Ekonomi dan Bisnis 12/12

Sebelumnya Selanjutnya
text

Gemah ripah triwulan I

Bank danamon, bank central asia dan bank umum nasional sepanjang triwulan i tahun 1990 meraih laba besar. masing-masing rp 12 milyar, rp 10 milyar & rp 8 milyar. lalu sejumlah bank kecil cemas.

i
KURS saham bank di Bursa Efek Jakarta boleh saja mendatar atau bahkan menukik. Tapi jangan sekali-kali mengira bahwa bank yang go public itu terancam rugi. Setidaknya untuk tahun ini, bank-bank menuai panen besar. Gemah ripah. Ini bisa dilihat dari laba yang mereka raih sepanjang triwulan I tahun 1990. Angka-angka itu membuat orang berdecak. Bagaimana tidak? Keuntungan yang diperoleh beberapa bank sepanjang triwulan pertama tersebut ternyata lebih besar jika dibandingkan laba seluruhnya yang bisa diraup sepanjang tahun 1989. Bahkan ada beberapa bankir yang berani memproyeksikan laba mereka tahun ini bisa tiga sampai empat kali lipat, jika dibandingkan tahun sebelumnya. Danamon, contohnya. Bank yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Usman Admadjaja ini, tahun lalu, hanya melaba Rp 17 milyar. Memang, jika dibandingkan dengan keuntungan 1988, yang cuma Rp 5 milyar, angka itu mencatat kenaikan 240%. Tapi jumlah itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan laba sebesar Rp 12 milyar, yang bisa diraih Danamon pada triwulan pertama tahun ini. Artinya, 70% laba tahun lalu kini bisa terkumpul hanya dalam waktu tiga bulan. Dengan dana kuat, tidak berlebihan kalau manajemen Danamon memproyeksikan laba 1990 sebesar Rp 80 milyar. Atau naik sekitar 370% dari keuntungan tahun 1989. Atau paling tidak, "Tahun ini kami bisa meraih tiga kali lipat lebih besar dari tahun lalu," kata Nienie Narwastu Admadjaja, Wakil Presdir Danamon. Menurut Nienie, perkiraan laba yang begitu besar memang terasa berlebihan. Tapi bukan berarti tidak mungkin. Katanya, "Inilah saat yang tepat untuk memanen buah Pakto." Yang dimaksud Nienie ialah Paket Kebijaksanaan Oktober 1988. Dan pernyataan ini sesuai dengan kenyataan obyektif. Setidaknya, dengan Pakto, Danamon membuat berbagai terobosan. Sejak kebijaksanaan itu turun, bank ini sudah menambah cabangnya menjadi 76 -- sebelumnya hanya memiliki 5 cabang. Dan jumlah itu, kata Nienie, akan bertambah lagi menjadi 100 cabang di bulan Juni depan. Kabarnya, dari cabang-cabang yang baru itulah Danamon memperoleh tambahan laba yang cukup banyak. Soalnya, menurut Nienie, dengan semakin besarnya volume usaha, fixed cost per unit pun bisa ditekan menjadi lebih rendah. Apalagi, tidak sedikit cabang Danamon yang didirikan di daerah-daerah yang sepi pesaing, seperti di Merauke. "Kami memang bukan bank nomor satu, tapi kantor cabang kami lebih merata," katanya. Hanya karena pertambahan cabang? Ternyata tidak. Perubahan status dari bank umum menjadi bank devisa (November 1988) itu pun tidak sedikit menyumbangkan laba pada Danamon. Kegiatan ekspor-impor yang ditanganinya tiap bulan rata-rata mencapai 170 juta dolar sebulan, atau sekitar Rp 306 milyar. Terakhir pekan lalu di Singapura, Danamon mengeluarkan 25 juta floating rate certificate of deposit -- lagi satu instrumen yang berguna untuk menghimpun dolar yang diperlukan Danamon bagi para nasabahnya. Selanjutnya, Danamon akan go international, dengan membuka cabang di Singapura dan Hong Kong, tahun ini juga. Antara tahun 1991 dan 1992, beberapa cabang Danamon akan bisa ditemukan di Seoul, Taipei, New York, dan Sydney. Persiapan ke arah itu kini sedang dimatangkan. Memang, sejak Pakto, gara-gara persaingan yang semakin ketat, margin bank tidak lagi sebesar dulu. Kini, paling banter hanya sekitar 3% -- sebelumnya bisa mencapai 7%. "Tapi itu kami imbangi dengan memunculkan produk-produk baru. Sehingga, kami tetap bisa memperoleh dana murah yang cukup," kata Nienie. Danamon, misalnya, kini memiliki tabungan-tabungan berjangka seperti Primadana, Primadollar, dan Primagold. Tidak segemilang Danamon, BCA, sang raja bank swasta, pada triwulan pertama 1990 meraih untung Rp 10 milyar -- triwulan I tahun sebelumnya