Kesehatan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pemakan serangga dari Panemon

Winarto,9, warga desa panemon, sugihwaras, bojonegoro, lebih suka makan serangga. ia melahap ulat, kroto, capung, burangrang. bocah ajaib ini dibawa ke rs bojonegoro. sedang dilakukan penelitian.

i
WINARTO, 9 tahun, lebih suka makan serangga. Ia melahap capung, ulat, kroto (sejenis kecoak), hingga burangrang. Dan gara-gara bocah ganjil ini sampai diberitakan koran, tempat tinggalnya di Desa Panemon, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kini kondang. Dia anak bungsu dari 6 bersaudara pasangan Nyaerah, 50 tahun, dan Nyono, 55 tahun. Penampilannya aneh. Tinggi tubuhnya 90 cm. Kalau berjalan, kakinya gatik, bersinggungan, seperti leter O. Lidahnya pendek, sehingga tak bisa bicara. Winarto hanya mampu ngomong dua kata: "Weh.... weh...." dan "Moh.... moh", masing-masing artinya minta pulang dan tidak mau (emoh). Diduga, ia idiot. Selain kakinya pendek, perutnya malah jemblung seperti busung lapar atau cacingan. Justru keadaannya demikian, di desa itu dia dijuluki dengan "Ateng". Winarto mestinya sudah duduk di bangku kelas 3 SD. Tapi, karena kondisinya seperti itu, ia dibiarkan bermain-main saja seharian dengan ditemani Parni, 12 tahun, kakak perempuannya, yang juga diduga idiot. Pagi, siang, atau sore, ia selalu tinggal di pos penjagaan di muka rumahnya. Anak ini sering ke semak-semak, mencari serangga, yang kemudian dimakannya. Kroto adalah kegemarannya. Jika dia menempelkan tangannya di pohon, burangrang langsung berdatangan menempel di tangannya. Lalu Winarto mencaplok serangga-serangga itu. Ulat kilan (ulat kecil warna hijau) bahkan dikunyahnya. Sebelum dimakan, ulat itu dimain-mainkan lebih dulu. Setelah mati, baru dimakan. Cuma, anak ini jarang tidur. "Setiap hari paling hanya tidur satu jam," kata Nyono, ayahnya. Bila ia tidur, pantatnya menungging. Bahkan ia tak mau berpakaian. Kalau diberi pakaian, malah dibuangnya. Anak ini memang suka makan serangga, tapi itu bukan menu pokoknya. "Yang pokok, ya nasi," kata Nyaerah. Dan ketika dibawa ke RSUD Bojonegoro, anak ini memang tak mau makan nasi. Nasi yang disodorkan hanya diendusnya. Tapi kalau digoreng mau. Ia juga tak mau makan lauk-pauk dan sayur-mayur. Uniknya, Winarto jarang sakit. Cuma ketika bayi, Winarto sering diserang stuip (kejang karena panas). Ketika lahir, menurut ibunya, anak ini normal. Bisa menangis dan tertawa. Juga suka air susu ibunya. Baru setelah ia berumur 4 tahun, ada keganjilan: Winarto tidak bisa bicara dan tak suka kue atau roti mari. Jika lepas, anak ini mencari serangga untuk dimakan. Nyaerah tidak menganggap anaknya ganjil. "Anak saya normal," katanya. Makanya, dia keberatan ketika Rabu pekan lalu Winarto, atas anjuran Bupati Drs. Imam Supardi, dibawa ke RSUD Bojonegoro. Setelah membaca berita tentang Winarto di koran, Pak Bupati tergerak untuk membawa anak itu ke RSUD. "Ya, untuk diteliti agar diketahui kelainannya," katanya. Sastro Subeno, Camat Sugihwaras, bersama Jaswadi, Kepala Desa Panemon, membawa Winarto ke rumah sakit. Nyaerah akhirnya setuju, walau di rumah sakit ia mengalami kesulitan karena anaknya itu tak mau tinggal di sal anak-anak. Winarto selalu minta berjalan-jalan di luar, dan senang mendekati bak sampah. Di RSUD Bojonegoro anak ini ditangani oleh dr. F.X. Santosa, dr. Achmad Rizani (spesialis anak), dan dr. Christin. Hari pertama ia diinjeksi vitamin, kemudian menjalani pemeriksaan urine dan darah. Hasil sementara: anak ini kekurangan darah karena makannya tak teratur. Air kencingnya normal. Sejauh ini belum ditemukan gangguan serius pada kesehatannya. Kebiasaannya makan serangga tak mengganggu kesehatannya, apalagi serangga tertentu itu juga mengandung gizi. Dugaan sementara, kata Santosa, anak itu menderita kemunduran fisik dan mental, retardasi. Akibatnya, dia tak bisa membedakan obyek untuk dimakan. Karena itu, Winarto memakan serangga tanpa rasa takut atau jijik. Dari air seninya yang diperiksa itu tak ditemukan tanda-tanda yang luar biasa. "Jadi, kalau dia tidak bisa bicara, bukan karena ia makan serangga," kata Santosa. Perilaku aneh Winarto itu diduga berkaitan erat dengan kondisi ekonomi keluarganya. Anak ini dilahirkan ketika ibunya berusia 39 tahun -- usia rawan bagi kesehatan anak maupun ibunya. Sejak kecil ia kurang diperhatikan. Maklum, sejak 4 tahun lalu, Nyono menderita lumpuh karena TBC. Beban keluarga akhirnya dipikul Nyaerah, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Rumah mereka di pinggir jalan Desa Panemon itu tidak terawat. Dinding belakangnya berlubang di sana-sini. Malam hari Winarto sering keluar masuk rumah lewat lubang ini. Rumah tak bersekat, tak berkursi, dan tak berlemari ini dihuni oleh Nyaerah, Nyono, dan dua anaknya (Parni dan Winarto). Di halaman tumbuh tanaman liar. Pemeriksaan Winarto belum tuntas. Namun, kesimpulan dr. Santosa tak jauh beda dengan pendapat dr. Ali Santoso, dokter Puskesmas Sugihwaras yang pertama kali memeriksa Winarto. Anak ini diduga punya kelainan yang disebut sindrom magnifilter, anemia, dan lemah mental. Karena itu, ia tak bisa membedakan makanan. Bisa jadi, kelainan mental itu disebabkan ketika melahirkan, ibu Winarto berusia lanjut. Atau faktor keturunan? "Saya tidak bisa memastikannya. Untuk memperoleh kesimpulan ini, perlu dilakukan penelitian serius, di antaranya diperiksa oleh ahli jiwa," kata Ali Santoso. Zed Abidien (Surabaya)

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833310513



Kesehatan 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.