Demam Berdarah Pertama di Indonesia - Arsip - majalah.tempo.co | Situs Berita Online Indonesia - majalah.tempo.co

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Serangan Nyamuk Mesir

Laporan Tempo edisi 8 Januari 1977.

i Serangan Nyamuk Mesir/Tempo
Serangan Nyamuk Mesir/Tempo
  • Kasus demam berdarah pertama kali dilaporkan mewabah di Indonesia pada 1968. .
  • Demam berdarah sering muncul di musim hujan.
  • Pada 1976, demam berdarah pernah mewabah dan menyebabkan kepanikan di sejumlah daerah. .

DEMAM berdarah dengue kerap mewabah di musim hujan. Penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti itu pertama kali dilaporkan mewabah di Indonesia pada 1968 di Jakarta dan Surabaya. Saat itu, masyarakat lebih mengenal nyamuk hitam belang putih tersebut sebagai nyamuk Mesir.

Majalah Tempo menurunkan artikel bertajuk “Darah di Awal Musim Hujan” pada 8 Januari 1977 yang mengulas maraknya wabah demam berdarah kala itu.

Musim hujan bukan hanya berarti ambang rezeki buat para petani, tapi sering pula diiringi bencana penyakit. Hujan membuat genangan air di mana-mana, yang lantas menjadi sumber berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti atau nyamuk Mesir. Diberi gelar begitu karena nyamuk ini pertama kali ditemukan di Mesir sebagai biang keladi penyebar penyakit demam berdarah.


Nyamuk ini punya sifat yang khas dalam cara hidupnya. Ia hanya akan berkembang biak di genangan air yang tidak mengalir, seperti di pot bunga dan di kaleng-kaleng yang tertelentang di pekarangan. Pokoknya dalam bejana-bejana yang terlempar sembarangan di halaman. Jawa Tengah tertimpa bencana demam berdarah lebih parah dibandingkan dengan daerah lain. Sepanjang 1976, tercatat 932 penderita dengan 36 meninggal. Angka penderita terbanyak adalah pada Januari, Februari, Maret, dan November.

Kota Semarang dan sekitarnya merupakan daerah terparah. Kota tersebut memang tak seberapa tinggi dari permukaan air laut, hingga sedikit saja hujan turun akan membuat genangan di mana-mana. Usaha pencegahan sebenarnya sudah dilakukan dengan seru. Pada permulaan Desember bahkan ada rencana penyemprotan obat pembasmi nyamuk, malathion, dari pesawat udara. Koran dan stasiun radio setempat berulang-ulang memberi tahu masyarakat mengenai penyemprotan itu supaya mereka bersiap membukakan pintu begitu kabut malathion disemprotkan dari udara. Tapi rencana itu keesokan harinya terpaksa dibatalkan karena cuaca mendung terus dan di sana-sini turun gerimis. Akhirnya penyemprotan dilakukan menggunakan mobil penyemprot.

Di Jawa Tengah sepanjang tahun selalu ada korban demam berdarah. Malahan di daerah seperti Klaten, Sragen Karanganyar, dan Blora jumlah penderita bertambah. Daerah Yogyakarta juga tidak luput dari serangan nyamuk Mesir. Di Bantul saja tercatat 22 orang meninggal akibat demam berdarah. Pada Oktober lalu, di daerah ini ditemukan 39 penderita dengan satu orang meninggal. Bulan berikutnya jumlah itu melonjak menjadi 305 penderita, sembilan di antaranya meninggal. Jumlah penderita terus naik menjadi 324 orang pada Desember.

Naiknya angka penderita demam berdarah menyebabkan masyarakat Bantul panik. Setiap ada anak yang panas, kontan orang tua mereka membawanya ke rumah sakit, meski belum tentu menderita demam berdarah. Ini tentu saja satu sikap yang baik, tapi rumah sakit di sana menjadi sesak. Seperti di Rumah Sakit Jebugan yang terpaksa menambah ruangan dengan mengkaryakan emper rumah sakit. Sedangkan Rumah Sakit Ganjuran menyulap ruangan pertemuan menjadi bangsal dan memanfaatkan meja jadi tempat tidur.

Menurut dokter Tuti Irawati Sadono dari Rumah Sakit Saneta Elizabeth di Ganjuran, sebagian besar pasien demam berdarah bisa disembuhkan. “Penderita yang telanjur meninggal itu umumnya karena datang terlambat. Biasanya sudah dalam keadaan shocked (tak sadarkan diri).”

Penderita diobati dengan memasukkan cairan lewat pembuluh darah. Penderita yang tertolong biasanya harus menjalani pengobatan selama sepuluh hari dan ongkosnya sekitar Rp 6.000. Orang-orang kecil di Bantul, yang terletak sekitar 10 kilometer dari Yogyakarta, tentu saja tak kuat memikul beban ini. Sampai-sampai ada yang menggadaikan sepedanya, meskipun ditolak oleh petugas rumah sakit. “Khusus untuk demam berdarah, sekitar 30 penderita bebas biaya,” kata seorang petugas di Rumah Sakit Ganjuran. Saat rumah sakit penuh pasien, dinas kesehatan setempat juga bekerja keras membasmi nyamuk. Mereka melakukan penyemprotan di permukiman warga, menghabiskan 1.700 liter malathion.

Selalu ada yang tersembunyi di balik peristiwa. Investigasi Tempo menembus batas untuk mengungkapkannya buat Anda.
Silakan register untuk mendapatkan akses 4 artikel gratis, atau langsung berlangganan dan nikmati sajian informasi berkualitas khusus untuk Anda.

2020-09-29 02:32:24

Demam Berdarah

Arsip 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Hubungi Kami :

Alamat : Gedung TEMPO, Jl. Palmerah Barat No.8, Jakarta Selatan, 12210

Informasi Langganan :

Email : cs@tempo.co.id

Telepon : 021 50805999 || Senin - Jumat : Pkl 09.00 - 18.00 WIB

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2525 | 0882-1023-2343 | 0887-1146-002 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB

Informasi Lainnya :

Telp/SMS/WA : 0882-1030-2828 || Senin - Minggu : Pkl 08.00 - 22.00 WIB