Senyum yang Menyakitkan - Hukum - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Hukum 1/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Senyum yang Menyakitkan

Para penganiaya Wahyu Hidayat, mahasiswa STPDN, hanya divonis 7-10 bulan penjara. Mereka dinilai tidak terbukti membunuh.

i
TUBUH-Tubuh tegap berambut cepak beriringan keluar dari ruang sidang utama Pengadilan Negeri Sumedang, Jawa Barat, Kamis petang pekan lalu. Kepala mereka tertunduk tanpa mengucap sepatah kata pun. Tapi di halaman pengadilan, ekspresi kegembiraan mencuat. Ketika rekannya memberikan ucapan selamat, senyum mengembang dari wajah-wajah belia itu. Kebahagiaan yang tak dapat disembunyikan itu meruap setelah majelis hakim yang diketuai Agung Raharjo memvonis mereka. Didakwa menganiaya adik kelasnya, Wahyu Hidayat, mahasiswa tingkat II Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), sebanyak delapan pemuda dijatuhi hukuman masing-masing 10 bulan penjara. Kedelapan terdakwa adalah Dekky Susandi (21 tahun), Oktoviano Minang Santoso (22), Gema Awal Ramadhan (21), Yopi Maulana Abdillah (21), Dena Rekhta Febrianto (20), Bangun Robinson Napitupulu (20), Dadang Hadisurya (21), dan Yayan Sopiyan (22 tahun). Penganiayaan terhadap Wahyu Hidayat, 20 tahun, terjadi pada 2 September tahun lalu sekitar pukul 23.00. Di sebuah lorong barak Kampus STPDN Jatinangor, ia dipukuli seniornya karena tidak mengikuti upacara HUT Kemerdekaan di Lapangan Gasibu Bandung. Wahyu juga dianggap lalai menyerahkan proposal kegiatan ke sejumlah alumni. Beberapa jam setelah dihajar, Wahyu dilaporkan tewas. Pimpinan STPDN telah menjatuhkan sanksi kepada para pelaku berupa penurunan tingkat dan pengurangan nilai kepribadian. Bahkan Hendi, Yayan, dan Dadang sempat diberi sanksi lebih berat, dipecat dari kampus. Tapi sanksi terhadap ketiga mahasiswa ini belakangan dicabut setelah mereka mengajukan banding. Di pengadilan, nasib para terdakwa pun cukup mujur. Hakim menyatakan para terdakwa terbukti bersama-sama menganiaya Wahyu Hidayat. Hanya, aksi ini dianggap tidak menyebabkan tewasnya korban. Putusan ini jauh lebih ringan dari tuntutan Jaksa Muhasan, yang meminta hakim menghukum selama lima tahun penjara. Pada hari itu, majelis hakim yang sama juga memutus perkara Hendi Setiyadi dan Sandra Rachman, dengan hukuman ringan: tujuh bulan penjara. Alasannya sama, penganiayaan tidak terbukti mengakibatkan Wahyu tewas. Padahal jaksa menuntut mereka cukup berat, hukuman tiga setengah tahun penjara, karena dinilai memberikan kesempatan dan sarana untuk melakukan penganiayaan. Majelis hakim berpendapat, Wahyu tewas karena perdarahan di kepala setelah jatuh membentur wastafel. Mereka mengakui peristiwa ini terjadi sesudah ia dipukuli ramai-ramai oleh seniornya. Tapi rupanya hakim tidak melihat adanya hubungan sebab-akibat secara langsung. Pendapat itu berbeda dengan keyakinan jaksa. Di mata Jaksa Muhasan, penganiayaan dan jatuhnya korban membentur wastafel, dua hal yang tidak terpisahkan. Dia yakin penganiayaan itulah yang menyebabkan Wahyu jatuh, lalu tewas. "Kami kesulitan mendapatkan bukti dan saksi karena para pelaku tutup mulut," ujar Muhasan. Ia juga menyatakan akan mengajukan banding atas putusan tersebut. Bagi para terdakwa, vonis itu melegakan. Mereka umumnya hanya perlu menjalani hukuman beberapa bulan lagi karena sudah ditahan sejak September lalu. Hendi, yang divonis tujuh bulan penjara, malah bisa langsung bebas karena dipotong masa tahanan. Sebaliknya, senyuman para terdakwa terasa menyakitkan buat orang tua Wahyu, yang tinggal di Bogor. Rosadah, ibu korban, berkali-kali menyatakan tidak mau menerima kematian Wahyu. Ayahnya, Syarif Hidayatullah, pun terpukul. "Vonis 10 bulan itu keterlaluan," ujarnya kepada TEMPO. Kendati amat kecewa, ia memilih pasrah. "Saya serahkan semua ini pada Allah, hanya Tuhan yang bisa adil," katanya. Endri Kurniawati, Rana Akbari (Sumedang), Deffan Purnama (Bogor)

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-11-25 12:46:33


Hukum 1/4

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB