijadikan tersangka hanya Choi. Tiga temannya, pegawai PT Unik dan PT Alitas Murni di Bandung, cuma sebagai saksi. Dalam pada itu, kematian Raja menimbulkan reaksi keras dari pihak keluarga dan teman-temannya di Unisba. Mereka belum bisa menerima kepergian Raja, yang dikenal penggembira dan pandai bermain debus. Mereka menyerbu Pub Melody dan mendatangi tersangka di Polwiltabes. Sampai pekan lalu, Melody terpaksa ditutup. Happy Sulistyadi

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836487241



Kriminalitas 2/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.