Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Deburan hati seorang militer ...

Jakarta : pustaka sinar harapan,1988. resensi oleh : abdurrachman surjomihardjo.

i
PENGALAMAN adalah guru terbaik, demikian sebuah ungkapan. Dan ini berlaku bagi A.E. Kawilarang. Masa mudanya yang relatif teratur dan berkecukupan, sampai ia menamatkan sekolah menengah Belanda (HBS) di Bandung, terguncang oleh suasana Perang Dunia II, yang berlanjut sebagai Perang Pasifik. Mengikuti jejak sang ayah (Mayor KNIL, meninggal sebagai tawanan tentara Jepang), ia mauk dalam Korps Pendidikan Perwira Cadangan (CORO), dan kemudian meneruskan pada Akademi Militer Kerajaan (KMA) di Bandung pada 1941. Di situ ia disiapkan sebagai prajurit infanteri bersama A.H. Nasution, Rachmat Kartakusuma, dan lain-lain. Juga T.B. Simatupang termasuk angkatannya, yang disiapkan untuk prajurit zeni, dan Askari untuk artileri. Teman seangkatannya, Samsudarso, yang disiapkan untuk administrasi militer, menduduki pangkat mayor dalam TNI, dan terbunuh oleh PKI/Muso di Madiun pada 1948. Dalam masa pendidikan militernya, Kawilarang mengaku tidak sepintar teman-teman lainnya, khususnya untuk mata pelajaran yang bukan militer. Ia sering dikenai studi wajib, artinya sama dengan disekap di dalam kamar. Tetapi dalam mata pelajaran khusus militer, ia termasuk yang mendapat angka bagus, malahan dapat tanda istimewa sebagai satu-satunya murid di KMA yang lulus dengan predikat "ahli segala senjata" (meester in alle wapens). Artinya, mahir dalam teori dan praktek menggunakan anggar sabel, floret, dan senapan. Ketika Belanda menyerah kepada Jepang pada 8 Maret 1942, ia menjadi tawanan dan berhasil melarikan diri, bersembunyi di daerah perkebunan Serpong. Menyeberang ke Plaju Sungai Gerong untuk bekerja sebagai analis kimia. Ia memakai nama samaran Paat untuk menutupi masa lalu KNIL-nya. Di situlah ia melihat kekejaman tentara Jepang, yang sangat menusuk hatinya. Ia keluar dan menuju Lampung, dan di situlah ia berkesempatan berdiskusi dengan teman-temannya mengenai kemerdekaan, dan semangat nasionalismenya makin membara. Dia tidak percaya kepada janji-janji Jepang sampai pada 1943, ia ditangkap oleh Kenpeitai (polisi rahasia Jepang) dalam razia orang-orang Manado, Ambon, Indo, dan Belanda. Ia disiksa, digantung dengan mengikat pergelangan tangannya dengan tambang yang diikat pada sebuah tiang. Ia dipukuli dan kemudian disuruh minum air sebanyak mungkin. Dengan setengah lumpuh ia dikembalikan ke tempat kerjanya: sebuah pabrik vulkanisir ban. Setahun kemudian ia disiksa lagi dengan lebih hebat selama 40 hari ditahan, dan diminta keterangan yang bukan-bukan. Perkembangan di Jawa diikutinya dengan membaca surat kabar dan diskusi dengan teman-temannya, sampai tersiar berita Jepang menyerah kepada Sekutu dan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Ia mendengar perihal Undang-Undang Dasar Republik Indonesia dari Mr. Abas, yang beristrikan seorang Manado, Ani Manoppo. Ia terpilih sebagai Wakil Ketua Penjaga Keamanan Rakyat (PKR) di Lampung, bentuk awal dari badan perjuangan. Ia menyeberang lagi ke Jawa dan mulai mendengar ungkapan "keadaan genting", "pendaulatan", dan adanya Badan Keamanan Rakyat (BKR). Dalam perjalanan ia harus diperiksa oleh sekian pos dari mulai Merak sampai Jakarta. Dari situ menuju Yogyakarta dan bertemu dengan teman-teman lamanya dalam masa KNIL, antara lain dengan T.B. Simatupang dan perwira-perwira lain. Kemudian ia melapor kepada Jenderal Urip Sumohardjo, yang memerintahkan agar ia menuju Purwakarta melalui Tasikmalaya. Di situ bertemu dengan A.H. Nasution dan Rachmat Kartakusuma. Setelah bertugas tanpa pangkat, Kawilarang pada suatu hari berkunjung ke Kantor Penghubung Tentara di Jalan Cilacap 5, Jakarta, dan segera saja diberi pangkat kapten, tetapi sepuluh menit kemudian naik menjadi mayor karena ketahuan di KMA ia sekelas lebih tinggi dari Mokoginta, yang juga diberi pangkat kapten. Sejak itu ia mendapatkan tempat yang sesuai dengan pendidikan dan cita-citanya sebagai seorang militer. Krisis politik dan militer satu demi satu dilaluinya. Suasana pertempuran dialami terus-menerus. Krisis demi krisis dihadapinya: Hijrah ke Yogyakarta, dipindahkan ke Sumatera untuk melakukan "pembersihan". Reorganisasi sektor-sektor dijalankan untuk mencegah "perang saudara". Sementara Agresi II telah meletus lagi, ia bergerilya lagi, naik pangkat jadi kolonel, menjadi perunding militer, dipindahkan ke Makassar sehubungan dengan peristiwa Andi Azis, menumpas gerakan Republik Maluku Selatan (RMS), menghadapi Kahar Muzakkar. Akhirnya ia memimpin Siliwangi, menghadapi Darul Islam Kartosuwiryo, membentuk Kesatuan Komando cikal-bakal RPKAD, lalu menjaga keamanan Konferensi Asia Afrika. Pada 16 Agustus 1956 ia berhenti sebagai panglima Siliwangi. Dalam majalah Siliwangi ia mencatat: "Adalah nasib prajurit profesional untuk menanti, sebagian besar hidupnya dalam keadaan tak dikenal, datangnya krisis yang mungkin tak pernah terjadi. Adalah tugasnya untuk mengetahui bagaimana mengatasinya, bila hal itu terjadi. Adalah kewajibannya untuk mengorbankan segala sesuatu yang ada padanya." Tahap-tahap karier seorang militer profesional berakhir, ia kemudian menduduki pos atase militer di Washington, dan berhenti atas permintaan sendiri, ketika krisis politik dan militer pecah lagi. Ia mendukung Permesta, mengikuti "Deburan hatinya". Ini sebuah kisah yang menarik yang mengisi celah-celah suasana Revolusi Indonesia. Abdurrachman Surjomihardjo

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836162155



Buku 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.