Di Balik Penangkapan Dua Polisi Penyerang Novel Baswedan - Hukum - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Hukum 1/5

Selanjutnya
text

Jejak Gelap Dua Brigadir

Dua anggota Pasukan Gegana Korps Brigade Mobil Kepolisian Republik Indonesia ditetapkan sebagai tersangka penyiraman air keras ke wajah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan. Meski pengungkapan kasus ini masih diselimuti misteri, polisi yakin tidak salah tangkap.

i Dua tersangka penyiraman penyidik senior KPK, Novel Baswedan digelandang menuju mobil tahanan di Polda Metro Jaya, Jakarta, 28 Desember 2019./TEMPO/Hilman Fathurrahman W
Dua tersangka penyiraman penyidik senior KPK, Novel Baswedan digelandang menuju mobil tahanan di Polda Metro Jaya, Jakarta, 28 Desember 2019./TEMPO/Hilman Fathurrahman W
  • Novel Baswedan dan sejumlah saksi ragu kedua tersangka benar-benar pelaku penyerangan. .
  • Polisi sudah menyisir 400 calon tersangka dari sketsa wajah yang dibuat para saksi.
  • Sempat ada ketegangan ketika reserse menjemput tersangka di Asrama Brimob, Kelapa Dua. .

KABAR itu menyebar cepat empat hari sebelum tahun berganti. Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia menangkap anggotanya sendiri, dua polisi aktif, dalam kasus penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan. Jagat maya langsung riuh rendah.

Kasus penyerangan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, di dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, memang tak pernah surut dari ingatan publik. Padahal peristiwa nahas itu terjadi hampir tiga tahun lalu. Akibat siraman air keras pada subuh 11 April 2017 itu, mata kiri Novel buta hingga sekarang.

Sorotan khalayak ramai tak berlebihan mengingat deretan kasus korupsi kakap yang pernah ditangani Novel di KPK. Perannya signifikan dalam pengusutan kasus korupsi pembangunan Wisma Atlet Hambalang, yang merontokkan sejumlah elite Partai Demokrat. Novel juga yang memimpin penyidikan kasus korupsi pengadaan simulator surat izin mengemudi, yang menyeret Kepala Korps Lalu Lintas Mabes Polri (ketika itu) Inspektur Jenderal Djoko Susilo ke bui.


Terbongkarnya megaskandal korupsi kartu tanda penduduk elektronik yang merugikan negara Rp 2,3 triliun juga buah kerja keras pria kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 43 tahun lalu itu. Pendeknya, hampir semua perkara besar di KPK pasti melibatkan Novel.

Sejak penyerangan keji itu terjadi, kecurigaan banyak orang memang sudah mengarah ke polisi. Pasalnya, pada hari-hari sebelum insiden itu, penyidik KPK tengah menangani kasus suap yang bisa mengarah ke keterlibatan sejumlah perwira tinggi Korps Bhayangkara. Tak mengherankan jika polisi seolah-olah enggan menangani perkara Novel. Walhasil, pengusutan kasus ini pun berjalan amat lambat.

Sampai dua pekan lalu, ketika nama dua anggota Pasukan Gegana Korps Brigade Mobil Polri, Brigadir Rahmat Kadir Mahulette dan Brigadir Ronny Bugis, mendadak diumumkan sebagai tersangka. Publik terperenyak dan bertanya-tanya: dari mana munculnya dua nama itu.

 

•••

Novel Baswedan sedang berada di kantornya di gedung KPK, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat, 27 Desember 2019, ketika teleponnya bergetar. Beberapa kolega Novel mengirimkan tautan ke berita-berita media online soal penangkapan pelaku penyiraman air keras terhadap dirinya. Reaksi pertama Novel adalah skeptis. “Ada kejanggalan,” katanya, dengan nada pelan. Dia juga mengaku hanya bisa mengenali satu wajah pelaku. Wajah pria satu lagi tak terekam di ingatannya.

Reaksi para aktivis dan advokat di barisan Novel juga senada. Salah seorang pengacara Novel, Alghiffari Aqsa, menilai kedua pelaku tak punya motif yang masuk akal untuk mencelakai sang penyidik. Pasalnya, mereka tak pernah mengenal, apalagi berinteraksi dengan Novel ataupun kasus-kasus yang disidik KPK. “Tindakan mereka seperti berusaha menutup aktor yang menggerakkan mereka,” ujarnya.

Selain itu, kata Alghiffari, kejanggalan muncul sejak Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya merilis surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) pada 23 Desember 2019. Meski surat itu menandai kasus Novel sudah masuk tahap penyidikan, di sana tertulis bahwa penyidik masih mencari pelaku lewat metode pengenalan wajah. “Padahal pembuatan SPDP lazimnya diikuti penetapan tersangka,” ucap Alghiffari.

Bukan hanya itu. Indikasi akan ada titik terang dalam kasus Novel sebenarnya sudah dibocorkan polisi jauh-jauh hari. Pada 1 November 2019, dua bulan sebelum penangkapan Ronny Bugis dan Rahmat Mahulette, Mabes Polri menyatakan ada petunjuk signifikan terkait dengan kasus Novel. Sayangnya, para petinggi Polri kompak menolak menjelaskan petunjuk yang mereka maksud.

Sebulan kemudian, pada 10 Desember 2019, giliran Presiden Joko Widodo yang menyatakan hal senada. Jokowi menegaskan bahwa kasus Novel akan terungkap dalam hitungan hari. Pernyataan Presiden disampaikan seusai pertemuannya dengan Kepala Polri Jenderal Idham Azis, sehari sebelumnya.

Anehnya, ketika lontaran Jokowi ditanyakan kembali kepada polisi, jawaban Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Muhammad Iqbal justru sebaliknya. Dia meminta publik bersabar dan mengatakan penyidik tak ingin tergesa-gesa.

Pada hari pengumuman penetapan tersangka, lagi-lagi info pertama soal penangkapan Ronny dan Rahmat tak muncul dari juru bicara resmi Mabes Polri. Pada Jumat siang, 27 Desember 2019, beberapa jam sebelum polisi merilis secara resmi informasi penangkapan pelaku penyerang Novel, adalah Koordinator Indonesia Police Watch, Neta S. Pane, yang membocorkan informasi ini di media sosial.

Berita heboh di akhir tahun 2019. Akhirnya brigadir menyerahkan diri dan mengakui perbuatannya. Anda seorang Kesatria bro! Dua brimob. Satu eksekutor dan satu pengantar,” tulis Neta di laman status Facebooknya. Begitu status itu menjadi viral beberapa jam kemudian, Neta buru-buru menghapusnya.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri, Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo (tengah) memberikan keterangan ter­kait tersangka penyiraman Novel Baswedan di Jakarta, 27 Desember 2019 (kanan)./TEMPO/Hilman Fathurrahman W

Sorenya, di Mabes Polri, Kepala Badan Reserse Kriminal Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo secara resmi mengumumkan penetapan dua personel Brimob Polri sebagai tersangka penyerang Novel. Namun, dalam konferensi pers itu, Sigit menolak menjelaskan detail bukti dan keterangan saksi yang dikumpulkan polisi untuk menjerat Ronny Bugis dan Rahmat Mahulette.

Tak lama kemudian, informasi detail itu justru muncul di media sosial, lagi-lagi dari akun milik Neta S. Pane. Lewat siaran pers, Indonesia Police Watch menuding serangan atas Novel dilakukan dengan air aki mobil, bukan air keras. Motif penyerangan, menurut Neta, adalah dendam pribadi pelaku kepada Novel. Selain itu, Neta menegaskan bahwa salah satu pelaku hanya bertugas mengantar dan tidak tahu-menahu soal rencana penyiraman air keras. Neta sendiri tak menjawab berbagai permintaan wawancara Tempo hingga Sabtu, 4 Januari lalu.

Bocoran informasi detail soal kasus ini yang muncul dari Indonesia Police Watch dinilai janggal. “Sebelum rilis itu keluar, tak ada informasi resmi apa pun yang mendetailkan penyerangan Novel,” kata Alghiffari Aqsa.

Hampir bersamaan dengan itu, muncul kampanye buzzer di media sosial untuk mendiskreditkan Novel. Dengan masif, muncul tanda pagar #sarangwaletnovelbaswedan dari berbagai akun Twitter.

Tagar itu mencoba menggiring opini publik untuk menuntut penegak hukum membuka lagi kasus penganiayaan yang dituduhkan kepada Novel saat dia menjadi Kepala Satuan Reserse Kriminal Umum Kepolisian Resor Bengkulu pada 2004. Sebuah akun media sosial rajin mengajak warganet meneruskan tagar itu dengan iming-iming hadiah Rp 50 ribu untuk dua pemenang. Belum jelas siapa yang ada di balik kampanye negatif itu.

