Catatan Pinggir Goenawan Mohamad: Hitam - Catatan Pinggir - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya
text

Hitam

Membangun kontras dari dikotomi “Eropa vs Afrika”, “intelek vs intuisi”, “Putih vs Hitam”, mudah terjerumus jadi menyederhanakan sebuah persoalan yang kompleks.

i Hitam
Hitam

KOLONIALISME, setidaknya sampai dengan 1945, sama dengan dunia modern: mesin, modal, militer, warna kulit yang disebut “putih”, bangsa yang menemukan sains, entrepreneur yang menjelajahi bumi.

Di bawah kekuasaannya, merunduk manusia dengan pelbagai pigmen kulit. Terutama Hitam: warna yang, seperti selimut gelap, meliputi, melindungi, mempertautkan, menandai, dan melambangkan mereka yang dipaksa diletakkan di luar pagar.

Dan itu tercatat jauh sebelum terdengar suara berseru, beramai-ramai, dari mana-mana, Black lives matter! Di sekitar tahun 1956, ketika Nelson Mandela sedang menggerakkan perlawanannya menentang penguasa Kulit Putih di Afrika Selatan, Subagio Sastrowardoyo menulis sajak yang menyentak ini:


…Orang putih bersorak: “Hosanah!”

Dan ramai berarak ke sorga

Tapi kulitku hitam.

Dan sorga bukan tempatku berdiam.

bumi hitam

iblis hitam

dosa hitam

Karena itu:

aku bumi lata

aku iblis laknat

aku dosa melekat

aku sampah di tengah jalan.

Mereka membuat rel dan sepur

hotel dan kapal terbang

Mereka membuat sekolah dan kantorpos

gereja dan restoran.

Tapi tidak buatku.

Tidak buatku.

Segregasi adalah penindasan. Disisihkan dalam kehidupan—atau bahkan dari kehidupan—Hitam pun takluk. Atau sebaliknya, justru menegaskan diri, dengan tegak, sebagai subyek yang berbeda.

Ketika hidup di Prancis sejak 1928, Léopold Sédar Senghor, pemikir dan penyair dari Senegal, seraya menanggungkan pelbagai tekanan diskriminasi, merumuskan konsep “négritude”. Ia ingin menegaskan sikap dan pandangan hidup yang mengakui bahwa “kita hitam, nasib diri kita sebagai bangsa Hitam, sejarah kita, kebudayaan kita”. Senghor mengubah sebutan négre yang dipakai orang Prancis untuk menghina jadi kata yang diucapkan dengan bangga.

Senghor seseorang yang istimewa. Ia aktivis politik yang kemudian jadi Presiden Senegal pertama setelah merdeka dari penjajahan Prancis, kedudukan yang ia jabat selama 20 tahun. Ia juga cendekiawan Afrika pertama yang diangkat sebagai anggota Academie Française, lembaga para empu kebudayaan yang berdiri sejak abad ke-17. Ia lulusan perguruan elite di negeri penjajahnya, meresapkan dunia sastra dan pemikirannya.

Senghor jadi warga negara Prancis di tahun 1932. Dalam Perang Dunia II, ia bahkan masuk ketentaraan. Di tahun 1940 ia tertangkap pasukan Jerman.

Dalam tahanan yang berpindah-pindah itu, ia menulis puisinya—dengan warna surealis yang mempesona: dalam semangat surealisme masa itu, yang dipelopori penyair komunis Andre Breton, pembebasan politik bertaut dengan pembebasan puitik, dan persentuhan antara “aku“ dan “engkau“ bukan dibentuk konsensus intelektual, melainkan dengan intuisi dan getaran simpati.

Dalam sebuah sajaknya, ia bertemu dengan seorang prajurit Negro-Amerika di sebuah sel tahanan bersama. Senghor tak mengenali orang asing dengan seragam murung itu: Je ne vous ai pas reconnus sous votre prison d’uniformes couleur de tristesse. Frasa “aku tak mengenalmu” itu disebutnya berulang-ulang, sampai pada satu bait baru:

Di bawah wajahmu yang tertutup, aku tak mengenalmu

Hanya kusentuh tangan cokelatmu yang hangat

Aku panggil diriku, “Afrika!”

Dan kutemukan kembali ketawa yang lenyap,

Kupanggil suara purba dan jeram Kongo yang mengaum

Bisa kita dapatkan di sini apa yang jadi thema pemikiran Senghor: dunia dan orang lain tak ditangkap dengan akal, tapi dengan intuisi dan sentuhan, tak didekati dari luar, tapi diresapi ke dalam. Di situlah, kata Senghor, yang membedakan négritude dari tatapan Eropa.

Di sini tampak pengaruh pandangan dikotomis Bergson pada penyair Senegal ini. Ketika Senghor menyebut “revolusi 1889”, ia—seperti ditunjukkan Clevis Headley dalam salah satu bagian Beyond Bergson: Examining Race and Colonialism through the Writings of Henri Bergson (SUNY Series, 2019)—menyambut antusias kritik Bergson kepada pemikiran ala sains yang menguasai peradaban Eropa. Pemikiran ini, dengan “intelek”, menampilkan alam dan manusia hanya dalam abstraksi.

Bagi Senghor, orang Eropa, setidaknya sampai abad ke-20, cenderung memisahkan diri dari alam dan liyan untuk bisa membedah dan mengurainya, atau “mematikannya, dan mematoknya dalam analisis agar bisa dipergunakan dalam praktik”. Sementara itu, “daya vital orang Negro Afrika” berbeda; ia digerakkan nalar “sentuhan”, atau simpati, bahkan nalar yang “memeluk”. Alam dengan demikian tak ditaklukkan, juga manusia lain.

Membangun kontras dari dikotomi “Eropa vs Afrika”, “intelek vs intuisi”, “Putih vs Hitam”, mudah terjerumus jadi menyederhanakan sebuah persoalan yang kompleks. Bahkan mengunggulkan apa yang “Afrika” (“Hitam”) bisa menggantikan rasisme lama dengan rasisme baru.

Tapi pemikiran Senghor juga bisa dilihat sebagai suara yang menampik cara memandang alam dan manusia secara rasionalistis, yang akhirnya membentuk hierarki subyek di atas obyek.

Senghor menolak itu. Ia hendak menampilkan apa yang universal, ketika memujikan “nalar yang memeluk” liyan—sebagai antithesis penaklukan modal, mesin, militer: kolonialisme modern. Pikirannya, puisinya, bagian tak terlupakan pembebasan manusia.

 

GOENAWAN MOHAMAD

Silahkan Login / Register untuk melanjutkan membaca artikel ini.
Anda akan mendapatkan 4 artikel gratis setelah Register.

2020-09-21 22:52:26

Catatan Pinggir Goenawan Mohamad

Catatan Pinggir 1/1

Sebelumnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.