Replika Dunia di Jaringan Maya - Gaya Hidup - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Gaya Hidup 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Replika Dunia di Jaringan Maya

Komunitas maya semakin mendapat tempat sebagai sarana pergaulan zaman sekarang. Inilah cermin kehidupan nyata.

i

Bolehlah kita sebut dia "ratu milis". Anne Aranolein Lumos, 29 tahun, mondar-mandir menyambangi 25 forum diskusi dunia maya atau milis (mailing list). Ia mengasuh sendiri lebih dari selusin milis, dari komunitas alumni sampai aneka rupa hobi. Paling seru bagi dia adalah mengelola milis penggemar Harry Potter. "Mirip dunia Peter Pan," kata Anne, "Semua orang ingin kembali merasakan nikmatnya jadi anak kecil."

Inilah jagat Peter Pan versi Anne, yang berprofesi perancang situs. Anggota milis Indo-HarryPotter, yang berjumlah 586 orang?rentang usianya dari 10 tahun sampai 30-an tahun?tak pernah kesulitan berkomunikasi dalam bahasa khas HP yang aneh-aneh. Yup, totalus rebuildwebus! Artinya, situs khusus penggemar buku karya J.K. Rowling ini sedang disempurnakan.

Tidak jarang pula anggota milis dengan penuh semangat memberi nama-nama berbau Harry Potter buat anak mereka yang baru lahir. Walhasil, ada bayi yang diberi nama Hermione, Radcliff, juga Josh, yang tak lain adalah nama teman-teman tokoh khayalan J.K. Rowling itu. Suasana milis sudah tentu riuh menyambut kedatangan bayi-bayi dengan nama dari negeri khayali ini.


Berikutnya, kita juga punya Onno W. Purbo, yang layak menyandang julukan "raja milis". Tidak tanggung-tanggung, ahli teknologi informasi ini menjadi anggota 100 milis. Setiap harinya Onno menerima 600 sampai 1.000 surat elektronik yang harus dipelototi 2 sampai 3 jam. Tidak sedikit juga pertanyaan dalam milis yang harus ia jawab. "Kalau enggak dijawab, bisa berabe. Orang bisa enggak percaya lagi sama gua," katanya.

W251bGwsIjIwMjAtMTEtMjUgMTI6NTg6MTciXQ

Memang, milis adalah keniscayaan dunia modern. Di Indonesia, sarana saling tukar kabar di Internet ini mulai berkembang tahun 1987-1988. Kala itu pelopornya adalah indonesians@janus.berkeley.edu, yang dimotori mahasiswa Indonesia di Berkeley, Amerika Serikat. Mailing list ini kemudian diikuti oleh islam@isnet.org dan apakabar@clark.net, yang sempat amat populer sebagai ajang diskusi situasi politik mutakhir.

Bumi terus berputar. Teknologi komputer dan Internet yang kian maju serta lebih terjangkau membuat pamor milis makin kinclong. Lebih-lebih, pada tahun 2000, Yahoo menyediakan fasilitas pembentukan milis. Cukup masuk situs http://groups.yahoo.com, tekan tombol "start a new group" dan isi beberapa kolom informasi, kita bisa menciptakan forum diskusi virtual sesuai dengan selera. Gratis pula. Tak ada keraguan, inilah yang mendorong perkembangbiakan milis di seluruh dunia.

Akhir tahun 2001, Onno menggelar penelitian tentang potret komunitas dunia maya di Indonesia. Dia mendeteksi sedikitnya 50 ribu milis berbahasa Indonesia tersebar di Internet. "Gila! Dua bulan penuh, hampir 24 jam sehari, saya terus melototin komputer," tuturnya. Tidak kurang dari 25 ribu milis telah dievaluasi?beruntung mata Onno tidak jadi belekan. Kemudian, 1.170 milis (4,5 persen) yang beranggotakan lebih dari 100 orang, ada juga yang punya 8.000 anggota, dipilih untuk dikaji lebih mendalam.

Hasilnya, Onno mencatat komunitas maya yang bertema silaturahmi dan pergaulan sosial?milis alumni, warga, kerabat, kedaerahan?menyedot paling banyak peminat. Milis jenis ini menduduki peringkat teratas (27,7 persen) dari 1.170 milis yang dikaji Onno dengan serius. Forum diskusi pengetahuan, terutama bidang teknik komputer, ada di peringkat kedua (20,9 persen). Peringkat ketiga (14,9 persen) adalah komunitas bisnis virtual seperti informasi ekspor-impor atau lowongan pekerjaan.

Anehnya, milis berbau pornografi tidak terlalu banyak diminati dan hanya mencatat angka 6,2 persen. "Cukup mengejutkan," kata Onno. Ini berbeda dengan anggapan masyarakat bahwa komunitas Internet adalah surga bagi mereka yang suka membicarakan pornografi. Mengapa demikian? "Mungkin karena sudah banyak tersedia VCD porno," kata Onno. Cukup dengan Rp 5.000, seseorang sudah bisa menikmati adegan syur dari sekeping VCD tanpa perlu repot mengakses Internet.

Memang riset Onno sudah berumur dua tahun. Namun tampaknya hasil riset itu mewakili potret milis di Indonesia. Survei sepintas yang dilakukan TEMPO menunjukkan milis-milis berbau porno hanya diramaikan puluhan orang. Paling top adalah milis Pijat Cabul, yang memiliki seribu anggota. Bandingkan dengan komunitas Pasarbuku, yang punya 3.000 anggota, dan fotografer.net, dengan 20 ribu anggota.