BCA melaba Rp 8 milyar. Sumber laba itu tak lain dari perluasan jaringan BCA -- semula 60 (sebelum Pakto), menjadi 225 kantor. "Semua cabang kami kini telah mengalirkan keuntungan," kata Abdullah Ali, Presdir BCA. Tapi Abdullah tidak setuju kalau disebutkan bahwa keuntungan melonjak karena banyaknya dana murah yang tersedot. "Saya kira persoalannya bukan di situ," katanya. Lantas karena apa? Dengan lugas Abdullah menjawab, bank-bank mampu melaba besar lantaran sejak pertengahan tahun lalu perekonomian Indonesia mengalami boom. Indikasinya bisa dilihat dari penjualan mobil yang cukup laris. Nah, karena meningkatnya kegiatan perdagangan itulah, pendapatan bank dari provisi, jasa transfer, dan jasa L/C meningkat pesat. "Jadi, yang menggerakkan bisnis bank sebenarnya bukanlah deposito, atau dana murah yang diperoleh dari tabungan seperti Tahapan, melainkan besarnya giro," kata Abdullah. Pendapat pucuk pimpinan BCA ini dibenarkan oleh Binhadi, Direktur Bank Indonesia. "Dengan meningkatnya volume ekspor, maka fee yang diperoleh bank dari L/C pun dengan sendirinya akan naik," katanya. Benarkah naiknya keuntungan bank hanya semata karena meingkatnya volume perdagangan? Manajemen Bank Umum Nasional (BUN), yang tahun lalu menduduki peringkat ketiga dalam hal aset, punya pendapat lain. Menurut S. Ranty, Direktur Eksekutif BUN, meledaknya keuntungan yang diperoleh beberapa bank tersebut haruslah dilihat dari sisi apakah bank itu sudah go public atau belum. Sebab, kata Ranty, kalau ternyata bank yang bersangkutan sudah terjun ke pasar modal, maka sebesar apa pun kenaikan laba yang diperolehnya, itu bukanlah kejutan. Bagaimana tidak. "Kalau struktur dana murahnya membesar, kan otomatis labanya pun akan meningkat," begitu pertimbangan Ranty. Mengapa? Tak lain karena dana yang diperoleh dari pasar modal sama sekali tidak terkena beban bunga. Itulah sebabnya, tak lama lagi -- kalau jadi akhir bulan ini -- BUN pun berniat mencari tambahan modal Rp 72 milyar dari bursa saham. Ini penting, karena jika tidak didukung oleh permodalan yang cukup, "Kami akan kalah bersaing," kata Ranty. BUN sendiri sebenarnya belum sampai kalah dalam kompetisi. Labanya pada triwulan I tahun ini tercatat Rp 8 milyar -- ada kenaikan Rp 3 milyar, jika dibandingkan laba rata-rata per triwulan tahun lalu, yang sekitar Rp 5 milyar. Nah, bank besar bisa bertenang diri, lain halnya bank-bank papan menengah ke bawah. "Bank kecil belakangan ini mulai gerah," ujar Ranty. Memang, sampai saat ini, mereka masih bisa mengecap laba. Namun, persaingan yang semakin ketat di antara bank-bank besar telah membuat bankir teri kebat-kebit. Dan bila tak kuat, akhirnya mengundurkan diri. Contohnya Bank Sukapura, yang diambil alih oleh Bank Industri. Dalam pandangan Ranty, kejadian seperti ini -- pencaplokan bank kecil oleh bank besar -- masih akan terus berlangsung. "Saya dengar, ada beberapa bank kecil lainnya yang tak lama lagi akan pindah tangan," ujarnya tanpa merinci. Semakin jelas bahwa persaingan yang terjadi di kalangan perbankan sudah mulai ekstra ketat. Dan yang paling diuntungkan dalam suasana seperti itu, siapa lagi kalau bukan masyarakat konsumen. Dulu, untuk mendapatkan pelayanan dari bank, nasabah harus membayar mahal. Tapi kini roda perubahan membawa nasabah ke posisi yang mujur. Makanya, keuntungan yang dikutip oleh bank semakin tipis. Contoh yang paling tampak adalah persentase provisi yang dikutip bank. Sebelum "berdesak-desakan" seperti sekarang, pada setiap transaksi, bank biasanya mengutip provisi 1%. "Kini, untuk mencari 0,25% pun, bersaingnya sudah setengah mati," kata Ranty. Maka, wajarlah kalau banyak bankir yang menganggap bisnis perbankan lebih cerah sebelum "Orde Pakto". "Sebelum Pakto, yang memperebutkan kue tidak terlalu banyak," demikian Ranty. Sekarang, ke mana pun Anda memandang, di situ terlihat bank. Budi Kusumah dan Bambang Aji

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161833155660



Ekonomi dan Bisnis 12/12

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.