Kekerasan Seksual yang Terjadi di Rumah Tuhan Selama 20 Tahun - Hukum - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Hukum 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

20 Tahun Berlumur Aib

Selama 20 tahun kekerasan seksual menimpa para putra altar di Paroki Santo Herkulanus, Depok. Ada upaya menutup-tutupi kasus pencabulan tersebut.

i  Polres Metro Depok saat merilis kasus pencabulan yang dilakukan pengurus gereja di Mapolrestro Depok, Senin 15 Juni 2020. (foto: TEMPO/ Ade Ridwan)
Polres Metro Depok saat merilis kasus pencabulan yang dilakukan pengurus gereja di Mapolrestro Depok, Senin 15 Juni 2020. (foto: TEMPO/ Ade Ridwan)
  • Orang tua dua putra altar di Gereja Santo Herkulanus, Depok, melaporkan kasus perundungan seksual ke polisi.
  • Tim internal gereja mencatat setidaknya ada 21 korban pencabulan yang diduga dilakukan pembina misdinar.
  • Sempat terkuak pada 2014, kasus pencabulan diselesaikan secara damai.

DITULIS oleh Syahril Parlindungan Marbun pada Sabtu, 6 Juni lalu, tujuh lembar kertas itu berisi pengakuan pencabulan dan tindakan asusila terhadap para putra altar di Paroki Santo Herkulanus, Depok, Jawa Barat. Ketua Seksi Liturgi Paroki Herkulanus itu mencatat 13 nama korban lengkap dengan rincian perbuatan dan lokasi kejadian. Pada paragraf terakhir, sebelum membubuhkan tanda tangan di atas meterai, Syahril berjanji menjauhi para korban untuk selamanya. “Saya bersedia dihukum sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku,” tulis Syahril.

Hari itu tim yang beranggotakan perwakilan umat Paroki Santo Herkulanus serta Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Indonesia bertemu dengan Syahril di sebuah rumah retret di kawasan Ciawi, Bogor, Jawa Barat. Mereka mengklarifikasi dugaan kejahatan seksual yang dilakukan laki-laki 42 tahun itu terhadap para misdinar—anak-anak yang melayani pastor dalam misa. Pertemuan itu juga dihadiri orang tua dua korban yang melaporkan perbuatan Syahril. Pertemuan itu berjalan alot karena Syahril tak kunjung mengakui perbuatannya.

Menjelang sore, tembok pertahanan Syahril rontok. Tim menyodorkan barang bukti dan menghadirkan seorang mantan putra altar yang menjadi korban pemerkosaan. Syahril yang berprofesi sebagai pengacara akhirnya mengakui perbuatannya dan bersedia menuliskan surat pernyataan. “Tapi dia tidak terlihat menyesal,” kata pastor kepala Paroki Santo Herkulanus, Yosep Sirilus Natet, menceritakan pertemuan itu pada Kamis, 18 Juni lalu.


 

Pihak Kepolisian Resor Metro Depok saat merilis kasus pencabulan yang dilakukan pengurus gereja, di Markas Polres Metro Depok, 15 Juni 2020./TEMPO/Ade Ridwan

Dua hari sebelum pertemuan 6 Juni itu, Syahril menemui Natet di lantai dua Gedung Pastoral di samping gereja. Awalnya Syahril mempertanyakan alasan Natet mengirimkan undangan pertemuan dengan orang tua putra altar tanpa setahu dia. Belakangan, Syahril bertanya soal kabar orang tua misdinar yang akan melaporkannya ke polisi. Menurut Natet, Syahril meminta rencana itu dibatalkan dengan alasan kasihan terhadap para putra altar. Dalam pertemuan tak sampai satu jam itu, Syahril juga mengakui suka melakukan kontak fisik seperti memeluk anak-anak. “Dia malah bertanya, ‘Apakah itu pelecehan?’,” ujar Natet.

Laporan dugaan kejahatan seksual yang dilakukan Syahril diterima oleh Natet pada Ramadan lalu. Orang tua seorang misdinar bercerita kepadanya bahwa anaknya tiga kali mengalami perundungan seksual pada Maret lalu. Semua peristiwa itu terjadi di perpustakaan di ruang Aloysius III, lantai dua Gedung Pastoral. Syahril ikut mengelola dan memegang kunci perpustakaan, yang jaraknya hanya sepelemparan batu dari ruang para pastor di lantai yang sama.

Pengacara yang ikut mendampingi para korban, Azas Tigor Nainggolan, bercerita, anak itu mengaku diminta tinggal di perpustakaan oleh Syahril. Sedangkan tiga anak lain yang bersamanya disuruh pulang. Di ruangan 6 x 8 meter itulah, di antara rak berisi buku-buku rohani, Syahril melecehkan bocah tersebut. Peristiwa itu kembali berulang dalam satu dan dua pekan berikutnya.

Setelah mendapat laporan tersebut, Natet bersama Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Indonesia membentuk tim. Sejak pertengahan Mei lalu, mereka menelusuri kemungkinan adanya korban lain. Belakangan, seorang anak juga mengaku mengalami pencabulan di perpustakaan ataupun di luar gereja, seperti di rumah Syahril dan tempat parkir mobil sebuah rumah sakit swasta di Depok.

Hasil penelusuran tim itulah yang diklarifikasi kepada Syahril dalam pertemuan di Ciawi. Seperti tertulis dalam surat pernyataan, dia mengakui melakukan perbuatannya sejak 20 tahun silam. Hingga Sabtu, 20 Juni lalu, tim yang menelusuri pencabulan dan pemerkosaan itu menemukan ada 21 anak yang menjadi korban. “Bisa jadi ada korban lain yang belum mau berbicara,” ucap Azas Tigor Nainggolan.

 

• • • 

 

MESKI Syahril Parlindungan Marbun meminta maaf dalam pertemuan di Ciawi, persoalan tak selesai. Pastor Yosep Sirilus Natet dan orang tua korban tetap melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. Ia mengajak peserta pertemuan mengantar Syahril menyerahkan diri ke Kepolisian Resor Metro Depok pada Senin, 8 Juni lalu. Menurut Natet, Syahril pun berjanji hadir di sana. Namun, pada hari-H, dia tak datang. Berulang kali dihubungi, Syahril tak mengangkat panggilan telepon. Lama tak ada kabar, dia akhirnya mengaku sakit dan akan berobat.

Tanpa kehadiran Syahril, orang tua dua korban dan tim tetap melaporkan dugaan pencabulan tersebut. Natet bercerita, semula orang tua korban tak berniat melapor ke polisi. Namun dia menyatakan pencabulan itu merupakan tanggung jawab Syahril dan harus diselesaikan secara hukum. “Ternyata mereka berani melapor,” ujar Natet.

Sempat terjadi perbedaan pendapat di Dewan Paroki Santo Herkulanus yang dipimpin imam diosesan Keuskupan Bogor itu. Ada sebagian anggota umat yang menyarankan persoalan tersebut diselesaikan lewat jalan damai. Namun Natet menolak. “Ini adalah aib, mau tidak mau harus dibuka,” ucapnya.

Seorang kerabat Syahril, kata Natet, juga mendekatinya dan meminta kasus tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Kerabat itu menyatakan kesiapannya memberikan ganti rugi kepada korban dan keluarganya. Lagi-lagi Natet menolak. Menurut dia, Uskup Bogor Monsinyur Paskalis Bruno Syukur, OFM, juga mendukung penyelesaian secara hukum.

Polisi merespons laporan orang tua korban dengan menciduk Syahril pada Ahad, 14 Juni lalu. Tim Pelayanan Perempuan dan Anak Polres Metro Depok menangkap dia di rumahnya di Jalan Bungur, Depok. Syahril dijerat dengan Pasal 82 Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara serta denda paling banyak Rp 5 miliar. “Penangkapan dilakukan setelah kami mengumpulkan alat bukti, kemudian menaikkan kasus ini ke penyidikan,” tutur Kepala Polres Metro Depok Komisaris Besar Azis Andriansyah.

Suasana Gereja Paroki Santo Herkulanus di kawasan Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat, 16 Juni 2020./TEMPO/Ade Ridwan

Penyidik memanggil enam saksi, korban dan orang tuanya, sebelum menangkap Syahril. Agar korban mau berterus terang, polisi menugasi psikolog untuk mendampingi mereka. Lewat pendekatan itu, seorang korban mengungkapkan ada kaus yang pernah digunakan Syahril untuk mengelap air maninya saat perundungan seksual terjadi di perpustakaan, Maret lalu. Tim gereja lekas mendatangi ruangan yang baru beberapa bulan difungsikan sebagai perpustakaan itu.

Saat Tempo berkunjung ke perpustakaan itu pada Kamis, 18 Juni lalu, terdapat lemari loker bertingkat di belakang meja petugas perpustakaan. Sebagian digunakan sebagai tempat penyimpanan alat tulis dan dokumen. Di antara 20 loker itulah Syahril menyimpan kaus tersebut. “Kami juga menemukan satu kaus di antara rak buku,” ucap Azas Tigor Nainggolan, pengacara yang mendampingi para korban dan orang tuanya.

Hingga Kamis, 18 Juni lalu, polisi belum mendatangi perpustakaan itu. Polisi masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap alat bukti. Tim juga sudah menyerahkan tujuh lembar surat pengakuan Syahril ke penyidik. Namun polisi masih belum memeriksa korban-korban lain. “Kami masih fokus ke dua korban,” kata Kepala Polres Metro Depok Komisaris Besar Azis Andriansyah.

Dalam konferensi pers pemaparan kasus pada Senin, 16 Juni lalu, polisi menghadirkan Syahril. Mengenakan penutup muka hitam dengan tangan terikat borgol plastik, dia kerap menundukkan kepala. Syahril tak menjawab saat ditanyai soal kasus yang menjeratnya. Norbert Marbun, kakak Syahril, enggan meladeni permintaan wawancara. Ia menyarankan Tempo menghubungi pengacara keluarga bernama Andrio. Tapi dia pun tak mau berkomentar. “Proses hukum masih panjang. Kami masih berfokus di masalah hukumnya dulu,” ujar Andrio melalui pesan WhatsApp, Kamis, 18 Juni lalu.

 

• • • 

DUGAAN pencabulan yang dilakukan Syahril Parlindungan Marbun sempat tercium pada 2014. Pengacara yang mendampingi para korban, Azas Tigor Nainggolan, bercerita, saat itu, ibu seorang putra altar memergoki perbuatan Syahril di rumahnya. Tak terima dengan perbuatan Syahril, ibu tersebut melapor ke Ketua Dewan Paroki Santo Herkulanus saat itu, Yustinus Dwi Karyanto. “Tapi perbuatan pidana itu malah diselesaikan melalui jalan damai,” kata Tigor.

Menurut Tigor, seharusnya Dewan Paroki Herkulanus segera melaporkan persoalan itu ke polisi. Tujuannya, mencegah munculnya korban berikutnya. Apalagi peristiwa pada 2014 itu merupakan perulangan dua tahun sebelumnya. Tigor menyesalkan tindakan Dewan Paroki tersebut. Apalagi Syahril tetap dipertahankan sebagai Ketua Sub-Seksi Misdinar, yang terus mendampingi para putra altar.

Ketua Dewan Paroki Santo Herkulanus periode 2020-2023, Yosep Sirilus Natet, mengaku mendengar informasi tersebut. Tapi dia tidak menemukan catatan ihwal persoalan tersebut dari para pendahulunya. Dimintai tanggapan soal peristiwa 2014 itu, pastor Dwi Karyanto enggan berkomentar. “Silakan ke kuasa hukum. Salam berkat,” ujar Dwi, yang kini bertugas di Sukabumi, Jawa Barat.

Bermula Dari Orang Dekat/Tempo

Pastor pengganti Dwi, Aloysius Tri Harjono, juga tak mau menjelaskan informasi tersebut. “Kasus ini sudah ditangani kepolisian,” katanya. Tim internal gereja sempat menanyakan kepada Tri soal laporan dari pastor sebelumnya soal dugaan pencabulan yang dilakukan Syahril. Menurut seorang anggota tim, Tri menjawab tidak mendapat laporan tersebut.

Kepala Polres Metro Depok Komisaris Besar Azis Andriansyah juga mengaku belum mendengar ihwal proses damai ini. “Akan kami cari tahu proses damainya seperti apa,” ujar Azis. Jika diperlukan, ia akan memanggil pihak-pihak yang turut mendamaikan.

Adapun pastor Natet berjanji kasus kejahatan seksual di parokinya tuntas. Tak hanya melakukan penyelesaian secara hukum, dia juga menyatakan akan terus melacak kemungkinan adanya korban lain serta memberikan pendampingan kepada mereka dan keluarganya. Sebab, ia tak mau para korban nantinya menjadi pelaku kejahatan seksual. “Ada potensi besar korban bakal menjadi pelaku,” ucapnya.

Menurut Natet, Uskup Bogor Monsinyur Paskalis Bruno Syukur juga berpesan agar dia terus mendampingi korban dan keluarganya. “Beliau berpesan, ‘Jangan sampai korban dan keluarganya merasa ditinggalkan oleh gereja,’,” ujar Natet.

LINDA TRIANITA, STEFANUS PRAMONO, RIKY FERDIANTO, ADE RIDWAN (DEPOK)
2020-07-03 21:08:55

Pelecehan Seksual Katolik Pelecehan Seksual di Gereja Katolik Depok Pelecehan Seksual di Gereja Katolik

Hukum 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.