Mengapa Kongo Kembali Dilanda Wabah Ebola? - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pesta Dini di Beni

Menjelang wabah ebola diperkirakan berakhir, Kongo menemukan kasus baru. Pasien lintas batas ditemukan di Uganda.

i Perawatan pasien yang terinfeksi ebola di kota Katwa, Kongo, Oktober 2019. REUTERS/Zohra Bensemra
Perawatan pasien yang terinfeksi ebola di kota Katwa, Kongo, Oktober 2019. REUTERS/Zohra Bensemra
  • Kongo dilanda wabah baru ebola.
  • Wabah ebola di Kongo sebelumnya menewaskan 2.276 orang dalam dua tahun.
  • Pasien lintas perbatasan pertama ditemukan.

SEDIANYA, Republik Demokratik Kongo akan mendeklarasikan diri bebas dari ebola. Pada 3 Maret lalu, akun Twitter Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis video petugas kesehatan di Pusat Penanganan Ebola di Beni yang berjoget riang gembira. Mereka merayakan kesembuhan Semida Masika Muhasu, pasien ebola terakhir yang akan keluar dari pusat perawatan di kota bagian timur Kongo itu.

WHO mengucapkan selamat dan berterima kasih kepada semua mitra atas kerja keras mereka dalam mengatasi wabah ebola, tapi menyatakan akan tetap waspada dalam periode pengamatan itu. “Saya harap penyakit ini meninggalkan kita selamanya,” kata Muhasu, pedagang sayuran yang kehilangan seorang putrinya akibat ebola, di Beni, seperti dilansir New York Times.

Wabah ebola kesepuluh di Kongo yang berpusat di Kivu Utara, Kivu Selatan, dan Provinsi Ituri itu diyakini tengah memasuki tahap akhir. Setelah pasien terakhir keluar pada 3 Maret itu, Kongo masih mengawasi soal kemungkinan adanya pasien baru. Sejak 2018, negara berpenduduk 84 juta jiwa ini mencatat 3.456 kasus ebola dengan 2.276 orang meninggal.


Pada 10 April, WHO merilis informasi bahwa ada satu pasien baru ebola di Kota Beni. “Meskipun ini berita yang tak kita tunggu, ini adalah sesuatu yang kami antisipasi. Kami mempertahankan tim respons di Beni dan daerah berisiko tinggi lainnya untuk alasan itu,” kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di situs WHO.

Pemeriksaan surat dan kesehatan warga oleh pihak kepolisan Kongo selama penerapan lockdwon, guna mengghindari penyerbaran virus corona di Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, 6 April 2020. REUTERS/Kenny-Katombe Butunka

Adanya pasien baru ini tak langsung membuat Kongo mengalami wabah ebola lagi. Analis kesehatan memperkirakan, jika pasien ebola baru ditemukan tapi tidak ada kasus baru yang muncul, Kongo hanya perlu menunggu dua periode inkubasi lagi atau 42 hari sampai epidemi dapat dinyatakan berakhir.

Kenyataan mengatakan lain. Pada 1 Juni lalu, pemerintah mengumumkan ada pasien baru di Kota Mbandaka, ibu kota Provinsi Équateur. Setelah itu, jumlahnya terus bertambah. Senin lalu, pejabat kesehatan Kongo mengumumkan 17 kasus ebola di Équateur dan 11 pasien meninggal. Negara ini pun mengalami wabah ebola yang kesebelas.

Kemunduran ini, menurut New York Times, menunjukkan betapa sulitnya memberantas virus. Saat ini, ketika berusaha menghentikan kebangkitan ebola lebih lanjut, para pekerja medis juga harus memerangi pandemi Covid-19 di negara yang telah bertahun-tahun didera ketidakstabilan dan kekerasan itu. Sampai Jumat lalu, Kongo mencatat 5.477 kasus Covid-19 dengan 122 pasien meninggal.

Ebola adalah penyakit akibat virus yang gejala awalnya dapat berupa demam mendadak, lemas hebat, nyeri otot, dan sakit tenggorokan. Tahap selanjutnya adalah muntah, diare dan, dalam beberapa kasus, terjadi perdarahan internal dan eksternal. Kelelawar buah diduga sebagai inang virus ebola alami.

Virus ini menginfeksi manusia melalui kontak dekat dengan darah, sekresi, dan organ atau cairan tubuh lain dari hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar buah, simpanse, gorila, monyet, kijang, atau landak yang ditemukan sakit atau mati. Ebola kemudian menyebar dengan penularan dari manusia ke manusia melalui kontak langsung, yakni lewat kulit yang rusak atau selaput lendir.

Petugas kesehatan sering terinfeksi ketika merawat pasien dengan dugaan atau terkonfirmasi ebola. Hal ini terjadi melalui kontak dekat dengan pasien ketika tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi tidak dilakukan secara ketat. Upacara pemakaman yang melibatkan kontak langsung dengan jenazah juga dapat berkontribusi dalam transmisi ebola.

Ebola pertama kali muncul pada 1976 dalam dua wabah serentak. Yang pertama di tempat yang sekarang adalah Nzara, Sudan Selatan, dan yang lain di Yambuku, Kongo. Wabah terakhir ini terjadi di sebuah desa di dekat Sungai Ebola, asal nama penyakit tersebut. Menurut WHO, wabah 2014-2016 di Afrika Barat adalah wabah ebola terbesar sejak virus ini pertama kali ditemukan. Wabah bermula di Guinea, kemudian melintasi perbatasan darat ke Sierra Leone dan Liberia.

Wabah baru yang melanda Kongo diikuti kabar bahwa virus telah menyeberang ke negara tetangganya, Uganda. Menurut TRT World, korbannya adalah lelaki lima tahun yang muntah darah dan ini menjadi kasus lintas batas pertama virus ebola. Menurut Menteri Kesehatan Uganda Jane Aceng, bocah itu diisolasi bersama anggota keluarganya di sebuah rumah sakit di distrik barat dekat perbatasan Kongo.

Konfirmasi mengenai pasien ebola pertama di Uganda ini disampaikan oleh Uganda Virus Institute. “Kementerian Kesehatan dan WHO telah mengirim tim tanggap cepat ke Kasese untuk mengidentifikasi orang lain yang mungkin berisiko,” demikian pernyataan WHO.

Kementerian Kesehatan Kongo menyatakan bocah itu berasal dari Mabalako. Ia tiba di pos perbatasan Kasindi, Kongo. Di sana, selusin anggota keluarganya tampaknya memiliki gejala dan dipindahkan ke pusat isolasi di rumah sakit setempat untuk menjalani observasi. Enam orang kemudian melarikan diri ketika dipindahkan ke pusat perawatan Ebola di Beni dan menyeberang ke Uganda. Pejabat perbatasan Kongo sudah memperingatkan rekan-rekan mereka di Uganda.

Tidak segera jelas bagaimana keluarga itu dapat melintasi perbatasan, saat jutaan pelancong telah diperiksa sejak wabah ebola bermula. Matshidiso Rebecca Moeti, Direktur Regional WHO untuk Afrika, menulis di Twitter bahwa meskipun wabah baru ebola menimbulkan tantangan, WHO bersama Kementerian Kesehatan Kongo serta Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika siap mengatasinya. “Dengan segenap pengalaman kami menanggapi lebih cepat dan lebih efektif,” tulis Moeti.

Ini bukan pertama kalinya ebola ditemukan di Mbandaka, kota pelabuhan khatulistiwa di Sungai Kongo. Saat wabah menjangkiti daerah ini pada Mei 2018, sedikitnya ada 54 kasus dan 33 orang meninggal. WHO mengirimkan lebih dari 7.500 dosis vaksin ebola ke Kongo dan wabah di Mbandaka dengan cepat dikendalikan. Wabah dinyatakan selesai pada 24 Juli 2018.

Di Kongo timur, kekerasan dan rasa tidak aman yang berkelanjutan telah memaksa penduduk meninggalkan rumah. Hal tersebut juga membuat sulit mengakhiri epidemi. Sebagai perbandingan, Provinsi Équateur barat, tempat kasus ebola baru muncul, relatif aman dan stabil. Pemerintah memberlakukan pembatasan perjalanan antarprovinsi untuk membendung penyebaran Covid-19, yang sekarang juga dapat membantu membatasi penyebaran ebola dari Mbandaka.

“Wabah terakhir di Équateur dengan cepat dapat dibendung—dalam waktu kurang dari tiga bulan—dan kami akan melakukan semua upaya untuk memastikannya dilakukan lagi,” ujar Mary Stephen di Kantor Regional WHO untuk Afrika, seperti dilansir New Scientist pada Senin, 15 Juni lalu.

Stephen mengatakan tenaga ahli dan infrastruktur yang dibangun selama bertahun-tahun akan sangat berharga dalam pengendalian wabah baru ini. Program vaksinasi, pendidikan dari pintu ke pintu, dan pengadaan stasiun cuci tangan portabel sedang berlangsung. Lebih dari 2.100 orang telah divaksinasi sejauh ini.

WHO memiliki lebih dari 20 anggota staf di lapangan yang mendukung Kementerian Kesehatan di Mbandaka, kota pelabuhan utama yang terletak di Sungai Kongo, dekat dengan perbatasan dengan republik tetangga Kongo. “Kami memiliki banyak pengalaman dalam menangani wabah ini,” kata Menteri Kesehatan Kongo Eteni Longondo. “Tapi itu tidak berarti kami menganggap penyakit ini kurang serius. Ini membutuhkan sistem epidemiologis, pengawasan, pencegahan infeksi, penilaian risiko, dan pelacakan kontak yang kompleks.”

Longondo mengatakan petugas kesehatan diberi kursus penyegaran sebelum dikirim ke Équateur dan peralatan pelindung pribadi dari wabah sebelumnya sudah tersedia untuk digunakan. Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengeluarkan US$ 40 juta dari Dana Tanggap Darurat Pusat untuk membantu mengatasi wabah baru ebola dan krisis kesehatan lain di Kongo.

Pengurutan genetika virus oleh National Institute of Biomedical Research di Kongo menunjukkan wabah ebola kesebelas di negara itu mungkin bermula sebagai “peristiwa limpahan”, penularan dari hewan yang terinfeksi. “Buktinya cukup untuk percaya bahwa itu adalah limpahan,” ucap Catherine Pratt di Pusat Medis University of Nebraska di Omaha, Amerika Serikat.

Meski wabah belum meluas, ditemukannya pasien lintas negara mulai merisaukan. “Penyebaran ebola di perbatasan internasional adalah sinyal yang jelas bahwa komunitas internasional harus mengatur ulang dan melipatgandakan upayanya dalam memerangi penyakit ini,” kata Komite Penyelamatan Internasional.

ABDUL MANAN (NEW YORK TIMES, AL JAZEERA, TRT WORLD)

2020-07-03 21:07:06

Ebola Kongo Uganda

Internasional 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.