Hiburan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Menggelar Masa yang Hilang

The David Glass Ensemble naik pentas di Jakarta. Teater asal Inggris ini berhasil "menjinakkan" keliaran anak-anak jalanan dan menatanya dalam sebuah pertunjukan yang layak dipujikan.

i
HANSEL dan Gretel, dua tokoh kanak-kanak rekaan penulis dongeng asal Jerman—Jacob Grimm dan Wilhelm Grimm—muncul di Taman Ismail Marzuki dalam pementasan pada akhir Oktober dan awal November lalu. The David Glass Ensemble, teater pop terkemuka dari Inggris, menggarap cerita ini dalam trilogi bernama The Lost Child Trilogy, yang terdiri atas The Hansel and Gretel Machine, The Lost Child, dan The Read Thread. Bagian pertama trilogi inilah yang dipentaskan di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta, dalam dua versi. Versi "asli" dimainkan semata-mata oleh awak The David Glass Ensemble, sedangkan versi kolaborasi menyertakan 30-50 anak jalanan dari ketiga kota tersebut. Dengan komposisi pemain seperti itu, alhasil Hansel dan Gretel, dongeng Jerman yang mengisahkan dua bersaudara yang menderita karena kekejaman ibu tiri, "dilokalkan" dengan sukses oleh David Glass. Untuk itu, empat anak jalanan ditunjuk memainkan peran Hansel dan Gretel secara bergantian sepanjang satu jam pementasan tersebut. Dalam versi lokal, kedua anak itu dikenal sebagai Atun dan Jaun, yang hidup gembira dan bahagia di sebuah desa yang damai bersama kedua orang tua mereka. Kebahagiaan ini terenggut ketika muncul Mak Lampir, tukang sihir jahat, yang menculik orang tua Atun dan Jaun. Kedua anak yang ketakutan itu akhirnya melarikan diri ke hutan lebat. Di sana, keduanya tertidur karena kelelahan. Saat mereka tertidur, hutan dibabat habis. Gergaji mesin meraung-raung, pepohonan tumbang. Ketika bangun, astaga…, Atun dan Jaun mendapati dirinya telah berada di tengah sebuah kawasan perkotaan modern. Keduanya tersesat di tengah rimba metropolitan. Namun, seperti semua dongeng yang berakhir bahagia, Atun dan Jaun menemukan kembali kedua orang tuanya—tak lain berkat pertolongan anak-anak jalanan. Versi asli, yang dipentaskan seminggu sebelumnya, mengangkat cerita dongeng Hansel dan Gretel. Keduanya meninggalkan rumah, tersesat di hutan, disiksa nenek sihir yang jahat. Namun, berkat kepandaian Gretel, kakak-adik itu akhirnya mendapatkan lagi kebahagian yang hilang setelah berjumpa kembali dengan ayahnya—tanpa ibu tiri, tentu saja. Hansel dan Gretel versi David Glass pada dasarnya adalah sebuah pementasan yang melukiskan hilangnya masa kanak-kanak dalam sebuah proses kehidupan. Untuk penonton Indonesia, cerita ini diadaptasikan dalam suasana dan lagu-lagu Indonesia. David Glass memilih Indonesia dengan alasan di sini telah terjadi banyak perubahan dalam kehidupan politik dan ekonomi akibat krisis berkepanjangan. Dari situ, muncullah anak-anak yang menderita dan kehilangan masa depannya. "Itu kenyataan yang terjadi di sini," ujarnya. Karena itulah, untuk pementasan di TIM, ia merekrut 45 anak jalanan dari berbagai usia. Ada Bomer, 16 tahun, Yudha, 9 tahun, dan Yogi, 7 tahun. Kunci utama keberhasilan pementasan David Glass memang menyertakan anak-anak jalanan sebagai bagian dari pertunjukan. Tokoh teater pop Inggris ini dengan mahirnya memadukan mimik, musik, dan kata, serta menyajikan sebuah pertunjukan yang, harus diakui, memikat secara visual. Ada permainan karakter, gerak akrobatik, dan musik sendok. Bahkan, sejumlah slide ditayangkan dalam pertunjukan ini untuk lebih menggambarkan betapa pahit kehidupan anak-anak jalanan. Salah satu yang unik adalah dialog penonton dan pemain seusai pentas. Mengakhiri dialog, anak-anak spontan menyanyikan lagu Anak Jalanan diiringi dentingan ukulele, galon air mineral, kaleng, dan sendok. Salah seorang anak lalu berdendang, "Kalau Tuan dan Nyonya punya uang receh, sudilah diberikan kepada kami...." Seterusnya, disajikanlah "adegan jalanan" yang sesungguhnya: beberapa anak menghambur ke arah penonton seraya mengedarkan topi dan topeng bekas pementasan untuk menadah uang kecil. David Glass tidak perlu bersusah payah melatih para pemain ciliknya untuk bermain spontan di luar skenario ini. Bukankah mengamen adalah bagian dari rutinitas hidup para anak jalanan? Dengan nalurinya, mereka mampu memainkan "adegan penutup" yang sungguh merefleksikan masa kanak-kanak yang hilang. Sebuah cermin tentang realitas yang—apa boleh buat—sebenarnya sangat jauh dari akhir cerita yang bahagia dan penuh tawa. Hermien Y. Kleden, Dwi Wiyana

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836452665



Hiburan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.