 

•••

Saksi-saksi yang melihat insiden penyerangan Novel Baswedan juga ragu terhadap temuan polisi soal Ronny Bugis dan Rahmat Mahulette. Tempo menelusuri kembali lokasi kejadian di depan Masjid Al-Ihsan yang berjarak 70 meter dari depan rumah Novel di Jalan Deposito, Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan menemui warga yang ada di sana pada subuh nahas itu. Semua menolak disebutkan namanya karena khawatir akan keselamatan mereka.

Ronny Bugis./Facebook.com/Ronny GN

Seorang warga yang hari itu selesai salat lebih dulu mengaku sempat sepintas memandang wajah dua penyerang Novel. Dia lalu bergegas karena perutnya terasa mulas. Warga lain juga mengamati wajah kedua pria penyerang, yang rupanya hadir di pelataran masjid pada Selasa subuh, 10 April 2017, sehari sebelum insiden. Mereka berpura-pura mengambil air wudu, tapi tak terlihat di barisan makmum saat salat subuh berjemaah digelar.

Novel sendiri juga tahu wajah kedua penyerangnya. Ketika membuka pagar rumah menjelang azan subuh, di seberang jalan, Novel melihat seorang pria berjongkok menatap ke arahnya. Di sebelahnya, ada pria lain terlihat melakukan gerakan senam.

Ketika Novel berjalan menuju masjid, kedua pria tersebut menyalakan sepeda motor, lalu parkir di dekat masjid. Novel masuk ke masjid dan mengikuti salat subuh berjemaah. “Seusai saya salat dan berjalan pulang, mereka menyiramkan air keras itu ke wajah saya,” ucap Novel.

Kedua saksi dan Novel menggambarkan dua pria dengan ciri-ciri yang sama. Satu orang bertubuh lebih pendek dan gempal, sementara pria lain bertubuh tinggi dan berkulit lebih putih. Polisi juga sudah membuat berbagai sketsa dari keterangan mereka.

Ketika disodori foto Ronny dan Rahmat, mereka mengakui dua personel Brimob itu mendekati ciri-ciri dua pria yang mereka lihat pada subuh tiga tahun lalu. Namun mereka tak yakin benar.

 

•••

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Idham Azis mengaku kaget setelah tahu pelaku penyerangan Novel adalah anggota polisi aktif. “Saya prihatin ternyata pelakunya anggota kepolisian,” ujar Kapolri.

Kekagetan Idham sebenarnya tak beralasan. Soalnya dia sendiri bukan orang baru dalam penyidikan kasus ini. Ketika menjabat Kepala Badan Reserse Kriminal, Idham adalah ketua tim teknis yang ditugasi Kepala Polri (ketika itu) Jenderal Tito Karnavian untuk menyibak identitas penyerang Novel. Tim ini beranggotakan lebih dari seratus personel dari berbagai satuan.

Sumber Tempo yang mengetahui proses penyelidikan kasus Novel mengakui polisi semula sempat kesulitan mencari para pelaku karena mereka juga harus tetap mengerjakan berbagai pekerjaan rutin. Selama berbulan-bulan menekuni kasus ini, tim sudah memeriksa 73 saksi, 114 toko penjual bahan kimia, dan 38 rekaman kamera pengawas (CCTV).

Pada awal November 2019, di akhir tenggat tiga bulan yang diberikan Presiden Joko Widodo, tim teknis sudah mengumpulkan 400-an kandidat tersangka kasus Novel. Sebagian berlatar belakang sipil, sisanya petugas keamanan bahkan anggota militer. Setelah menelaah kembali temuan tim gabungan pencari fakta yang dibentuk Tito Karnavian, dua pekan kemudian tim teknis sepakat menyisir para kandidat tersangka dari unsur kepolisian sendiri.

Hendardi, salah satu anggota tim gabungan, mengakui hal tersebut. “Itu sebabnya, dalam berbagai rapat, kami tak menghadirkan unsur dari kepolisian,” katanya. Tim gabungan menyimpulkan penganiayaan Novel berkaitan dengan kasus-kasus korupsi yang dia tangani di KPK.

Menyisir 400 calon tersangka tentu bukan hal ringan. Para anggota tim teknis dari Pusat Indonesia Automatic Fingerprint Identification System Mabes Polri bertugas mencocokkan ratusan wajah calon tersangka dengan sketsa yang disusun dari keterangan para saksi.

