Kriminalitas 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Buto ijo

Seorang ayah, bustamin, dibantu paman, marsono, & kakeknya, achmad juari, tega menghabisi anak kandungnya, jefri tamrin. alasannya, mereka mengusir roh jahat "buto ijo" yang bersemayam ditubuh jefri

i
KEJADIANNYA hampir tak masuk akal. Jefri Tamrin, 4,5 tahun, dihabisi oleh ayah kandung, paman, dan kakeknya di hadapan ibu kandung korban. Tapi si ayah, Bustamin, 31 tahun, tak merasa membunuh darah dagingnya sendiri. "Saya melihat buto ijo -- raksasa berperangai buruk berwarna hijau -- maka saya membunuhnya. Saya tak membunuh anak saya," kata Bustamin. Paman Jefri, Marsono, 28 tahun, malah merasa melihat sosok seekor naga pada saat kejadian. Dan naga itu, tak lain, penjelmaan buto ijo. "Buto ijo itu musuh agama," katanya. Sebab itu, harus dilenyapkan. Sementara itu, kakek Jefri, Achmad Juari, 62 tahun, mengaku, "Saya hanya meletakkan Quran di wajahnya agar ia mati sempurna." Buto ijo atau tidak, yang jelas korban adalah Jefri. Majelis hakim Pengadilan Negeri Klaten, Jawa Tengah, Selasa pekan lalu, tak punya pilihan lain kecuali menghukum Bustamin dan Marsono, masing-masing 4 tahun penjara. Achmad Juari diganjar 1 tahun penjara. Permintaan pengacara terdakwa, Achmad Soebachan Hadi, agar klien mereka dikirim saja ke rumah sakit jiwa -- dengan alasan perbuatan mereka tak bisa dipertanggungjawabkan -- tak dikabulkan hakim. Menurut majelis, para terdakwa, sesuai dengan keterangan saksi ahli, dr. Suryono, Hadi, dianggap tidak gila. Bustamin, misalnya hanya menderita psychosis paranoid -- suatu kelainan keyakinan yang bertentangan dengan realita. Kesadarannya baik, ingatannya juga normal. Di persidangan, mereka memang normal-normal saja. Kasus pembantaian anak, keponakan, atau cucu sendiri oleh ketiga warga Desa Beji, Klaten, itu memang aneh. Bustamin, yang merasa hidupnya selalu miskin, mencoba ngelmu pada seorang dukun, Mbah Bejo. Kata Bustamin, ia diberi Quran, keris, jimat, dan mantra. "Dia minta pelaris agar dalam mencari nafkah sebagai penjahit di Jakarta bisa laris," kata Mbah Bejo. Tiga hari setelah itu, selepas magrib, 22 Oktober lalu, Bustamin mengumpulkan istrinya, Siti Zaenab, kedua orangtuanya, Achmad Juari dan istri, serta adiknya, Marsono dan Siti Muntofingah, di rumahnya. "Keluarga di rumah ini tak tenteram karena ada roh buto ijo. Roh itu harus diusir. Rumah kotor ini harus dibersihkan," kata Bustamin. Mendengar wejangan itu, Marsono menyahut, "Buto ijo tak akan berdaya kalau disuapi tembakau." Setelah itu, Bustamin minta agar istrinya menyediakan tiga batang rokok bikinan sendiri -- dilinting dengan kertas. Sementara itu, Siti Muntofingah dan ibunya meninggalkan ruang itu, ke ruang lain. Begitu rokok siap, Marsono memanggil Jefri. Bocah itu lalu dibopongnya. Melihat bocah tanpa dosa itu tertangkap, wajah Bustamin, yang bertubuh pendek, berkumis, dan bermata sipit, berubah garang. Begitu juga Marsono. Setelah itu Bustamin duduk di kursi sambil memangku Marsono yang juga sedang memangku Jefri. Sedang Achmad hanya berdiri bersedekap. Kemudian tiga batang rokok yang semula diisap Bustamin dan Marsono dijejalkan ke mulut Jefri. Bocah itu batuk-batuk, meronta-ronta, dan ingin menangis. Tapi tangan sang ayah segera membekap mulutnya. Setelah itu, kebengisan mereka makin meninggi. Dengan dipegangi paman dan ayahnya - masing-masing di sisi kanan dan kiri -- tubuh bocah itu dibenturkan ketembok. Tangis Jefi kontan meledak bersamaan. Darah mengucur membasahi wajahnya. Anehnya, kedua orang itu tak peduli, dan tetap mengulangnya, sampai bocah itu tak berkutik. Kisah tragis ini, lebih tak masuk akal, disaksikan ibu kandung korban, Siti Zaenab. Tapi wanita itu hanya bengong seperti terkena sihir. Siti, bahkan, masih terdiam ketika tubuh Jefri yang berlumur darah itu dibaringkan para pembunuhnya di lantai. Dalam keadaan Jefri sedang sekarat itulah, Achmad mengambil Quran dan meletakkannya persis di wajah korban. "Gol," teriak Bustamin. Marsono menyahut, "Gol." Begitu juga Achmad. Mendengar teriakan itu, barulah Siti seperti tersadar dari mimpi. Ia langsung menubruk anaknya. Tangisnya meledak. Dengan histeris ia berlari ke dapur, lalu ke luar rumah sambil berteriak sekeras-kerasnya, kemudian pingsan. Maka, gegerlah warga Desa Beji. Jefri segera dilarikan ke Rumah Sakit Tegolyoso, Klaten. Tapi anak pertama -- dari tiga bersaudara -- itu meninggal di perjalanan. Malam itu juga Bustamin, Harsono, dan Achmad ditangkap polisi. Benarkah impitan ekonomi penyebab kejadian itu? Siti Zaenab membantah hidupnya kekurangan. Rumah yang mereka tempati, misalnya, lumayan besar, berukuran 6 X 8 meter, terbuat dari kayu dan tembok. Utang pun tak punya. Bahwa suaminya sampai berbuat di luar kesadaran, itulah yang membuatnya bingung. "Bagaimana ia bisa melihat anak sendiri sebagai buto ijo," katanya sedih.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836734011



Kriminalitas 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.