Seni Rupa 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Eksperimentasi multimedia

Pementasan seni rupa teguh ostenrik merupakan eksperimentasi multi media. ia berusaha menyatukan lukisan dan karya instalasi dengan musik dan teater, sehingga tercipta ekspresi baru.

i
RUANGAN Teater Arena gelap ketika penonton masuk. Inilah awal pentas seni rupa Teguh Ostenrik yang menjadi inti pamerannya. Beberapa menit kemudian, muncul permainan cahaya. Mula-mula menyoroti beberapa pemain, kemudian elemen-elemen ruang yang tersebar di berbagai penjuru ruangan. Lalu terdengar "komposisi bunyi". Sementara itu, tata cahaya sedikit demi sedikit menerangi sebuah lukisan besar berukuran 2 X 9 meter. Di akhir pementasan, sorotan lampu tumpah ke lukisan berjudul Homo Sapiens Bertopeng ini. Teguh tidak bekerja sendiri. Sejumlah mahasiswa Institut Kesenian Jakarta membantunya membangun elemen-elemen ruang. Komponis muda Tony Prabowo mengolah aspek suara. Dan dalam penggarapan tata cahaya, Teguh bekerja sama dengan Andhi Nurcahyono. Pada pertunjukan yang memakan waktu sekitar setengah jam itu tampil pula beberapa pemain seperti dalam teater. Selain itu, seperti dalam kebanyakan teater avant garde, penonton dimaksudkan menjadi bagian integral dari pertunjukan. Pementasan Teguh itu adalah sebuah eksperimentasi multimedia, yaitu kecenderungan dalam seni kontemporer yang berusaha menghilangkan batas-batas media kesenian. Tujuannya, mencari ekspresi macam baru dengan jalan menggabungkan berbagai media ekspresi. Teguh berusaha menyatukan lukisan dan karya instalasi (keduanya tergolong seni rupa) dengan musik dan teater. Ia berhasil menggabungkan penampilan lukisannya dengan komposisi bunyi gubahan Tony. Letupari bunyi di sekeliling ruangan menguatkan kesan dramatik lukisan Homo Sapiens Bertopeng. Namun, "rekayasa seni" itu bukan perkara mudah, karena media-media yang ingin disatukan memiliki esensi ekspresi yang sangat berbeda. Diperlukan transformasi unsur-unsur media sebelum mengikatnya dengan tema. Karena itu, bisa dimengerti bila Teguh belum berhasil "menjinakkan" semua media dalam mencari ungkapan seni "multiekspresi" itu. Ekspresi pemain, misalnya (yang menyoroti wajah mereka dengan cahaya di awal pementasan), hanya bertahan beberapa menit dalam memperkuat tema. Sementara itu, peran karya instalasi (patung-patung figur raksasa dan onggokan api unggun yang dibuat dari potongan kayu-kayu bekas) berhenti pada komunikasi kognitif. Penonton menyadarinya sebagai salah satu simbol tema, bukan merasakannya sebagai bagian dari eskpresi keseluruhan. Jim Supangkat

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161836692210



Seni Rupa 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.