Indonesiana 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Berjudi rambu

Wito,karyawan bina marga-dept.pu. tertangkap basah ketika mencabuti rambu lalu lintas jalan di madiun rambu dari aluminium itu dijual rp 1500/kg. hasil penjualannya ia belikan sdsb.

i
PAGI-lagi SDSB, sehingga Wito menjadi memble. Warga Desa Tiron, Kecamatan Ngelames, Madiun, Jawa Timur ini sehari-hari karyawan Bina Marga, Departemen PU. Gajinya Rp 58 ribu, tapi Rp 38 ribu yang terbawa pulang, sebab sebagian dipotong mencicil pinjaman di koperasi. Padahal, ia menghidupi lima anak. Demikianlah, hidup sudah susah, Wito, 39 tahun, malah membikin dirinya makin susah. Caranya, dia melirik rambu jalan raya yang terbuat dari bahan aluminium. Sepintas tampak di matanya, barang yang tercagak di tepi jalan kawasan Madiun itu menganggur. Lalu dengan bekal seragam Bina Marga, sepeda, paku, dan obeng Wito beraksi. Satu per satu rambu yang amat penting bagi keselamatan lalu lintas itu dilipatnya. Akibatnya, aparat kepolisian Madiun jadi sibuk, karena rambu yang baru saja dipasang bisa raib. Juga ada laporan dari DLLAJR Cabang Madiun. Dari sekitar 200 rambu (proyek anggaran 1989-1990) yang dipasang di kawasan Ngawi, Madiun, dan Magetan, menguap pula 20 biji. "Bahkan ikut disikat rambu batas kecepatan maksimal 40 km/jam di depan kantor saya," ujar Ir. Sudirman Lambali, 36 tahun, Kepala DLLAJR Madiun, kepada Wahyu Muryadi dari TEMPO, pekan lalu. Lebih runyam lagi, Sudirman dapat info bahwa si pencuri berseragam dinas DLLAJR, kemeja abu-abu, celana biru. Karena keadaan makin gawat, awal April lalu dia melaporkan kasus ini dalam rapat koordinasi pelaksanaan Operasi Ketupat di Mapolres Madiun. Makanya, di tengah Operasi Ketupat barusan, polisi juga mengintip yang merayahi rambu-rambu tersebut. Luput dari intaian polisi, Wito tertangkap basah oleh kawan sekerjanya sendiri, pertengahan April lalu, ketika mereka melakukan kontrol di lapangan. Sewaktu ia mencongkel rambu, petugas lapangan tadi menanyakan surat tugas Wito. Tentu dia gugup. Wito dibekuk. Pada polisi ia mengaku mencuri enam daun rambu di daerah Balerejo, Madiun, 11 April. Kemudian, 17 April, di Desa Sugihwaras, Saradan, disikatnya empat lembar. Lembar rambu aluminium itu dilegonya ke pasar loak di Jalan Mangga, Madiun, Rp 1.500 per kg. Uangnya ke mana? "Semua ludes saya belikan SDSB," sahutnya gemetar. Maklum, mabuk angan-angan ketiban semilyar. Ed Zoelverdi

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833347144



Indonesiana 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.