Kesehatan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tak Terpisah oleh Pandemi

Banyak negara memisahkan bayi yang baru lahir dengan ibunya akibat Covid-19. WHO menyarankan sebaliknya.

 

i Proses persalinan bayi dengan mengenakan
Persalinan bayi pada masa Covid-19 di RSIA Tambak, Jakarta, April 2020. Tempo/Muhammad Hidayat
  • WHO menyebutkan sepertiga dari 17 negara merekomendasikan pemisahan bayi baru lahir dengan ibunya yang dicurigai atau terkonfirmasi menderita Covid-19. .
  • Sebanyak 125 ribu nyawa bayi di dunia bisa diselamatkan dengan skin-to-skin contact.
  • Perhimpunan dokter di Indonesia merekomendasikan rawat bersama jika fasiliasnya ada. .

SUKACITA dan keprihatinan datang berbarengan kepada Nadia Ellawati. Ia melahirkan anak keduanya lewat operasi caesar pada 20 Maret lalu. Namun, pada saat yang sama, ia mesti berpisah dengan bayinya akibat pandemi. “Saya positif Covid-19, bayi saya langsung dibawa pergi begitu dilahirkan agar tidak ketularan,” katanya, Jumat, 16 April lalu.

Nadia, 32 tahun, hanya bisa melihat kaki mungil putrinya itu sesaat setelah dilahirkan. Petugas yang mengenakan baju hazmat langsung melarikan anak Nadia ke ruang inkubator. Dua hari kemudian, setelah dipastikan negatif Covid-19, putrinya dibawa pulang, sementara Nadia mesti mondok lebih lama di rumah sakit untuk pemulihan. 

Ia pulang keesokan harinya, tapi tetap tinggal terpisah dengan bayinya agar tidak menularkan virus. “Saya tinggal di rumah sendiri, sementara bayi di rumah orang tua saya,” ujar Nadia, yang tinggal di Banjarmasin.

Selama tinggal terpisah, Nadia rutin memberikan air susu perahnya untuk sang bayi. Ada beberapa hal yang wajib ia lakukan sebelum memerah air susu ibu, seperti tak melepas masker, mencuci bersih tangannya, dan mensterilkan botol ASI. Sesuai dengan saran dokter, ia baru menjumpai anaknya setelah 14 hari. “Kondisi kami saat ini sehat,” tuturnya.


Meirina Fitriani, 33 tahun, juga terpisah dengan bayinya setelah melahirkan pada 4 Januari lalu. Dokter khawatir Meirina masih positif Covid-19 karena hasil uji polymerase chain reaction (PCR) pada 19 Desember 2020 menunjukkan ia terkonfirmasi menderita penyakit itu. Meirina dan putranya diisolasi di ruang berbeda selama menunggu hasil tes PCR kedua. “Tiga hari kami dipisah. Bayiku sendirian di ruangan,” ucap Meirina, yang tinggal di Depok, Jawa Barat.

162076599060

Ada jutaan orang di dunia yang bernasib sama dengan Nadia dan Meirina di masa pandemi ini. Hasil penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) dengan para mitranya yang dipublikasikan medio Maret lalu—salah satunya di Lancet Eclinical Medicine—menyebutkan sepertiga dari 20 pedoman klinis di 17 negara merekomendasikan pemisahan bayi baru lahir dari ibunya jika sang ibu dicurigai atau sudah terkonfirmasi menderita Covid-19.

Adapun survei terhadap ribuan penyedia layanan kesehatan neonatal di 62 negara yang diterbitkan British Medical Journal Global Health mencatat dua pertiga dari fasilitas kesehatan tidak mengizinkan ibu yang dicurigai atau terkonfirmasi positif Covid-19 melakukan skin-to-skin contact alias metode perawatan kanguru secara rutin dengan bayi mereka. Hampir seperempat dari penyedia layanan kesehatan itu tidak mengizinkan ibu menyusui, bahkan jika ibu tidak terjangkit Covid-19.

Padahal, menurut WHO, sebanyak 125 ribu nyawa bayi bisa diselamatkan dengan metode kanguru. Teknik kanguru dilakukan dengan cara menggendong bayi sehingga kulit ibu dan kulit bayi bersentuhan langsung tanpa penghalang. Bayi yang biasanya hanya menggunakan popok diletakkan menempel di dada ibu yang biasanya tidak memakai bra.

Cara ini terbukti menurunkan angka kematian bayi sampai 40 persen, menyusutkan angka kejadian hipotermia lebih dari 70 persen, dan mengurangi tingkat infeksi parah hingga 65 persen pada bayi yang lahir prematur dan yang lahir dengan berat badan rendah atau kurang dari 2 kilogram. Adapun kemungkinan bayi meninggal akibat tertular Covid-19 jauh lebih rendah, kurang dari 2.000 kematian. Karena itu, WHO menyarankan bayi berada di satu kamar dengan ibunya sejak lahir, bisa menyusu, serta melakukan sentuhan kulit langsung, bahkan ketika ibu atau bayi dicurigai atau sudah terkonfirmasi positif Covid-19.

Di Indonesia, pemisahan bayi dan ibunya juga terjadi sejak pandemi merebak. Protokol yang dikeluarkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 pada April 2020 menyebutkan, jika ibu adalah orang dalam pemantauan, pasien dalam perawatan, atau terkonfirmasi positif, sang ibu dirawat terpisah dengan bayinya. Ibu tidak melakukan inisiasi menyusui dini dan harus diisolasi 14 hari. Mereka bisa dirawat gabung asalkan dalam satu kamar khusus dan dokter mesti menyampaikan kemungkinan risiko perawatan bersama tersebut.


“Waktu itu chaos. Kami mencari aman dengan cara memisahkan.”




Prosedur penanganan ini kemudian direvisi. Pedoman Tata Laksana Covid-19 Edisi 3 yang dikeluarkan oleh lima perhimpunan dokter, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia, Desember 2020, memperbolehkan para ibu melakukan inisiasi menyusui dini dengan catatan kondisi ibu stabil dan menggunakan alat pelindung diri, minimal masker. Ibu yang berstatus suspek Covid-19 bisa dirawat bersama bayinya di satu ruangan khusus, sementara yang positif dirawat terpisah.

Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, juga mempraktikkan pedoman tersebut. Menurut dokter spesialis anak, Rinawati Rohsiswatmo, pemisahan di awal pandemi dilakukan karena semua orang takut terhadap Covid-19. Fasilitas alat pelindung diri seperti masker dan baju hazmat yang dibutuhkan para dokter sangat terbatas. Banyak dokter tertular penyakit baru itu sehingga harus beristirahat beberapa pekan. Ini membuat layanan kesehatan tidak optimal. “Waktu itu chaos. Kami mencari aman dengan cara memisahkan,” kata Rinawati Rohsiswatmo, Kepala Pusat Kesehatan Pelayanan RSCM Kiara, yang berfokus pada penanganan ibu dan anak.

Seiring dengan waktu, masyarakat umum dan dokter lebih memahami karakter virus corona. Persediaan alat pelindung diri dan obat-obatan pun terjamin sehingga prosedur berubah. RSCM bahkan mengizinkan ibu terkonfirmasi positif Covid-19 dengan kondisi stabil dirawat bersama bayinya. Syaratnya, sang ibu berkomitmen menjaga diri agar tidak menulari anaknya, misalnya harus memakai masker dengan benar dan sering membersihkan diri. “Kalau kami melihat ibunya bandel, kami pisahkan agar bayi lebih aman,” ujar Rinawati. Kondisi bayi yang imunnya masih sangat rendah itu akan lebih cepat memburuk jika terinfeksi Covid-19.

Berbeda dengan RSCM, sejak awal pandemi, Rumah Sakit Bunda Group tidak memisahkan perawatan ibu dan bayinya. Inisiasi menyusui dini tetap dilakukan, juga kontak skin-to-skin untuk bayi prematur atau dengan berat lahir rendah yang dirawat di neonatal intensive care unit (NICU) supaya produksi ASI tidak turun. Yang berbeda adalah prosedur penanganan lebih hati-hati untuk meminimalkan risiko penularan Covid-19, terutama lewat pemakaian alat pelindung diri.

Rumah sakit tersebut kini mulai memberikan layanan penyatuan ruang kamar untuk bayi yang dirawat di NICU dengan sang ibu. “Paling tidak, dengan melihat bayi dan dapat menyentuh bayi, produksi ASI tetap baik,” tutur dokter spesialis anak di Rumah Sakit Bunda, Menteng, Jakarta Pusat, I Gusti Ayu Nyoman Partiwi.

Namun rumah sakit dengan fasilitas lebih terbatas tak bisa leluasa menyatukan ibu dengan bayinya. Rumah Sakit Umum Pusat Dr Hasan Sadikin Bandung, misalnya, mesti memisahkan bayi dengan ibunya yang diduga positif Covid-19 karena jumlah kamar terbatas. “Kalau ibunya berkeras menyusui langsung, dia harus memakai alat pelindung diri,” ucap dokter spesialis anak di bagian neonatologi, Fiva Aprilia Kadi.

Perihal perawatan ini memang dikembalikan kepada kemampuan rumah sakit. Seperti di Kalimantan Barat, Dinas Kesehatan memberikan arahan kepada rumah sakit yang punya fasilitas memadai agar tetap menjalankan protokol ketat. Misalnya, jarak ibu dan bayi minimal 2 meter serta bayi ditempatkan di inkubator atau boks yang dipisahkan dengan tirai. Ibu pun harus memakai masker bedah ketika menyusui, sering mencuci tangan, dan melaksanakan etika batuk dengan benar. “Juga sering membersihkan alat ataupun tempat yang dia sentuh dan kira-kira terkena batuk atau dropletnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Harisson.

NUR ALFIYAH, ANWAR SISWADI (BANDUNG), ASEANTY PAHLEVI (PONTIANAK)

Reporter Nur Alfiyah - profile - https://majalah.tempo.co/profile/nur-alfiyah?nur-alfiyah=162076599060


Pandemic Badan Kesehatan Dunia (WHO) Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Covid-19 Kesehatan Wanita Kesehatan Bayi dan Balita

Kesehatan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.