Kabar Pandemi 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mewanti Kluster Baru Pascakerumunan

Kerumunan orang dalam jumlah banyak berpotensi menularkan Covid-19.

i Massa dari berbagai daerah memadati kawasan Petamburan, Jakarta, untuk menunggu kedatangan Rizieq Syihab, Selasa, 10 November 2020./TEMPO / Hilman Fathurrahmam W
Massa dari berbagai daerah memadati kawasan Petamburan, Jakarta, untuk menunggu kedatangan Rizieq Syihab, Selasa, 10 November 2020. Tempo/ Hilman Fathurrahmam W.

DALAM dua pekan terakhir, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat ada beberapa kerumunan massa di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat yang berisiko memunculkan kluster penularan baru virus corona. Jumlah kasus harian terkonfirmasi positif tak pernah turun di bawah 4.000 kasus. Bahkan pada 27 November 2020 angka kasus positif Covid-19 menembus 5.828 per hari.

Kegiatan masyarakat yang mengundang kerumunan terbukti berpotensi besar menimbulkan bahaya penularan Covid-19. Hal ini menunjukkan penularan Covid-19 masih terjadi. “Berdasarkan data nasional, terdapat berbagai kegiatan kerumunan yang berdampak pada timbulnya kluster penularan Covid-19 di berbagai daerah di Indonesia,” kata juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, akhir pekan lalu.

Jumlah kasus positif bertambah cukup tinggi karena masih adanya penularan di lingkungan masyarakat. Wiku mewanti masyarakat untuk menghindari kerumunan selama masa pandemi.


Sebelumnya, kasus kerumunan yang menimbulkan penyebaran Covid-19 terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Hal itu antara lain sidang Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Sinode yang menimbulkan 24 kasus pada lima provinsi. Kluster ini berawal dari kegiatan agama yang dilakukan di Bogor, Jawa Barat, yang diikuti 685 peserta. Kemudian penularan berkembang dan menyebar ke provinsi lain, yakni Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Nusa Tenggara Barat.

162113283337

Selanjutnya, kluster kegiatan “Bisnis tanpa Riba” menghasilkan 24 kasus di tujuh provinsi dan menimbulkan korban jiwa sebanyak tiga orang, atau case fatality rate kasus ini mencapai 12,5 persen. Sama seperti kluster GPIB Sinode, kluster ini berawal dari kegiatan di Bogor yang diikuti 200 peserta. Kasusnya berkembang dan menyebar ke berbagai provinsi, seperti Lampung, Kepulauan Riau, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Papua.

Di Lembang, Jawa Barat, terdapat kluster Gereja Bethel. Kegiatannya melibatkan sekitar 200 peserta dan menghasilkan 226 kasus dengan tingkat risiko terinfeksi atau infection rate mencapai 35 persen.

Kemudian kluster kegiatan Ijtimak Ulama di Gowa, Sulawesi Selatan, dengan total peserta sekitar 8.761 orang menghasilkan 1.248 kasus pada 20 provinsi. Kemudian ada kluster Pondok Pesantren Temboro di Jawa Timur yang menimbulkan 193 kasus di enam provinsi di lebih dari 14 kabupaten/kota dan satu negara lain.

“Jadi tidak mengherankan, karena kluster tersebut terjadi karena adanya kerumunan di masyarakat. Dan masyarakat akan sulit menjaga jarak,” ucap Wiku.

Berbagai pengalaman ini sesuai dengan penelitian Ibrahim dan Memish pada tahun ini yang menyebutkan adanya hubungan dua arah antara kerumunan dan penyebaran penyakit menular. “Dan ini penting untuk menjadi perhatian publik, bahwa kerumunan itu harus dihindari,” ujar Wiku.

Dampak kerumunan berpeluang besar membuat testing (pemeriksaan), tracing (pelacakan), dan treatment (perawatan) atau 3T harus dilakukan segera dan menyeluruh. Sebab, periode inkubasi antara paparan virus dan timbulnya gejala rata-rata hanya lima hari. Gejala dapat muncul dua hari kemudian.

