Pentas Teater di Tengah Corona: Syuting di Kuburan dan Jalan Kampung - Seni - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pentas Daring di Kuburan

Kamateatra Art Project dan Komunitas Teater Kaki Langit menghelat pertunjukan di ruang publik. Bertema pandemi corona, pentas ditayangkan di YouTube.

i Pentas Kamateatra Art Project dan Komunitas Teater Kaki Langit dalam judul Pandemi Paranoid 19 di kanal Youtube Kamateatra./Youtube.com
Pentas Kamateatra Art Project dan Komunitas Teater Kaki Langit dalam judul Pandemi Paranoid 19 di kanal Youtube Kamateatra./Youtube.com
  • Kamateatra kembali memanfaatkan platform digital untuk pentas. .
  • Pentas daring Kamateatra kembali mengambil tema virus corona.
  • Pentas daring Kamateatra berlangsung di ruang publik. .

DUA penampil, Muhammad Alief Sahrul Ashar dan Agra Hadi Abdurrachman, menggeliat sembari merangkak di jalan sebuah kompleks perumahan. Mereka mengenakan topeng bermuka seram, menguntit seorang perempuan (Ma’rifatul Latfah) yang mengenakan masker dan pelindung kepala. Kedua pria bertelanjang dada itu lantas beringsut ke jalan raya yang ramai orang. Mereka menyempil di tengah hilir-mudik kendaraan bermotor, menggerayangi jualan bakul sayur gerobak, merambah ke pasar dadakan yang buka saban subuh hingga pukul 8 pagi. Selagi mereka bergerak, dentum musik elektronik yang mencekam terdengar, seperti menebarkan teror.

Berikutnya, adegan berpindah ke sebuah kamar kos. Dengan pencahayaan redup dari lampu merah-hijau, kita berhadapan dengan ketiga penampil tadi yang tengah menunjukkan kondisi karantina diri. Sementara Alief dan Agra bergulat dengan pembatasan sosial—disimbolkan oleh jeratan garis polisi—Ma’rifatul tengah menyantap telur rebus lengkap dengan kulitnya. Ia melahapnya sembari menangis. Adapun tubuh kedua pria itu meliuk-liuk, berjoget luwes. Fragmen selanjutnya, mereka menjajaki lahan kuburan, meratapi kepergian entah siapa. Lalu kembali adegan berpindah, ke sebuah warung kopi yang sunyi pengunjung. Mereka kembali menari di sana.

Adegan-adegan itu adalah bagian dari pertunjukan teater Pandemi Paranoid 19 yang digarap Komunitas Teater Kaki Langit asal Surabaya bareng Kamateatra Art Project yang bermarkas di Malang, Jawa Timur. Namun, karena saat ini tengah ada aturan jaga jarak, pentas itu disiarkan secara daring (online) di akun YouTube Kamateatra pada Selasa petang, 21 April lalu. “Sebagai seniman, saya resah karena banyak produksi pertunjukan ditangguhkan, sementara ide terus lahir. Begitu pun hasrat untuk tetap berkarya di tengah pandemi,” ujar sutradara pentas sekaligus pemimpin Kamateatra, Anwari, Rabu, 22 April lalu.


Pentas Pandemi Paranoid 19 garapan sutradara Anwari di kanal Youtube Kamateatra./Youtube

Anwari menggali ide pentas ini dari keresahannya, juga fenomena yang dia tangkap di lingkungan sekitar dan media sosial. Ia melihat wabah ini menumbuhkan kepanikan yang berlebihan di tengah warga, dan ujung-ujungnya menimbulkan rasa curiga antarsesama. Pengamatan sosial itu melahirkan adegan yang merepresentasikan realitas, seperti saat Ma’rifatul memakan telur rebus di kamar kontrakannya. Adegan itu terilhami mitos dan hoaks di satu dusun di Sumenep, Jawa Timur, yang penduduknya percaya bahwa telur rebus bisa membentengi mereka dari penularan virus corona bila mengonsumsinya sebelum fajar.

Begitu pula babak di kuburan, yang menunjukkan bagaimana saat ini banyak orang merespons wabah Covid-19 dengan penolakan terhadap jenazah penderita penyakit tersebut. Ini menjadi janggal. Terlebih selama ini warga terbiasa dengan budaya gotong-royong. “Saya bolak-balik melintasi Sumenep-Surabaya-Malang untuk ikut merasakan dampak dan pengalaman sosial dari pandemi,” katanya.

Pentas Kamateatra dan Kaki Langit berlangsung di ruas jalan Kelurahan Lidah Wetan, Surabaya. Area permakaman dan warung kopi juga berlokasi di sana. Menurut Anwari, semula mereka berencana beraksi di pasar tradisional besar, tapi urung karena menimbang risiko keramaian. Walhasil, mereka menggelar street art di pasar dadakan dan merekamnya hanya dalam beberapa kali pengambilan gambar. Adapun latihan dilakukan di rumah masing-masing sehingga saat bertemu di lapangan tak perlu banyak penyesuaian gerak.

Suguhan daring ini membuat pentas teater mereka terasa menyerupai produksi film. Soal ini, Anwari menyebutkan memang pada akhirnya wadah digital menjadikan pentasnya bak film teater. Konsep ini sudah diakrabi Kamateatra, yang mulai berpentas secara digital tiga-empat bulan lalu. Sebelum teater Pandemi Paranoid 19, Kamateatra memproduksi beberapa pertunjukan digital. Salah satunya bertema para tenaga medis yang menjadi garda depan penanganan wabah virus corona.

Pentas Kamateatra Art Project dan Komunitas Teater Kaki Langit dalam judul Pandemi Paranoid 19 di kanal Youtube Kamateatra./Youtube.com

Walau pertunjukan anyarnya ini terlihat digarap lebih serius, sayangnya terlalu banyak hal yang dijejalkan Anwari. Walhasil, dalam pertunjukan yang berdurasi 17 menit saja, kita akan menelan banyak subtema yang membuat pesan tentang dampak corona menjadi kurang mendalam. Meski demikian, di tengah wabah ini, Kamateatra meniupkan lagi semangat memanfaatkan platform digital sebagai alternatif ruang berkesenian. Terlebih seniman tak lagi mudah berpentas di panggung dan dilarang mengumpulkan massa penonton.

Kolaborasi juga menjadi mungkin, seperti yang sudah dilakukan sejumlah seniman teater lain yang menggelar pertunjukan secara daring. “Dengan menghidupkan teater daring, kami juga sekaligus membuka kerja sama lintas disiplin. Misalnya guru atau sekolah menjadikan pentas kami sebagai bahan ajar dan diskusi, sementara kami sebagai seniman bisa belajar dari respons dan masukan mereka,” tutur Anwari.

ISMA SAVITRI

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-29 02:07:38


Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB