Vonis untuk CEO Rappler Maria Ressa hingga Konflik India dan Cina di Himalaya - Internasional - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Internasional 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Berita Internasional dalam Sepekan

Pengadilan Negeri Manila menyatakan CEO Rappler Maria Ressa dan bekas penulis Rappler, Reynaldo Santos Jr., bersalah dalam kasus pencemaran nama pengusaha Wilfredo Keng.

i Maria Ressa meninggalkan Manila City Hall, usai divonis bersalah, di Manila, Fiipina, 16 Juni 2020. REUTERS/Eloisa Lopez
Maria Ressa meninggalkan Manila City Hall, usai divonis bersalah, di Manila, Fiipina, 16 Juni 2020. REUTERS/Eloisa Lopez
  • Jurnalis Filipina, Maria Ressa, divonis enam tahun penjara dalam kasus yang kontroversial.
  • Michael Pack, orang pilihan Donald Trump, mengganti para pimpinan kunci media milik pemerintah Amerika Serikat
  • Tentara India dan Cina bentrok di pegunungan Himalaya.

FILIPINA

Maria Ressa Divonis 6 Tahun Bui

PENGADILAN Negeri Manila menyatakan CEO Rappler Maria Ressa dan bekas penulis Rappler, Reynaldo Santos Jr., bersalah dalam kasus pencemaran nama pengusaha Wilfredo Keng pada Senin, 15 Juni lalu. Hakim Rainelda Estacio Montesa menjatuhkan hukuman maksimum 6 tahun penjara kepada keduanya berdasarkan undang-undang siber. “Sistem peradilan kami sedang diuji hari ini,” kata Ressa kepada BBC.

Kasus mereka bermula dari tuntutan Wilfredo Keng atas tulisan Santos di Rappler pada Mei 2012. Tulisan itu mengutip laporan intelijen mengenai hubungan Keng dengan perdagangan manusia dan narkotik serta kaitannya dengan mantan Ketua Mahkamah Agung, Renato Corona. Pengadilan menyatakan Rappler tidak memverifikasi informasi itu.


Keng mengadu pada 2017, melebihi periode pengaduan kasus pencemaran nama menurut hukum pidana. Undang-undang siber tak menyebutkan soal pembatasan waktu, tapi Departemen Kehakiman menggunakan undang-undang lain untuk memperpanjang periode pengaduan menjadi 12 tahun. Departemen juga menyatakan undang-undang siber, yang berlaku empat bulan setelah artikel itu terbit, dapat digunakan karena artikel Rappler diperbarui setelah peraturan tersebut berlaku. Rappler memang mengoreksi satu kata yang salah ketik, dari “evation” menjadi “evasion”.

 



AMERIKA SERIKAT

Bersih-bersih Trump di Lembaga Penyiaran

MICHAEL Pack, orang pilihan Presiden Donald Trump, kini memimpin US Agency for Global Media (USAGM), badan yang mengawasi lembaga penyiaran global, termasuk Voice of America (VOA) dan Radio Free Europe. Direktur VOA Amanda Bennett dan wakilnya, Sandy Sugawara, mundur setelah Senat menyetujui pengangkatan Pack pada Senin, 15 Juni lalu.

Pack langsung memecat pemimpin Radio Free Europe, Radio Free Europe Asia, Middle East Broadcasting, dan Open Technology Fund pada Rabu, 17 Juni lalu. Bekas rekan kerja penasihat Gedung Putih, Steve Bannon, itu tak menjelaskan alasan pemecatan tersebut. Namun Trump baru-baru ini mengkritik VOA dengan menyebut laporannya “menjijikkan” dan menudingnya telah menyebarkan propaganda yang menguntungkan Cina.

Pack juga memecat sejumlah anggota dewan penasihat dan mengangkat beberapa bekas pejabat pemerintahan Trump untuk ditempatkan di USAGM. Dia beralasan perubahan ini merupakan transisi kepemimpinan baru. “Setiap tindakan yang telah saya lakukan—dan setiap tindakan yang akan saya lakukan—diarahkan untuk membangun kembali reputasi USAGM, meningkatkan moral, dan meningkatkan konten,” ucap Pack seperti dikutip BBC.

 


 

Konvoi truk militer India menuju Ladakh, Gagangeer, Kashmir, 18 Juni 2020. REUTERS/Danis Ismail

INDIA

Bentrok Tentara India dan Cina 

PEMERINTAH India menuduh tentara Cina menyiapkan serangan di perbatasan dengan Cina di Pegunungan Himalaya. Tentara Cina disebut menggunakan batu dan batu bata yang digulung kawat berduri sebagai senjata. Pada Senin malam, 15 Juni lalu, serangan mengakibatkan 20 serdadu India meninggal dan 76 lainnya luka-luka. Cina tidak melaporkan adanya tentara mereka yang menjadi korban.

Kedua pihak saling melempar tuduhan. Cina mengklaim kedaulatannya di Lembah Galwan di Ladakh, tempat serangan terjadi, dan menuduh tentara India telah tiga kali masuk ke wilayahnya. “Tanggung jawab seluruhnya berada di pihak India,” tutur Zhao Lijian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, seperti dikutip The Guardian.

Sebaliknya, menurut India, citra satelit dari Planet Labs atas Lembah Galwan pada hari-hari sebelum insiden menunjukkan peningkatan aktivitas di wilayah Cina, termasuk pembendungan sungai serta pergerakan tentara dan sejumlah mesin di sekitar perbatasan yang disengketakan. Insiden ini merupakan kekerasan terburuk antara Cina dan India dalam 45 tahun terakhir.

2020-07-03 20:48:41

Filipina Donald Trump Konflik Cina - India

Internasional 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 8 artikel gratis setelah Register.

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 3 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

8 artikel gratis setelah Register.