Menurut Wiku, bisa disimpulkan, ada waktu sekitar tiga hari untuk melacak kontak erat itu. Isolasi harus segera dilakukan sebelum penularan berlanjut ke lingkaran yang lebih luas lagi. “Kesadaran dan kerja sama untuk tidak berkerumun. Karena apa yang disemai inilah yang akan dituai. Jangan gegabah dan egois,” tuturnya.

Satgas, Wiku menambahkan, berkomitmen untuk memetakan kluster yang muncul akibat kegiatan yang mengundang kerumunan baru-baru ini. Misalnya, kerumunan yang terjadi di wilayah Petamburan, Tebet, Jakarta, Megamendung, Bogor, dan Bandar Udara Soekarno-Hatta, Banten, yang melibatkan massa dalam jumlah besar.

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia Kesehatan Mariya Mubarika mengungkapkan, hingga 23 November 2020, ditemukan 1.146 kluster penyebaran Covid-19 di Indonesia. Hal itu menunjukkan adanya peningkatan dibanding pada hari sebelumnya, yakni 1.137 kluster.

Dia menjelaskan kluster paling banyak muncul di Jawa Tengah dan didominasi oleh kelompok pesantren. Dua kluster penyebaran Covid-19 di Jawa Tengah adalah Pondok Pesantren Kecamatan Sumbang, Banyumas, dan Pondok Pesantren Kelurahan Purwanegara, Kecamatan Purwokerto Utara.

“Kami pantau secara ketat dan terus-menerus oleh unsur-unsur kesehatan di wilayah terkait. Untuk itu, masyarakat tidak perlu panik. Pemerintah menjamin tidak akan ada penularan ke luar kluster,” tutur Mariya.

Agar tak terjadi lonjakan angka kasus atau kluster baru penyebaran Covid-19, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengusulkan agar libur bersama akhir tahun dihapus. Usul tersebut berkaca pada temuan kasus baru positif corona yang terus meningkat setelah libur cuti bersama, empat pekan lalu. “Saya usulkan tidak usah ada libur bersama,” ujarnya.

Menurut politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu, momen liburan banyak dimanfaatkan masyarakat untuk melancong. Sayangnya, masyarakat cenderung berkerumun ketika berwisata. Saat libur panjang empat pekan lalu, pemerintah Jawa Tengah melakukan tes acak di sejumlah titik pariwisata. Hasilnya, ditemukan bahwa enam pelancong positif Covid-19.

Ganjar berharap masyarakat memahami usulnya itu. Sebab, selama ini masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu bekerja ataupun sekolah dari rumah. Karena itu, tak perlu libur panjang untuk bisa berkumpul bersama keluarga.

Untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pasien akibat kerumunan yang sempat terjadi, Kementerian Kesehatan memantau serta menelusuri wilayah DKI dan Bogor, Jawa Barat. Menurut pelaksana tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit M. Budi Hidayat, untuk mempercepat penelusuran dan kontak erat, Kementerian menerjunkan 5.000 pelacak kontak di 10 provinsi prioritas. Dia meminta masyarakat agar terbuka dan mendukung para relawan pelacak kontak sebagai kontribusi dalam memotong rantai penularan.

Budi mengimbau orang yang hadir dalam kegiatan dengan jumlah massa besar melakukan karantina rumah selama 14 hari. Bila seseorang mengalami gejala demam, nyeri otot, lemas, sesak napas, batuk, sakit ketika menelan, serta hilang indra perasa dan penciuman, ia diminta segera mendatangi pusat kesehatan masyarakat untuk tes swab dengan polymerase chain reaction.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Abdul Kadir menuturkan kapasitas ruang perawatan pasien Covid-19 di rumah sakit dan ketersediaan obat masih mencukupi. Ia berharap semua pihak, termasuk para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemimpin daerah agar memberikan teladan dalam penerapan protokol kesehatan. “Kita harus bekerja sama dalam upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19,” ujarnya.

ALI NUR YASIN, EKO WAHYUDI

Reporter Ali Nur Yasin - profile - https://majalah.tempo.co/profile/ali-nur-yasin?ali-nur-yasin=162113283337


#JagaJarak #PakaiMasker #CuciTangan Komite Penanganan Covid 19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional

Kabar Pandemi 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.