Sekeping Mozaik Sepanjang Ingatan - Buku - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sekeping Mozaik Sepanjang Ingatan

Satu lagi eks tahanan politik Pulau Buru menulis memoar. Masih banyak yang belum terungkap.

i

Memoar Pulau Buru
Penulis: Hersri Setiawan
Prolog: Prof. Dr. Saparinah Sadli
Epilog: Dr. Asvi Warman Adam
Penerbit: INDONESIATERA, Magelang, 2004
Tebal: xix + 615 halaman.

PULANG bertugas dari Biro Pengarang Asia Afrika di Kolombo, Sri Lanka, 24 Agustus 1965, Setiawan Hs. melapor ke dua alamat: Cidurian 19 dan Kramat Raya 81. Yang pertama adalah kantor Sekretariat Pimpinan Pusat Lembaga Kebudayaan Rakyat (SPP-Lekra), sedangkan yang kedua kantor Comite Central Partai Komunis Indonesia (CC-PKI). Baru 37 hari ia di Jakarta, meletus Gerakan 30 September (G30S).

Setiawan, yang masih bingung akan situasi Tanah Air yang ditinggalkannya hampir lima tahun, mulai main kucing-kucingan sambil kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta. Sejak itu ia lebih dikenal sebagai Hersri. Pada 1969 ia ditangkap, ditahan di Penjara Salemba dan Tangerang, dan tiga tahun kemudian dikirim ke Pulau Buru. Sekitar tujuh tahun di sana, ia "dikembalikan ke masyarakat".


Memoar ini ditulisnya di Negeri Belanda, tempat ia mukim bersama (mendiang) istri dan anak perempuannya, sejak 1987. Diracik berdasarkan catatan-catatan lepas, dan terutama mengandalkan ingatan, Hersri, yang sebelumnya dikenal sebagai penyair dan penulis produktif, bertutur dengan lancar dan runut. Ia tak berusaha mendramatisasi penderitaannya, juga tak menyiratkan dendam berlebihan terhadap kekuasaan yang memasungnya.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTE6MjM6NDkiXQ

Sebagai satu di antara penulis buku Sejarah Tentara Nasional Indonesia Komando Daerah Militer VII Diponegoro, 1959-1961, Hersri tak mengalami kesulitan menulis sesuatu yang bersifat "tarikh". Kelemahan buku ini justru terletak pada keberanian Hersri yang berlebihan mengandalkan ingatan. Akibatnya, banyak hal tidak akurat sehingga bisa menyesatkan khalayak—terutama para penulis dan peneliti—yang ingin menjadikan buku ini sebagai rujukan.

Hersri, misalnya, menyatakan lebih dari 120 ribu tahanan politik dideportasi dari Jawa ke Buru, sejak 1968 (hlm. 17). Padahal, "deportasi" pertama baru dilakukan pada 1969 ("Angkatan Pramoedya Ananta Toer"), dan jumlah tahanan politik yang dibuang ke Pulau Buru "cuma" sekitar 12 ribu. Berkali-kali ia menyebut "Unit XVI/Indragiri" untuk unit yang sesungguhnya bernama "Indrakarya".

Ia juga menyebut Lettu CPM Mardjuki sebagai Komandan Kamp Salemba dan Mayor Saniganja (sebetulnya Sani Gonjo; pen.) sebagai Komandan Kamp Tangerang (hlm. 36-37). Padahal Sani Gonjo mengepalai baik Kamp Salemba maupun Kamp Tangerang, sedangkan Lettu Mardjuki adalah perwira intelijen di Kamp Salemba. Kadang CGMI ditulisnya sebagai singkatan Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (hlm. 56), kadang sebagai Corps Gerakan Mahasiswa Indonesia (hlm. 65).

Di tempat lain, Hersri menyebut S. Effendi sebagai "penyanyi Malaysia" dan Paulina Robot (sebetulnya Norma Sanger; pen.) sebagai penembang lagu Si Gembala Sapi (hlm. 206). Sebagai penggiat kebudayaan, tak seyogianya Hersri tersandung kekeliruan seperti itu. Apalagi ketika ia menyatakan repertoar Batu Merah Lembah Merapi pernah difilmkan oleh sutradara Tan Hsing Hwat (hlm. 209). Sandiwara satu babak karya Bachtiar Siagian itu belum pernah diangkat ke layar perak!

Meski "daftar kekeliruan" ini lumayan mengganggu, Memoar tetap layak dianggap sebagai sekeping mozaik dari lembaran hitam sejarah penganiayaan terhadap kemanusiaan yang dilakukan rezim Orde Baru. Khusus tentang Pulau Buru, Hersri seperti melengkapi dua buku terdahulu, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (Pramoedya Ananta Toer, 1995), dan Dari Salemba ke Pulau Buru (Kresno Saroso, 2003).

Dengan ketiga buku itu pun, sebetulnya, Buru belum sepenuhnya terungkap. Masih ada pertanyaan di sekitar "pembubaran Unit IX", dan "peristiwa Unit II/Wanareja" ketika 200-an tahanan politik melarikan diri disusul perburuan panjang yang menimbulkan banyak korban. Masih diharapkan sejumlah memoar lagi dari para eks tahanan politik Pulau Buru, dengan catatan tak semata-mata mengandalkan ingatan. Penerbit juga diharapkan menyunting ketat naskah-naskah memoar seperti ini, kalau perlu melakukan check & recheck—sehingga nila setitik tak sampai merusak susu sebelanga.

Amarzan Loebis

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 11:23:49


Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB