Kolom Pembaca 1/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Peta kemiskinan: kenapa mesti malu?

i
Niat Pemerintah untuk secara khusus menangai masalah kemiskinan yang masih membelenggu sekitar 27 juta penduduk negeri ini tentunya disambut dengan penuh harap, bukan saja oleh saudara- saudara kita yang nasibnya kurang beruntung, tapi juga oleh mereka yang masih dikaruniai Tuhan rasa kepedulian terhadap nasib wong cilik. Yang aneh justru tanggapan beberapa pejabat daerah. Begitu menerima informasi dari Bappenas tentang peta kemiskinan di daerahnya, mereka seperti kebakaran jenggot. Saya khawatir, gejala ini akan diikuti oleh pejabat daerah lainnya, sehingga pada akhirnya masalah kemiskinan hanya sempat diomongkan, dan peta kemiskinan akan terhapus dengan sendirinya tanpa ada yang berbuat apa pun. Tragis, kan? Bapak-bapak di daerah tampaknya memang kurang tanggap terhadap keterbukaan yang selama ini telah diteladankan oleh Presiden. Kiranya kita semua perlu menghayati kembali bahwa meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan rakyat merupakan amanah konstitusi dan merupakan perjuangan yang tak akan pernah berakhir. Memang, untuk mengakui sebuah kekurangan, dibutuhkan kedewasaan, kebesaran jiwa, dan kebersihan hati. Bagaimana, Pak Gubernur? DEKRIT PRATIKTO SIDIK Jalan Baja II/19, Cilegon Banten 42435

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161832831328



Kolom Pembaca 1/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.