Pada awal Desember 2019, nama sejumlah anggota Polri yang diduga kuat terkait dengan penyiraman air keras terhadap Novel sudah mulai terkumpul. Sepeda motor yang dipakai dalam aksi teror itu pun telah diidentifikasi: sebuah Yamaha NMax berkelir hitam.

Di tengah proses penyidikan, sehari setelah Natal 25 Desember 2019, seorang reserse yang terlibat di tim teknis bercerita bahwa salah satu tersangka, Ronny Bugis, mendadak menyerahkan diri ke Polda Metro Jaya. Di hadapan penyidik, dia mengakui perbuatannya. Ronny juga menyebut nama rekannya yang terlibat: Rahmat Mahulette. Alasan penyerahan dirinya tak jelas benar. Sumber Tempo menyebutkan Ronny mengaku merasa tertekan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Raden Prabowo Argo Yuwono menegaskan, semula keterangan Ronny cukup berbelit. Ketika menjalani pemeriksaan awal, Ronny mengaku hanya berperan mengendarai sepeda motor. Dia juga menegaskan bahwa tugasnya hanya mengantar Rahmat. Dia bahkan tak tahu rencana Rahmat untuk menyiram air keras ke wajah Novel. Belakangan, pemeriksaan silang menunjukkan bahwa justru Ronny-lah yang menyiramkan air keras itu.

Berbekal keterangan Ronny, penyidik menjemput Rahmat di Asrama Gegana, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada hari yang sama. Keduanya memang tinggal di asrama itu. Proses penjemputan Rahmat berjalan mulus karena Kepala Bareskrim Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo lebih dulu menemui pimpinan Korps Brimob.

Menurut Argo, tim penyidik membawa surat khusus ketika menjemput Rahmat. Dia membantah ada ketegangan ketika petugas Bareskrim masuk ke markas Brimob. Ada tarik-ulur, tapi, “Satu hari selesai,” ujarnya. Hari itu juga Ronny dan Rahmat dinyatakan sebagai tersangka. Mereka dijerat dengan Pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang pengeroyokan dan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan luka berat.

Surat Perintah Dimulainya Penyidikan kasus penyerangan Novel Baswedan, tertanggal 23 Desember 2019.

Pada Sabtu, 28 Desember 2019, polisi memindahkan kedua tersangka dari ruang tahanan Polda Metro Jaya ke Bareskrim Polri. Ronny yang bertubuh tinggi dan tegap serta Rahmat yang berambut ikal dan bertubuh gempal diborgol dan berseragam tahanan warna oranye. Saat berjalan menuju mobil polisi, Rahmat berteriak, “Tolong dicatat, saya enggak suka sama Novel karena dia pengkhianat!”

Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo meyakini pihaknya sudah menyasar orang yang tepat. “Kami tidak salah tangkap dan mereka itu pelaku sebenarnya,” katanya. Brigadir Jenderal Argo juga menolak mengomentari deretan kejanggalan dalam penyidikan. “Kita tunggu saja nanti di pengadilan,” ujarnya.

 

•••

Sepanjang pekan lalu, Tempo mencoba menelusuri rekam jejak Rahmat Mahulette dan Ronny Bugis di kesatuannya. Mereka ternyata tak begitu dikenal di kompleks Asrama Brimob, Kelapa Dua, Depok.

Dua personel senior Brimob yang ditemui secara terpisah mengaku tak mengenal mereka. Kedua personel itu baru melihat wajah Rahmat dan Ronny setelah mereka ditangkap. “Mereka tak aktif di kegiatan asrama,” kata salah satu sumber Tempo itu.

Analisis atas jejak digital mereka menghasilkan temuan lain. Ronny Bugis cukup aktif di media sosial. Ia kerap membagikan foto lewat akun Facebook bernama Ronny GN. Beberapa bulan belakangan, Ronny selalu mengunggah kebersamaannya dengan sang istri, yang dinikahinya pada akhir September 2019.

Dalam salah satu foto bertanggal 25 November 2019, Ronny dan istri berfoto bersama dari dalam kabin pesawat. “Jakarta panggil pulang…,” tulisnya di bawah foto itu. Akun Ronny Bugis dihapus ketika dia ditangkap pada akhir Desember 2019.

MUSTAFA SILALAHI, LINDA TRIANITA, RIKY FERDIANTO, ANTON APRIANTO, ANDITA RAHMA

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-30 16:34:15

Penyerangan Novel Baswedan Bareskrim Novel Baswedan Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya

Hukum 1/5

Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB