Pembangunan Reaktor Nuklir dan Persenjataan, Motif di Balik Perdamaian UEA dengan Israel - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Marshall Plan di Timur Tengah

Uni Emirat Arab akhirnya berdamai dengan Israel. Membuka jalan bagi pembangunan reaktor nuklir dan pembelian teknologi tinggi Amerika Serikat.

i Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Berkah, Uni Emirat Arab. / Facebook Emirate Nuclear Energy Coorporation
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di Berkah, Uni Emirat Arab. / Facebook Emirate Nuclear Energy Coorporation
  • Uni Emirat Arab akhirnya membuat kesepakatan damai dengan Israel. .
  • Perdamaian itu membuka jalan bagi pembangunan reaktor nuklir dan pembelian teknologi tinggi Amerika Serikat.
  • Ada upaya pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Arab Saudi. .

PERCAKAPAN telepon tiga pemimpin negara pada Kamis, 13 Agustus lalu, itu menjadi sorotan dunia. Pembicaraan antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Pangeran Mohammed bin Zayed al-Nahyan, Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Panglima Angkatan Bersenjata Uni Emirat Arab, yang dijembatani Presiden Amerika Serikat Donald Trump, berujung pada kesepakatan damai bersejarah antara Israel dan Emirat. “Setelah 49 tahun, Israel dan UEA akhirnya menormalkan sepenuhnya hubungan diplomatik mereka,” kata Trump dalam pidato di Gedung Putih seusai percakapan tersebut.

Trump menyebutnya sebagai “Kesepakatan Ibrahim”, mengacu pada Nabi Ibrahim, bapak dari tiga agama samawi—Yahudi, Kristen, dan Islam—yang banyak dianut penduduk ketiga negara. Israel dan Emirat akan mewujudkan kesepakatan itu dengan pertukaran duta besar dan kerja sama di berbagai bidang, termasuk perdagangan, pendidikan, dan keamanan. Pada Selasa, 18 Agustus lalu, Emirat mencabut pemblokiran sambungan telepon di antara kedua negara. Hari itu untuk pertama kalinya kepala badan intelijen Israel (Mossad), Yossi Cohen, berbincang-bincang dengan Syekh Tahnoun bin Zayed al-Nahyan, penasihat keamanan nasional Emirat, mengenai rencana kerja sama kedua negara.

Raja Bahrain Hamad bin Isa al-Khalifa mengucapkan selamat kepada Syekh Mohammed bin Zayed atas traktat damai itu. Mesir, Oman, dan Yordania juga mendukung kesepakatan tersebut. Negara-negara Timur Tengah lain, termasuk Kuwait, Qatar, dan Arab Saudi, belum berkomentar apa pun. Tapi pejabat senior Palestina, Hanan Ashrawi, mengecamnya. “Semoga Anda tidak menjual ‘teman-teman’ Anda,” ujar Ashrawi, yang ditujukan kepada Syekh Mohammed.


Kesepakatan itu, kata Emile Hokayem, peneliti International Institute for Strategic Studies yang berbasis di London, Inggris, membuat kepemimpinan Emirat menjadi tak populer di dunia Arab, yang umumnya mencurigai Israel. Namun, “Kesepakatan ini tidak akan mempengaruhi stabilitas rezim UEA. Ini lebih mencerminkan perubahan geopolitik di kawasan dan menunjukkan niat baik UEA kepada Amerika,” ucap Hokayem, seperti dikutip BBC.

Menurut Frank Gardner dari BBC, ada dua hal di balik perjanjian tersebut: strategi dan teknologi. Emirat, bersama Bahrain dan Arab Saudi, sudah lama merasa terancam oleh Iran, tetangga mereka yang memiliki senjata nuklir. Ada pula kelompok politik Islam lintas negara, seperti Al-Ikhwan al-Muslimun, yang dinilai mengancam pengaruh dinasti para emir, sehingga para pangeran Arab mendukung penentang kelompok tersebut bahkan hingga ke Libya. Ini mendorong terbentuknya kemitraan tak resmi di antara negara-negara konservatif Timur Tengah, termasuk Israel.

Dari sisi teknologi, kata Gardner, Israel adalah negara yang memiliki teknologi paling maju di kawasan. Kerja sama dengan Israel membuat Emirat dapat mengakses bioteknologi serta teknologi pertahanan dan kesehatannya. Sejak beberapa tahun lalu, Emirat membeli teknologi mata-mata siber bikinan Israel.

Sebagai bagian dari traktat itu, Israel akan menghentikan rencana pencaplokan wilayah Palestina di Tepi Barat, yang seharusnya dimulai pada 1 Juli lalu. Menteri Luar Negeri Emirat Anwar Gargash menyebutkan pengakuan negaranya terhadap Israel adalah langkah nyata untuk “menghentikan bom waktu” aneksasi Israel. Tapi, di negerinya, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menggunakan kata “penangguhan” untuk menenangkan faksi politik pendukung aneksasi.


Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbincang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Tel Aviv, Israel, 22 Mei 2017. AP Photo/Oded Balilty

Kesepakatan ini adalah bagian dari ambisi Presiden Donald Trump untuk menciptakan perdamaian antara Israel dan Palestina yang termaktub dalam proposal “Perdamaian Menuju Kemakmuran: Visi untuk Meningkatkan Kehidupan Rakyat Palestina dan Israel”. Proposal itu disampaikan Trump kepada Netanyahu pada Januari lalu. Dalam proposal disebutkan, negara Palestina akan berdiri, tapi angkatan bersenjatanya dilucuti. Selain itu, Israel akan mendapat seluruh Kota Yerusalem, sementara Palestina kebagian daerah di sekitar Yerusalem timur. Amerika juga mengakui daerah Palestina yang diduduki para pemukim Yahudi di Tepi Barat sebagai wilayah Israel, meskipun hukum internasional menegaskan bahwa permukiman-permukiman Israel itu ilegal. Palestina, yang tak dilibatkan dalam penyusunan rencana ini, menolak mentah-mentah rencana tersebut.

Proposal itu disusun oleh Jared Kushner, menantu Trump dan penasihat politik Timur Tengah; David Friedman, Duta Besar Amerika untuk Israel; dan Jason Greenblatt, penasihat Timur Tengah. Pada Juni 2019, Kushner menyatakan bahwa Amerika akan menggelontorkan dana US$ 50 miliar, atau Rp 735 triliun dalam kurs saat ini, ke Timur Tengah sebagai bagian dari proposal tersebut. Lebih dari separuh dana itu akan dipakai mendanai proyek pembangunan di Tepi Barat dan Jalur Gaza, sedangkan sisanya untuk proyek di Yordania, Mesir, dan Libanon.

Kushner menyebutkan rencana ini serupa dengan Marshall Plan, prakarsa Amerika pada 1948 untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Eropa pasca-Perang Dunia II. “Salah satu hal yang membuat mereka berhasil (dengan Marshall Plan) adalah bahwa mereka tak cuma memberikan bantuan, tapi menyuntikkan dana ke sektor swasta dan menciptakan lingkungan yang memungkinkan bisnis tumbuh dan modal diinvestasikan. Hal yang sama (akan kami lakukan),” tuturnya kepada Reuters.

Dokumen “Marshall Plan” Timur Tengah ala Trump, The Trump Middle East Marshall Plan, yang disusun Tom Barrack menunjukkan lebih jelas bahwa masalah Timur Tengah, termasuk politik dan terorisme, hanya dapat diatasi dengan perbaikan ekonomi. Barrack adalah jutawan sahabat Trump, ketua panitia pelantikan Trump sebagai presiden pada Januari 2017, dan direktur utama perusahaan investasi Colony Capital.

Hubungan Israel dan Uni Emirat Arab sebenarnya sudah membaik dalam beberapa tahun belakangan ini. Keduanya memang berbeda sikap dalam memandang Palestina, tapi sama-sama terancam oleh sikap Iran, negara pemilik senjata nuklir yang berpengaruh di kawasan itu. “Ini Timur Tengah dan kami akan melakukan apa pun yang perlu kami lakukan. Bila Iran menembakkan misil, kami akan mengejar dan membunuh mereka semua,” kata Syekh Mohammed bin Zayed dalam kawat diplomatik Amerika yang dibocorkan oleh WikiLeaks pada 2009.

Namun perubahan signifikan terjadi sejak kontroversi Dubai Ports World (DPW) pada Februari 2006. Perusahaan Emirat yang dikendalikan Perdana Menteri Emirat Syekh Mohammed bin Rashid al-Maktoum itu mengambil alih Peninsular and Oriental Steam Navigation Company (P&O), perusahaan Inggris yang mengelola enam pelabuhan utama Amerika. Akuisisi ini memicu protes di Kongres Amerika, yang khawatir terhadap keamanan pelabuhan karena perubahan status tersebut, meskipun Presiden George W. Bush mendukung DPW. Akhirnya DPW mundur dan menjual bisnis pelabuhan Amerika kepada Ports America, perusahaan milik Negeri Abang Sam.

“Abu Dhabi tampaknya terkejut dengan penentangan Kongres dan kemudian melancarkan kampanye masif untuk meyakinkan pengambil kebijakan di Washington bahwa UEA tak hanya layak menjadi sekutu Amerika, tapi juga punya kepentingan strategis yang sama, termasuk soal Israel,” tulis Sigurd Neubauer, bekas peneliti Arab Gulf States Institute di Washington, dalam artikelnya di jurnal International Institute for Middle-East and Balkan Studies (IFIMES).

Menurut Neubauer, Emirat khawatir skandal ini akan berdampak pada hilangnya akses negeri Arab itu ke persenjataan dan informasi intelijen Amerika, khususnya mengenai Iran, serta investasi Amerika di negerinya. Untuk meredakan kontroversi itu dan meningkatkan pengaruhnya di dunia, Abu Dhabi mengajukan diri sebagai tuan rumah permanen Badan Energi Terbarukan Internasional (IRENA) Perserikatan Bangsa-Bangsa, tawaran yang akhirnya disetujui badan dunia itu. Kala itu, Emirat menekankan, sebagai tuan rumah IRENA, maka “semua” anggota PBB—ungkapan yang merujuk pada Israel—diizinkan bertamu ke negerinya.

Sejak IRENA berdiri di Abu Dhabi pada 2008, diplomat dan menteri Israel berdatangan untuk menghadiri sidang-sidang badan tersebut. Sejumlah pertemuan terjadi antara wakil Negeri Yahudi itu dan wakil Emirat mengenai masalah-masalah bersama. Atlet Israel bahkan ikut serta dalam kompetisi regional di Emirat. Israel kini juga terdaftar sebagai peserta World Expo 2020 di Dubai, yang ditunda ke Oktober tahun depan karena pandemi Covid-19.

Pada saat yang sama, Emirat mendekati organisasi-organisasi Yahudi Amerika, seperti American Israel Public Affairs Committee, American Jewish Committee, dan Anti-Defamation League. Dukungan kelompok ini memuluskan jalan Emirat agar mendapat dukungan Kongres dalam pengembangan nuklir pada 2009. Emirat dan Amerika akhirnya meneken “Kesepakatan 123”, yang mengacu pada Pasal 123 Undang-Undang Energi Atom Amerika yang mengizinkan transfer pengetahuan dan teknologi nuklir untuk tujuan damai ke negara lain.

Kerja Sama Energi Nuklir Emirat (ENEC) kemudian membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Berkah di Al-Dhafrah, 270 kilometer dari Abu Dhabi—PLTN pertama di dunia Arab. Pembangkit ini dibangun melalui kerja sama ENEC dengan konsorsium yang dipimpin Korea Electric Power Corporation (KEPCO), yang ditandatangani pada 2009 dengan ongkos US$ 24,4 miliar. Satu dari empat pembangkit itu resmi dinyalakan pada 1 Agustus lalu.


Jared Kushner dalam pembukaan Konferensi Bahrain, 25 Juni 2020. Peace to Prosperity Workshop/Reuters

Konsorsium itu melibatkan perusahaan-perusahaan besar Korea Selatan, Toshiba dari Jepang, dan Westinghouse Electric Company dari Amerika. Pembangkit APR-1400 yang digunakan Berkah adalah rancangan Westinghouse sehingga akan tunduk pada aturan ekspor Amerika. PLTN Korea pertama yang dibangun pada 1970-an juga ditangani KEPCO dengan membeli teknologi Westinghouse.

Westinghouse kini menjadi sorotan Komite Pengawas Dewan Perwakilan Rakyat Amerika setelah Komite mendapat bocoran dari sejumlah “peniup peluit” mengenai upaya Thomas Barrack dan Michael Flynn mendorong Amerika membangun PLTN di Arab Saudi. Laporan penyelidikan Komite, yang disusun Elijah Cummings, legislator Partai Demokrat, itu menyatakan bahwa “dokumen-dokumen baru ini menimbulkan pertanyaan serius tentang apakah Gedung Putih bersedia menempatkan potensi keuntungan teman-teman Presiden di atas keamanan nasional rakyat Amerika dan tujuan universal untuk mencegah penyebaran senjata nuklir”.

Laporan itu menyatakan bahwa Barrack dan para pejabat di IP3 International, perusahaan yang dikelola sejumlah mantan jenderal Amerika, berupaya mengajak Saudi Public Investment Fund bermitra dengan Westinghouse untuk membangun lebih dari 30 reaktor nuklir di Saudi, yang disebut Barrack sebagai “Marshall Plan” Timur Tengah. Menurut laporan itu, Flynn dan Barrack mendorong proposal ini kepada Donald Trump sejak musim kampanye pemilihan presiden pada 2016 dan dalam sejumlah pertemuan dengan pejabat Gedung Putih, yang juga dihadiri Jared Kushner dan Trump.

Selain membidik nuklir, Emirat mengincar teknologi militer Amerika yang lain, seperti drone dan pesawat tempur. Tapi pembelian itu membutuhkan keputusan Kongres dan waktu bertahun-tahun untuk terwujud. Emirat kini menggunakan drone bikinan Cina dan telah menggunakannya dalam perang di Yaman untuk mendukung pasukan koalisi pimpinan Saudi dalam menghadapi pemberontak Houthi, yang didukung Iran.

Emirat juga melirik pesawat tempur F-35 milik Amerika, yang jauh lebih canggih daripada F-16 dan Mirage 2000 dari Prancis yang kini digunakan angkatan bersenjatanya. Menteri Luar Negeri Emirat Anwar Gargash menyatakan perdamaian dengan Israel pada akhirnya juga menyangkut aspek pertahanan dan keamanan. Perdamaian ini akan membuat negaranya “lebih mudah” dalam mendapatkan F-35. “Ini sesuatu yang sudah diajukan,” ucap Gargash dalam konferensi video Atlantic Council, Jumat, 21 Agustus lalu. “Permintaan kami ini sahih. Kami seharusnya mendapatkannya.”

Teknologi pesawat F-35 akan jauh melampaui Iran, yang alat pertahanan kunonya warisan dari era sebelum Revolusi Islam 1979 dan beberapa pesawat buatan sendiri. Kemampuan siluman F-35 juga akan membuatnya sulit dideteksi rudal antipesawat terbang Iran, yang baru-baru ini dikecam komunitas internasional karena membuat pesawat komersial Ukraina jatuh pada Januari lalu.

Di kawasan ini, hanya Israel yang kini menerbangkan jet tempur tersebut karena rencana pembelian oleh Turki batal setelah Ankara membeli sistem rudal antipesawat S-400 milik Rusia. Namun Gargash berulang kali menyatakan keputusan Emirat membuka hubungan diplomatik dengan Israel tak ada hubungannya dengan Iran. Sementara itu, di Teheran, stasiun televisi pemerintah menyebut F-35 sebagai “hadiah untuk perdamaian” tanpa memberi penjelasan lebih lanjut.

IWAN KURNIAWAN (AP, BBC, AL JAZEERA, WAM, ABC NEWS)

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

2020-09-21 23:45:33

Israel Donald Trump Benjamin Netanyahu Uni Emirat Arab

Internasional 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.