Olahraga 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dari klub malam ke sampdoria

Gianluca vialli dari klub sampdoria ingin menggondol piala dunia ke-4 kali untuk italia.namanya populer ketika berhasil mencetak gol 2-0 dari anderlech.menolak transper rp 30 milyar dari ac milan.

i
MAMPUKAH Italia mengukir sejarah baru di Piala Dunia 1990, yakni menjadi juara dunia untuk keempat kalinya? Peluang pasukan biru-biru asuhan pelatih Azeglio Vicini ini cukup besar. Apalagi kejuaraan yang berlangsung selama satu bulan itu berada di kandang sendiri. Lagi pula, lihatlah. Klub-klub Italia begitu dominan dalam kompetisi sepak bola Eropa, mulai dari Piala UEFA, Piala Winners, hingga Piala Champions. Dan yang masih hangat ialah keberhasilan klub Sampdoria, Kamis dinihari pekan lalu, di Stadion Ullevi, Gothenburgh, Swedia, mengalahkan klub Anderlech, Belgia, 2-0 melalui perpanjangan waktu. Kemampuan klub juara FA Italia yang menempati urutan kelima pada kompetisi Liga Italia untuk memboyong Piala Winners, tidak terlepas dari kehebatan ujung tombaknya, Gianluca Vialli. "Saya cukup puas mampu menciptakan gol untuk kemenangan Sampdoria," kata Vialli, seusai pertandingan. Kehebatan Vialli dalam menciptakan dua gol ke gawang Anderlech itu, membuat ia makin diperhitungkan oleh pemain belakang tim-tim yang berada satu grup dengan Italia di Piala Dunia nanti. Dibandingkan pemain lainnya di tim nasional Italia, Vialli memang paling populer. Pemain kelahiran Cremona -- Italia bagian selatan -- 26 tahun lalu ini hampir tidak mempunyai saingan sebagai pemain penyerang. Itu yang menyebabkan dia lebih dikenal dibandingkan dengan pemain lainnya. Vialli dibesarkan dari keluarga kaya raya. Perkenalannya dengan si kulit bundar tidak lebih dari sekadar hobi. Ayahnya, seorang pengusaha terpandang di Italia, pada mulanya tidak mendukung hobinya itu. Sang ayah lebih mengharapkan anaknya terjun ke dunia bisnis. Pada mulanya, Vialli menghabiskan masa mudanya untuk berhura-hura di klub-klub malam terkenal di Italia. Bahkan dia menjadi anggota perkumpulan Zed, sebuah geng anak-anak muda yang berkantong tebal, yang kerjanya hanya menghabiskan uang di lantai diskotek bersama wanita-wanita cantik. Anak muda kaya bertampang jantan dengan pandangan mata yang tajam ini menjadi incaran cewek-cewek Italia yang terkenal cantik-cantik dan atraktif. Untuk menghindari kerubutan gadis-gadis cantik itulah, Vialli akhirnya harus sering menyingkir ke vilanya yang sepi. Di sini, tanpa disadarinya, ia semakin dekat dengan bola. Ia banyak tinggal di rumah dan menyaksikan pertandinganpertandingan sepak bola di televisi. Kemudian ia mulai gemar datang ke stadion. Lalu, mulai berlatih dan masuk klub. Itu sebabnya, karier sepak bola Vialli kalah cepat dibandingkan dengan pemain seangkatannya seperti Marco van Basten, Ruud Gullit, ataupun Paulo Maldini. Baru di usia 20 tahun, Vialli dikenal masyarakat bola Italia. Itu ketika ia pindah dari klub Cremone, anggota divisi II Liga Italia, ke klub Sampdoria, anggota divisi I Liga Italia. Bakatnya yang besar membuat dia terpilih sebagai pemain nasional Italia di bawah usia 23 tahun pada 1986. Penampilannya yang cemerlang membuat pelatih tim Italia senior, Enzo Bearzot, merekrut Vialli untuk diterjunkan pada Piala Dunia 1986 di Meksiko. Karena itulah, jasa Bearzot tak pernah dilupakan Vialli walaupun di Meksiko dia hanya sebagai pemain cadangan. Sejak saat itu prestasinya terus menanjak. Apalagi pengurus sepak bola Italia memutuskan untuk mempersiapkan pemain muda guna menghadapi Piala Dunia 1990. Tak pelak lagi, Vialli menjadi pilihan pertama Azeglio Vicini, pelatih yang menggantikan posisi Bearzot. Bahkan, ia sempat ditunjuk sebagai kapten kesebelasan pada Kejuaraan Eropa 1988 lalu. Prestasi Italia yang masuk babak semifinal dalam kejuaraan itu makin mengangkat nama Vialli. Pujian demi pujian diberikan kepada Vialli atas penampilannya di lapangan hijau. "Vialli merupakan ujung tombak yang paling berbahaya saat ini," kata Franz Beckenbauer, pelatih kepala tim Jerman Barat ini. "Dan untuk mematikan Vialli perlu menyediakan pemain belakang secara khusus," tambah Michael Platini, pelatih tim nasional Prancis. Namun, sanjungan itu tidak membuat Vialli lupa daratan. Bahkan dia menampik keinginan klub besar AC Milan yang akan mentransfernya Rp 30 milyar dari klub Sampdoria yang membesarkannya. Andaikan transfer itu terjadi, itulah rekor transfer terbesar dalam sejarah sepak bola profesional. Sekali lagi, Vialli tidak tergiur dengan tawaran sebesar itu. "Uang bukanlah tujuan utama saya bermain bola. Yang terpenting saya bisa mengembangkan karirku. Dan itu saya dapatkan di Sampdoria," ujar Gianluca Vialli. Loyalitasnya itu membuat dia menjadi anak emas di klubnya. Tanpa dia, rasanya kecil kemungkinan Sampdoria mampu menciptakan gol di setiap pertandingan. Di kompetisi Liga Italia, Vialli menjadi penyerang yang paling ditakuti pemain belakang lawan. Di tim nasional Italia, sebagai ujung tombak Vialli didampingi pemain-pemain muda lainnya, seperti Roberto Mancini, teman satu klubnya, dan Salvatore Schillaci (Inter Milan). "Sasaran saya berusaha mewujudkan impian masayarakat Italia untuk menggondol Piala Dunia keempat kalinya," kata Vialli. Rudy Novrianto

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833522696



Olahraga 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.