Apa gerangan yang membikin orang mencandu komunitas maya? Agaknya lalu-lintas e-mail dengan suguhan topik segar, lucu, unik, dan inspiratif adalah kunci pengikat. Sebaliknya, milis yang cuma berisi tema-tema monoton, kadang menggurui, kurang greget, pasti kesulitan mempertahankan para anggota agar tetap setia.

Pertemuan offline atau kopi darat adalah resep lain. Seperti lem super, reriungan di dunia nyata bekerja dengan jitu mengakrabkan anggota milis.

Pekan lalu, misalnya, milis Jejak Petualang?yang disponsori TV7?menggelar kopi darat di Kafe Tenda Semanggi, Jakarta. Puluhan anggota milis datang, berkenalan, serta mengobrol tentang berbagai petualangan seru. Riyanni Djangkaru, presenter acara Jejak Petualang yang ditayangkan TV7, turut memeriahkan kopi darat. "Wah, gue ngiri banget sama Riyanni. Gue datang ke sini sengaja untuk ketemu dia," kata Nina, anggota milis. Rasa cemburu yang bisa dimaklumi. Hari-hari Riyanni memang penuh warna. Dia berkesempatan menembus jantung hutan-hutan, mendaki puncak gunung, juga mengunjungi suku-suku terasing di pelosok Nusantara.

Kopi darat juga resep Jalansutra, yang dikomandani Bondan Winarno, wartawan dan penulis senior. Milis orang-orang yang gandrung jalan-jalan ini giat mengadakan temu off-line. Kadang mereka bertemu di restoran, kafe, warung sate pinggir jalan, bahkan bareng-bareng berwisata kuliner ke Bali dan Kuala Lumpur.

Komunitas Indo-HarryPotter setali tiga uang. Sejak awal didirikan, Oktober 2001, milis ini sudah menggelar tujuh kali kopi darat. Dua pekan lagi, milis ini akan melaksanakan jumpa darat yang kedelapan kalinya di sebuah kafe di Jakarta Selatan. "Sekarang kami sedang sibuk nyiapin tongkat sihir untuk dibagikan kepada peserta kopi darat," kata Anne, si ratu milis yang juga moderator Indo-HarryPotter.

Sedikit berbeda, milis Pasarbuku tidak berniat menggelar kopi darat secara serius. "Repot," kata Wien Muldian, moderator Pasarbuku. Milis yang satu ini cukup aktif dengan lalu-lintas 400-500 e-mail per bulan. Anggotanya 3.000 orang dan yang aktif 2.000 orang. Jumlah yang sebegitu besar tentu tidak memungkinkan penyelenggaraan kopi darat yang tertata rapi. Sebagai gantinya, para anggota kerap mendatangi berbagai arena pameran buku, misalnya Jatinangor Book Fair, untuk bertemu secara informal.

Kristupa Saragih, fotografer yang mengelola website plus milis fotografer.net atau FN, juga tak pernah merancang ajang temu darat. Maklumlah, milis yang baru berumur satu setengah tahun ini punya 20 ribu anggota dan yang lumayan aktif sekitar 9.000 orang. Pasti butuh kepanitiaan serius untuk mempertemukan mereka semua dalam satu acara.

Sejauh ini, Kristupa melanjutkan, kopi darat FN hanya bersifat kebetulan. "Makan atau berburu foto bareng," katanya. Lokasi perburuan bisa Bromo, Kampung Badui, Bali, atau sudut-sudut unik Jakarta. Tak dinyana tak diduga, peserta kegiatan hunting foto datang dari berbagai kota di Indonesia, bahkan dari Singapura, Malaysia, dan Filipina. Walhasil, "Terjadilah kopi darat yang tak disengaja," ujarnya.

Kristupa menambahkan, milis tak ubahnya replika dunia nyata. Para anggotanya butuh komunitas sejenis, tempat untuk mengobrol, guyonan, dan bertukar ilmu. Persis seperti halnya komunitas konvensional di kampung dan desa. Bedanya, kampung dunia maya lebih terbuka, tidak pandang kaya-miskin, ganteng-jelek, pintar-amatir. Pesertanya pun tak dibatasi jarak. Asal tersedia koneksi Internet, si Fulan yang tinggal di kampung yang namanya tak tercantum di peta juga bisa bergabung.

Seperti dunia nyata, komunitas virtual berpotensi menampilkan sosok-sosok pemimpin. Mereka yang rajin melempar komentar bernas, diskusi yang bermutu, akan mendapat respek dari para anggota yang lain. Kepiawaian dan kompetensi seseorang pada suatu bidang akan diuji melalui komentar-komentar yang berseliweran di milis.

Juga layaknya kehidupan nyata, tidak jarang surat elektronik yang masuk berisi makian, umpatan, iklan ngawur, bahkan hasutan. Wien Muldian, moderator Pasarbuku, biasanya memilih membiarkan saja perdebatan heboh yang berlangsung di milis. Peringatan baru diberikan jika perdebatan sudah menyangkut SARA. Soalnya, "Perselisihan justru bumbu yang bikin milis jadi tambah seru," kata Wien.

Lagi pula, bukankah dunia nyata juga tidak selalu mulus dan indah?

Mardiyah Chamim, M. Fasabeni, Nurhayati (TNR)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 12:58:24


Gaya Hidup 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB